
🍁 Bagian Jefry~
Kami berhasil membujuk Yeri pulang. Sesekali aku melihat dia dari cermin mobil. Raut wajahnya tak menunjukkan keceriaan, semua yang ada dalam dirinya tampak muram.
Aku dan Mikha saling menatap, merasa kikuk satu sama lain yang menyebabkan perjalanan tak ada obrolan sama sekali. Dari awal naik hingga mobil berhenti, suasananya sangat hening.
Kami tiba di dekat rumahnya, Yeri turun dari mobil diikuti oleh ku. Dia berjalan tanpa tenaga, langkahnya lambat sekali.
Anehnya Mikha tak ikut turun, dia malah menurunkan kaca jendela mobil dari dalam.
“Kamu duluan saja. Aku akan membeli sesuatu dulu,” ucapnya sebelum pergi.
Aku mengikuti Yeri dari belakang, lalu merangkulnya secara tiba-tiba karena tak tahan melihat cara dia berjalan.
Untuk pertama kali, aku menginjakkan kaki di kosannya. Setelah pintu terbuka, Aku membantunya duduk di kursi ruang tengah.
Rumahnya dalam keadaan gelap gulita. Aku bertanya, “Di mana letak sakelarnya?”
“Di sana!” Menunjuk arah, “Tapi lampunya mati.”
Karena perkara mengganti lampu adalah hal yang aku kuasai, maka aku ingin membantunya. Memang bukan sesuatu yang luar biasa, tapi setidaknya dengan bantuanku ini bisa membuatnya nyaman.
Aku mengganti lampu ruang tengahnya dengan yang baru dan menjadikan terang kembali.
“Padahal aku meminta kakak ku untuk menggantinya,” ucapnya sendu.
“Lain kali kamu bisa meminta bantuan ku,” ungkapku agar ia tak sedih lagi.
Ekspresinya beraduk, dia senyum simpul namun matanya berkaca-kaca. Tentu saja, aku tak dapat memahaminya.
Mikha membuka pintu dengan tangannya yang membawa 3 boks pizza. Dia duduk bergabung dengan kami, lalu membuka satu persatu kotak pizza itu. Aku menatapnya dengan serius, namun dia tak bergeming sampai tersadar kalau aku sedang memperhatikannya.
“Kenapa?” tanya Mikha.
Aku cukup menyeringai dengan pertanyaan yang ia lontarkan.
“Aku akan memasak sesuatu buat kamu,” ucapku kepada Yeri.
Tiba-tiba saja, Jennie dan Willy berdiri di depan pintu.
Jennie berucap, “Kalau kamu sudah makan, kita akan pergi.”
Bahan-bahan yang ada di dalam kulkas, akan aku olah menjadi masakan rumah yang sehat.
Walaupun ada banyak orang di rumah ini, tidak ada satupun yang membantuku di dapur. Tapi itu tidak apa-apa, karena yang mereka lakukan adalah menghibur Yeri.
Dari di sini, aku melihat secercah senyuman dari bibir Yeri. Dan entah kenapa, aku senang akan hal itu. Aku merasa, "Seperti ini kah rasanya memiliki banyak teman?”
Aku selesai membuat hidangan, Mikha dan Willy membantuku mengaturnya di meja makan dan kami berkumpul setelahnya.
Sebenarnya ini adalah pertemuan pertamaku dengan Willy dan Jennie, namun mereka seperti sudah terbiasa denganku bahkan seperti tak ada rasa canggung sedikitpun.
“Jef kamu pintar masak juga,” ungkap Willy memuji kemampuanku.
“Terima kasih.”
“Kamu harus makan ini,” kata Jennie kepada Yeri dengan menyodorkan lauk pauk ke dekatnya.
“Makan ini juga,” ungkap Willy sembari menyimpan lauk di piring Yeri.
“Ini juga,” sambung Mikha mengikuti Willy.
“Terima kasih ya ... terima kasih banyak,” ujar Yeri dengan haru.
Bunyi ponsel terdengar dari sini, tampaknya seseorang menelepon salah satu dari kami. Yeri beranjak dari tempatnya, segera menjawab panggilan itu.
Kami berhenti makan, melihatnya sedang berdialog via telepon. Tiba-tiba air matanya berlinang di pipi, bibirnya melebar seperti tersenyum haru.
“Ada apa?” tanya penasaran Jennie setelah Yeri menutup panggilan.
“Kakak ku sudah sadar.”
Kami turut bahagia mendengar kabar tersebut. Aku percaya bahwa habis gelap terbitlah terang, setelah kesedihan pasti datang kebahagiaan.