
🌸 Bagian Jennie~
"Dia tidak hebat, justru malah biasa saja. Tapi dia bisa membuatku senang hanya dengan hal sederhana"
Dia yang ku maksud adalah Willy, pria menawan yang sudah menjalin kasih denganku selama 4 tahun walaupun putus beberapa kali. Kita tidak selamanya akur, juga tidak selamanya bermusuhan. Berkat Willy hari-hari ku menjadi lebih seru dan bermakna.
"Kangen nih, video call yuk." Isi pesan yang di kirim Willy via aplikasi chat.
Melihat kondisi yang sudah menghapus make up. Jadi aku balas, “tapi aku nya lagi jelek."
Dia membalas, “ya sudah enggak apa-apa, aku cari yang cantik saja."
Aku mengerti itu hanya sebuah lelucon, tapi aku tak bisa menerimanya. Mungkin entah saking sayangnya atau entah saking ingin baku hantam dengan dia, alhasil aku menghubunginya lebih dulu melalui panggilan video.
“Hei, kamu mau aku bacok??” tanya ku mengancamnya.
“Wahhh beneran ya, kamu jelek banget.” ejeknya menggoda penampilanku.
Semakin sebal dengannya. Aku berucap, “Kamu pikir, kamu ganteng? Muka di bawah KKM saja bangga!”
“Dihh lihat!" ucapnya memamerkan wajah. "Hidung sudah kayak perosotan, bibir sudah seksi begini dikata jelek.”
“Mami! ” teriak dia memanggil ibunya saat kami masih melakukan panggilan video.
“Apa?” tanya ibu Willy dari luar kamarnya.
“Anak mu ini ganteng enggak mi?” lanjutnya
mempertanyakan keabsahan parasnya.
“Ganteng,” balas ibunya. “Bangeeeeeettttt” sambungnya dengan nada panjang.
“Kamu dengar, kan?” Kata Willy meyakinkan ku dengan jawaban ibunya.
“Aku juga bisa ....”
“Maamaaaaaaa” panggilku seraya menghampirinya yang sedang ada di dapur.
“Apa sih? Berisik!” jawab mama yang mendengar teriakanku.
“Aku cantik enggak ma?” tanyaku kepadanya yang sedang memotong sayuran.
“enggak ...” balas singkat mama yang membuatku memanyunkan bibir.
Willy tertawa terbahak-bahak, dan mama pun mendengar suara tawanya.
Aku kembali ke kamar. Mengatakan, “Awas saja ya kalau bertemu!”
***
Perasaan ingin menghajar Willy sudah menggebu-gebu, jadi aku menunggu dia di depan kampus. Ternyata dia datang tak sendiri, melainkan bersama Yeri.
“Sini!” tuturku yang kesal.
“Ada apa lagi sih ini?” tanya Yeri keheranan.
“Memangnya apa salah aku?” tegas Willy yang berani menantangku.
Dia kembali bersembunyi di belakang Yeri meminta perlindungan.
“Jangan libatkan aku ya!” teriak Yeri yang membuat kami mengheningkan cipta.
“Kalau mau berantem, berantem saja! Kalau perlu, bawa golok sekalian! Tapi ... jangan libatkan orang jomlo macam aku dipertengkaran kalian. Bikin iri saja tahu enggak?” tutup Yeri yang kesal melihat perkelahian unfaedah kami.
Seperti apa yang terjadi, pertengkaran kami memang selalu tak berarti. Semarah apapun aku, kalau sudah lihat senyum Willy, hatiku menjadi porak-poranda.
***
“Kamu hari ini sudah makan gula berapa sendok sih?” tanya ku.
“Memangnya kenapa?” tanya heran Willy.
“Habisnya senyumnya manis banget.”
“Kamu itu blasteran ya?” tanya Willy.
“Blasteran?” tanyaku yang sudah percaya diri akan balik digombali.
“Iya blasteran mie ayam sama bakso,” Jawabnya yang kemudian tertawa terbahak-bahak.
Dalam hati,“Sabar! Sabar! Untung sayang."
“Maaf, maaf. Kali ini aku serius,” ujarnya yang mungkin merasa bersalah.
“Enggak usah!” ketusku yang sudah kelewat sebal.
“Kamu tau enggak? Ada 3 hal di dunia ini yang enggak bisa aku hitung,” tutur Willy tiba-tiba.
“Apa saja?”
“Jumlah bintang di langit, ikan di laut dan ... cintaku padamu,” balas romantis Willy.
Seketika Yeri yang keberadaannya masih diantara kita berdua. “Wooooooooaaaaaaa,” Seperti sedang muntah.
"Kenapa?" tanya Willy.
“Sedang apa juga aku ada di sini? Padahal keberadaanku di sini enggak ada faedahnya sama sekali,” Rengek Yeri kepada dirinya sendiri. “Aku enggak mengerti, kenapa juga aku masih mau temenan sama kalian?” gumam Yeri.
Sekalipun kehadiran Yeri di antara kami saat ini unfaedah, tetapi aku dan Willy benar-benar menikmatinya. Seperti yang diharapkan, reaksi Yeri benar-benar tak tertandingkan. Dia itu ibarat penghibur sekaligus penengah di antara kami. Oleh karena itu, aku sangat menyayangi pacar dan juga temanku.