
🌼 Bagian Yeri~
Di malam yang dingin ini, aku menatap langit. Merasa iri, karena di langit yang gelap itu ada rembulan yang turut hadir menememani ribuan bintang-bintang.
Aku kesepian, orang tua yang seharusnya menjadi penerang untukku, mereka justru tidak ada. Batinku menangis, meronta-ronta ingin mendapatkan kasih sayang mereka tapi kenyataannya itu hanya menjadi fatamorgana lain untukku.
Aku mendapat panggilan dari kak Dean. Dia menjadi orang pertama yang mengucapkan, "selamat ulang tahun." pada ku.
Aku terharu sampai meneteskan air mata, mengingat seberapa sayangnya dia kepadaku.
“Terima kasih,” Balasku dengan isakan tangis.
“Kamu menangis?” tanya kak Dean.
“Enggak,” jawabku yang jelas-jelas berbohong.
“Sesekali pulanglah! kakak selalu menunggu kamu,” tuturnya yang membuat air mata ku terus mengalir.
Bukannya tak mau pulang, tapi setiap kali aku kesana keberadaanku seperti tak dianggap oleh Bunda dan Dami. Sehingga membuatku bertanya kepada diri sendiri, "Sebenarnya dosa apa aku ini sampai kalian mengabaikanku?"
Hari ulang tahun ku masih belum berakhir, Jennie dan Willy memberikan kejutan untukku. Mereka membawakan kue lengkap dengan lilin di atasnya.
Sebelum api lilin itu ku tiup, aku membuat harapan.
"Semoga orang tua ku sehat selalu agar mereka merasakan kebahagiaan yang aku ciptakan. Untuk kak Eun woo, semoga suatu saat aku mampu membalas kebaikan dan kasih sayang yang kamu berikan. Untuk kak Dami, semoga kamu tahu bahwa aku juga menyayangimu."
Aku tersenyum di depan Jennie dan Willy. Menghargai apa yang mereka lakukan seraya berkata, “Terima kasih, aku sangat berterima kasih.”
Dalam perjalanan pulang, aku mampir ke toko buku. Aku melihat kak Dami dengan seorang laki-laki yang mungkin saja adalah pacarnya. Aku bahkan tidak berharap ia mengucapkan selamat ulang tahun padaku, tapi setidaknya aku ingin dia menyapaku.
Aku tersenyum hendak menyapa, namun dia abai. Yang dia lakukan hanya memalingkan wajah sambil asyik mengobrol dengan orang di sampingnya.
"Ternyata jarak terjauh ialah ketika dua orang saling bertemu tapi tak bertegur sapa."
Aku memilih buku yang dibutuhkan dalam mata kuliah, tiba-tiba ponselku bergetar. Panggilan masuk datang dari kak Dean.
“Lagi di mana?” tanyanya lewat telepon.
“Di toko buku, ada apa?”
“Besok pulang ya!” pintanya, “Ayah bilang, mau merayakan ulang tahun kamu. Bunda juga akan masak banyak makanan buat kamu.”
“Serius. Besok kakak akan jemput kamu!” balasnya menutup dialog.
"Pesta ulang tahun? Bahkan aku tak mengharapkan itu."
Hanya saja ketika mendengar apa yang kak Dean katakan, aku sudah bahagia lebih dulu dan merasa bukan orang buangan dari keluarga ini, sehingga aku tak sabar menunggu esok hari.
***
Akhirnya tanggal sudah berganti. Aku mulai bersolek, memilih gaun yang pas untuk dikenakan.
Dalam benak, "Aku ingin segera berkumpul dengan mereka."
Sesuai janjinya, kak Dean datang menjemput. Penampilannya sederhana namun sangat tampan.
Walaupun punya wajah di atas rata-rata, sangat disayangkan dia sudah menyandang status lajang selama 3 tahun. Bukan karena tak ada perempuan yang mendekat, hanya saja dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga takut pasangannya nanti terabaikan.
Ketika sampai di rumah, aku dan kak Dean menuju ruang makan. Keadaan jauh dari ekspektasiku. Bunda menyiapkan hidangan, kak Dami juga turut ikut menata begitu banyak makanan di atas meja sampai selesai.
Kami masih menunggu kedatangan Ayah, sepuluh menit sudah kami berkumpul tapi bunda masih belum mengatakan satu kalimat pun sehingga membuatku merasa tak nyaman.
“Masih belum ada kabar dari ayah?” tanya kak Dami kepada kak Dean.
“Belum.”
Ponsel milik Dean berdering, tanda sebuah pesan masuk.
"Dari ayah?" tanyaku.
"Iya."
"Apa katanya?" lanjutku yang penasaran.
Kak Dean memberitahu, "Ayah tidak bisa datang, tiba-tiba ada jadwal operasi mendadak."
seketika itu, aku merasa kecewa.
"Memangnya apa yang aku harapkan di sini? Ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya. Bunda? Dia bahkan tak pernah memperhatikanku. Semuanya sama saja."
“Makan ...” suruh bunda kepada kita semua.
"Untuk kalian yang tak pernah menyadari keberadaanku, apa kalian tahu seberapa sering aku menguatkan hati untuk tak berharap lebih kepada kalian? Bahkan sejauh ini aku berusaha seperti orang yang baik-baik saja tapi nyatanya aku seperti lagu Taeyeon, judulnya saja yang ‘fine' tapi liriknya its not fine."