Winwin

Winwin
"Ini Mimpi Ku"



🌼 Bagian Yeri~


“Kamu yakin mau ambil jurusan itu?” tanya Jennie teman satu kelas ku selama 3 tahun di Sekolah Menengah Atas.


Perihal keputusan ini, aku yakin untuk mengambilnya karena ini adalah mimpiku. Sekalipun seluruh keluarga menentang, mereka tak berhak mengendalikan apa yang menjadi inginku.


“Aku sudah siap menerima konsekuensinya, apapun itu,” ungkapku membalas pertanyaan Jennie.


🐻 Bagian Dami~


Sebelum berangkat kerja, berdandan adalah suatu keharusan bagi setiap wanita, tujuannya adalah dapat meningkatkan kepercayaan diri. Oleh sebab itu, aku merias wajah dengan beberapa alat make up yang ku punya, tapi salah satu make up ku ada yang menghilang.


"Ini pasti diambil dia," pikirku yang langsung menuduh Yeri sebagai pelakunya.


Aku masuk ke kamar sambil meneriaki namanya. Ruangannya kosong tak ada orang, jadi aku segera memeriksa di lemari make up miliknya.


Karena barangnya tak ada di sana, aku memeriksa tas gendong yang berada di tempat tidurnya, semua isinya aku keluarkan di atas kasur.


“Apa ini?” tanya penasaranku melihat berkas kertas bertuliskan formulir pendaftaran prodi perguruan tinggi.


Secara tiba-tiba, “Sedang apa kamu di sini?” tanya Yeri dengan posisi handuk yang dilingkarkan di rambutnya.


Dia merebut kertas yang aku pegang. “Kembalikan!” bentaknya.


“Kamu mau ambil jurusan fotografi? Aku tidak salah baca, kan?” ungkapku dengan intonasi mengejek keputusannya.


“Ini adalah mimpiku!” balasnya dengan percaya diri sambil melipat formulir pendaftaran.


“Kamu mengambil eyeliner punyaku?” todongku padanya.


“Kamu menuduhku mencuri?” tanya sewot dia.


"Siapa yang nuduh?” ucap sinisku.


Hawanya sudah menjadi panas, kami mempertengkarkan hal yang sebenarnya tidak perlu dipertengkarkan.


“Kamu keluar! Keluar dari sini!” Mendorongku keluar kamar.


🌼 Bagian Yeri~


Pukul 16.20 WIB, aku pulang ke rumah. Ayah dan ibu duduk di ruang keluarga, wajah mereka terlihat sangat serius.


“Ayah mau bicara sama kamu.”


Peka dengan pintanya, aku pun ikut bergabung dan duduk menunggu hal yang akan mereka bicarakan.


Ayah menyimpan kertas di atas meja seraya berucap, “Coba jelaskan! Kenapa kamu memiliki ini?”.


Aku yang belum memahami pembicaraan, segera mengambil kertas.


Kertas yang menjadi permasalahan ini adalah formulir pendaftaraan prodi perguruan tinggi yang kemarin sempat di lihat Kak Dami.


“Kamu sadar apa yang sedang kamu lakukan sekarang?” tanya ayah.


“Iya!” tegasku.


Ayah mengambil formulir itu dari tanganku, kemudian merobeknya berkeping-keping.


“Ayah!” pekikku.


“Besok kamu minta formulir pendaftaran kedokteran!” tegasnya setelah merobek hancur kertas.


“Tidak mau!” ungkap sifat keras kepalaku.


“Apa katamu?” ucap kaget ayah, “Kamu mau mempermalukan ayah?”


“Apa Ayah malu karena aku mengambil jurusan fotografi?” tanyaku.


“Yeri, kamu gila ya?” ungkap bunda tiba-tiba.


“Apa salahnya aku mengambil jurusan yang ku mau? Ini hidupku. Aku yang lebih tahu dengan hidupku. Bahkan Ayah dan Bunda tidak tahu apa mimpiku. Benar, kan?” ungkapanku dari hati yang paling dalam.


"Apa?" tanya bunda tak menyangka dengan ucapanku.


Dengan mata yang berkaca-kaca aku melanjutkan, “Bunda, Ayah. Ini mimpiku!!... Bunda dan Ayah tak berhak mengatur mimpiku. Hidupku adalah milikku".


Sudah ku duga, apa yang aku kehendaki berlawanan dengan apa yang ayah inginkan. Dia tidak akan dengan mudahnya menerima keputusanku sekarang, terlebih ini adalah hal yang akan menentukan masa depan.


Tapi walau bagaimanapun ini adalah jalan hidupku, sudah sepatutnya aku memperjuangkan apa yang menjadi inginku.


Nyatanya semua tak berakhir seperti harapan, barang kesayanganku harus menjadi korban tragedi ini. Kamera SLR yang selalu aku gunakan tergeletak di lantai kamar, dan sudah tak hidup lagi.


Aku mempertanyakan siapa pelaku yang tega merusak barang berhargaku.


“Ayah ... apa ini perbuatan ayah?” tukasku kepada beliau yang sedang duduk menonton televisi.


“Iya. Kenapa?" balasnya tanpa rasa bersalah.


Aku mematung tak bisa mengatakan satu patah kata pun atas perbuatannya.


"Jika kamu memilih jurusan kedokteran, akan ayah ganti dengan yang baru.”


Sebagai bentuk kekesalan. Aku berucap,“Asal ayah tahu, aku tak akan berubah pikiran!”


Ayah berdiri kemudian menghadap padaku. “Dengar baik-baik! Jika kamu bersikukuh dengan pendirian kamu ... keluar dari sini! Aku tak akan membiayai kuliahmu!”


Pandanganku kosong, pikiranku tak mempercayai ucapan ayah.


“Ayah serius?” tanyaku dengan lemas.


“Jangan kamu kira, ayah melakukan ini hanya untuk menggertak kamu? Pikir baik-baik selagi ayah masih baik!” tegasnya untuk terakhir kali.