Winwin

Winwin
"Cemburu"



🙈 Bagian Willy~


“Kuliah isinya cuma mengantuk sama menguap terus. Giliran dosen bilang 'semoga jadi sukses' jawab aminnya paling kencang sekelurahan,” ujarku kepada ke tiga teman sekelasku.


“Astagfirullah, siapa tuh?” tanya salah satu temanku.


“Siapa lagi kalau bukan aku, kamu dan kita semua,” sahutku.


Setelah jam mata kuliah berakhir, kami bertiga pergi bersama menuju ruang sekretariat prodi. Di tengah jalan, tiba-tiba temanku menunjuk arah kafe. “Bukannya itu Jennie?”


“Siapa cowok itu?” tanya temanku satu lagi.


Aku bingung, kenapa Jennie bisa ada di sana terlebih sedang makan dengan pria yang tak ku kenal hanya berdua saja.


Terbakar api cemburu itu sudah pasti, namun datang untuk mendekati mereka di rasa tidak perlu.


***


Berganti hari, aku dan Jennie berada di perpustakaan kampus. Kami membaca buku dengan saling berhadapan. Ingin ku tanyakan perihal kemarin, tetapi sungkan rasanya.


Pada saat sedang membaca, ponsel yang ditaruh di atas meja dekat dengan tumpukan buku akuntansi milik Jennie tiba-tiba bergetar. Dia pun menengok ke layar ponselnya, namun tidak mengindahkannya.


Ponselnya kemudian bergetar untuk yang kedua kali.


“Kenapa enggak dijawab?” tanyaku pelan karena takut mengganggu yang lain.


“Nanti saja!” tutupnya tak ingin diganggu.


Kami mulai membaca buku kembali. Dalam beberapa menit, ponsel dia kembali berdering.


Di layarnya tertulis nama kontak ‘Dio’. Membuatku bertanya-tanya,“siapa dia?”


Jennie kemudian menerima panggilan dari orang itu dan pergi keluar perpustakaan.


Dari sanalah aku mulai merasa cemas, pikiran sudah melayang ke segala arah.


“Dia tidak selingkuh di belakang aku, kan?” tanyaku kepada diri sendiri.


Dia kembali ke tempat duduk yang ada di depanku.


Karena dirundung banyak sekali prasangka. Aku mulai bertanya, “Siapa?”


Dia fokus melihat buku. “Teman.”


“Mau apa?” pertanyaanku selanjutnya.


“Mengajak makan.”


“Terus? Kamu mau?”


“Iya.” tuturnya diikuti anggukan.


Sejak kami berpisah di perpustakaan. Aku tak sepenuhnya pergi begitu saja, melainkan mulai mengendap-endap mengikutinya dari belakang. Sampai akhirnya menuju malam yang gelap, dia berjalan ke sebuah tempat makan.


Tampaknya pria yang tempo hari makan bersama Jennie sudah menunggu di dalam restoran. Pikiranku tak karuan, seakan ingin melabrak mereka berdua.


Saat suasana restoran mulai ramai, aku diam-diam masuk dengan menyembunyikan wajah tampanku menggunakan tudung hoodie.


Dari dalam sini, aku bisa melihat mereka dengan jelas menggunakan kedua bola mataku. Semakin lama mereka mengobrol dengan nyaman, bahkan sampai haha-hihi menertawakan sesuatu. Kaki ku terasa gatal ingin mendekat ke meja mereka.


Jennie berdiri hendak pergi namun tas nya tak ia bawa, dengan sengaja aku meneleponnya. Ingin memastikan, apakah ia akan menelepon balik atau tidak setelah kembali dari toilet.


“Handphone kamu tadi bunyi terus,” beritahu pria itu saat Jennie kembali duduk di depannya.


Jennie mengecek ponselnya, dia langsung menyimpan ponsel tanpa meneleponku balik. Pada saat itulah, aku merasa dia sudah mengabaikanku dengan sengaja.


“Kamu di mana?” tanyaku segera setelah Jennie menjawab panggilan.


“Di rumah,” sahutnya yang jelas-jelas berbohong.


Aku menyeringai mendengar jawaban dari mulutnya.


“Lihat ke belakang!” pintaku.


Jennie menoleh, ekspresinya terbaca olehku. Dia merasa bingung dengan keberadaanku. Amarah yang ku simpan-simpan dari kemarin, akhirnya membludak di sini.


Dengan semangat aku berjalan mendekati mereka. Lalu,,


'plakk' Suara tinjuanku ke wajah laki-laki itu yang membuatnya jatuh tersungkur.


“Apakah ini rumah kamu?” tanyaku kepada Jennie yang kaget melihat tindakanku.


“Kamu enggak apa-apa?” ucap Jennie menolong pria itu untuk berdiri kembali.


“Waaaahh,” decak kagumku melihat apa yang dilakukan Jennie.


“Dia pacar kamu?” tanya pria itu kepada Jennie sambil memegangi pipi yang tertonjok tanganku. “Aku pasti sudah bikin kamu salah paham,” ucapnya padaku.


“Bicara apa sih?” sahutku yang masih kesal.


“Jangan khawatir. Jennie itu cinta banget sama kamu,” tutur dia. “Aku cemburu sama kamu! Bahkan saat Jennie makan bersamaku, kamu menjadi topik menarik yang dia bicarakan,” lanjutnya.


Mendengar apa yang dia ucapkan membuatku sedikit menyesal telah meninjunya.


“Sedang apa? Cepat minta maaf!” bentak Jennie.


“Enggak apa-apa,” ucap pria yang kontaknya dinamai Dio itu.


“Maaf,” gumamku merasa malu.


“Enggak kedengaran! Bicara apa barusan??” tutur Jennie dengan nada tinggi.


“Aku minta maaf. Aku salah berprasangka sama kamu” ungkapku dengan percaya diri.


“Aku maafkan,” balas Dio.


“Sudah puas?” tanyaku kepada Jennie.


Setelah itu, aku dan Jennie pulang bersama. Namun dia berjalan lebih dulu di depanku. Wajahnya kusut, tampak masih marah.


"Bukannya aku yang harusnya marah?" ujarku berhenti melangkah.


Dia menghadapku. “Kamu kira aku selingkuh sama dia?”


“Enggak!” sanggahku.


Dia mendekat, menatap penuh mataku.“Kedengerannya kayak iya kok?”


Aku menghindari tatapannya sebisa mungkin.


“Gila ya, kamu kira aku cewek apaan yang bisa berpacaran dengan dua cowok?” tuturnya memukul badanku.


Karena kesal dia terus memukul. “Habisnya siapa suruh bohong? Pakai bilang lagi di rumah segala,” balasku sambil menatap wajahnya.


Dia tergagap salah tingkah tak bisa menjelaskan.


Betapa romantisnya jika aku menciumnya saat-saat seperti ini, tapi banyak orang-orang yang masih berlalu lalang. Aku cukup mengecup dahinya saja, sebagai tanda menebus kesalahan yang tadi aku lakukan.


ㅠㅠㅠㅠㅠ