Winwin

Winwin
"Rasa Yang Sama"



🌼 Bagian Yeri~


Karakter Mikha adalah mudah akrab dengan siapapun, tak terkecuali denganku. Dia orang yang baik, tidak pandang bulu, dan mudah menerima kedatangan orang lain.


“Yeri ...” panggil Mikha sebelum aku keluar kelas.


Aku berhenti. “Ada apa?”


“Kita makan bareng yuk!”


Aneh rasanya karena dia mengajak makan untuk pertama kalinya.


“Berdua?" tanyaku.


“Enggak. kita makan bareng Jefry,” ucapnya sambil menengok Jefry.


Langsung saja tanpa pikir panjang aku menyetujuinya.


Oh my god, mimpi apa aku semalam hingga bisa ditemani makan oleh dua cogan ini.


“Aku yang traktir, kalian boleh pilih apapun!” tutur Mikha.


“Serius?” tanyaku tak percaya.


“Memangnya mukaku kelihatan kayak penipu?” kecut Mikha.


Kami memilih apa yang ada di daftar menu. Karena ini kesempatan langka untukku, jadi aku memesan banyak makanan.



“Kamu pesan segini banyaknya?” tanya Mikha setelah melihat meja yang dipenuhi makanan. “Awas saja kalau enggak habis!” ancamnya.


“Tenang, aku akan makan semuanya.”


Padahal kita datang bertiga, tapi rasanya hanya aku dan Mikha yang ada di sini. Sementara Jefry, dari awal sudah tak menunjukkan eksistensinya bahkan dia makan tanpa bersuara.


Aku makan dengan lahap sampai semua makanan yang dipesan tak tersisa.


“Aku kenyang banget ...” ucapku yang sudah tak bisa menampung makanan lagi.


Kami keluar bersama dari restoran. Tak lupa sebelum pergi aku mengucapkan, “Terima kasih banyak ya!”


Baru saja berjalan satu langkah, tas ku di tarik dari belakang.


“Mau ke mana?” tanya Mikha yang belum melepaskan tas ku.


“Balik ke kampus.”


“Bukannya kamu harus bayar dulu?"


“Apa?” tanyaku kaget mendengar pertanyaan Mikha.


“Kamu enggak tahu, give and take?”


“Tadi yang bilang mau traktir kamu, kan?” balasku.


Kita jalan bersama untuk kembali ke kampus, namun sayangnya Jefry berada di belakangku karena Mikha mau mengobrol denganku.


“Kamu berteman sama anak akuntansi, kan?” tanya Mikha.


“Memangnya kenapa? Jangan bilang ...” ucapku terpikir sesuatu.


“Apa? Apa?” tanya Mikha menantang.


“Gila kali aku tikung pacar orang!" ungkapnya tak terima dengan ucapanku. "Aku tak sejahat itu ..." sambungnya


“Terus siapa kalau bukan dia?” tanyaku.


“Namanya Irene.”


“Bentar, bentar! Bukannya kemarin kamu masih gandeng cewek?”


“Sekarang sudah putus,” balas dia.


“Putus?” kagetku. “Cepat banget putusnya? Perasaan baru kemarin ganti cewek” lanjutku. “Jangan-jangan punyamu kecil ya?” ejekku padanya.


Dari belakang terdengar Jefry sedang cengengesan, padahal sebelumnya dia seperti patung berjalan.


Kami menoleh tertegun melihatnya.


“Kamu ketawa?” tanya Mikha.


“Enggak!” sanggah Jefry sebelum menampilkan aura karismanya kembali.


Kami melanjutkan perjalanan sambil berbincang kembali.


“Aku tipe orang yang gampang move on, enggak kayak dia!” tutur Mikha.


“Dia?” tanya ku yang tak mengerti maksud Mikha.


“Kamu enggak tahu? Jefry sudah putus sama Rose” ungkapnya.


“benaran?” ucapku yang kaget mendengar kabar tersebut. Kemudian menyambung, “Kapan? Kenapa?” tanpa jeda karena rasa penasaran.


“Sudah 3 bulan. Entahlah ...” Kata Mikha yang tak mengetahui alasan putusnya Jefry.


“Kalian membicarakan aku?” tanya Jefry dari belakang yang tampak penasaran.


“Apa? Enggak!” bantah Mikha.


Lucu ya. Setelah tahu Jefry sudah putus dengan pacarnya, aku malah senang. Saking senangnya, aku sampai senyum-senyum sendiri macam orang stres.


***


“Lagi senangkan? Makanya temannya dilupakan. Coba kalau lagi sedih, baru deh ingat sama teman ...” tutur Jennie yang baru saja duduk di sampingku.


“Bicara apa sih?” balasku.


“Ada apa?" tanya Jennie yang penasaran.


Aku tersenyum menggodanya. “Kamu enggak perlu tahu deh.”


“Kamu kenapa? Kamu sakit?” ucap dia mengecek dahiku.


“Jefry ... sudah putus sama pacarnya,” tuturku bahagia.


“Kamu masih suka sama dia?” tanya Jennie.


Aku membalas, "Perasaanku masih sama"


"Aku kalau suka sama orang bisa sampai lama banget, dan selama itu cuma bisa dipendam dalam diam”


Bolehkah aku mengharapkannya? bukan hanya sekedar dalam imajinasi saja. Aku ingin memilikinya karena aku masih dalam perasaan yang sama yaitu tetap menyukainya.


"Bagaimana mau pindah ke lain hati, kalo lihat senyum kamu aja berasa mau mati."