
🌼 Bagian Yeri~
Sejak kak Dean menolongku, dia memberikan segala bentuk materi untuk dapat menyokong cita-cita ku. Berkatnya, aku bangkit dari segala macam kebingungan.
Hari Rabu 07 April, di depan ruang sekretariat kampus sebelum mendaftar ulang kuliah.
Pria itu berjalan mendekat, paras tampannya membuat mataku terpana.
Sungguh betapa perfect nya dia.
Dia tepat di depanku, memberikan sebuah buku catatan kecil.
“Ini punya kamu bukan?” ujar pria itu.
Aku mematung tak percaya dia berdialog denganku.
“Tadi jatuh di sana,” tambah beliau.
Aku tersenyum ramah. “Oh iya, Terima kasih.”
Pria itu pergi mendahuluiku, tanpa sempat ku tanya nama nya.
"Aku jatuh cinta pada pandangan pertama."
***
Hari pertama masuk kuliah, satu persatu mahasiswa jurusan fotografi memenuhi kelas.
“Ternyata banyak juga,” Melirik orang-orang yang ada di ruangan
Waktu menunjuk pukul 08:50, dan sebentar lagi mata kuliah pertama dimulai. Pria yang waktu itu memberikan buku kecil kepada ku, ternyata berada di satu kelas yang sama denganku.
Dia duduk di depanku, mulai mengeluarkan buku yang ada di ransel miliknya.
Dalam benakku, ada satu yang ingin aku pastikan ialah. "Apakah dia masih mengingatku?"
Tapi aku ragu jika ia masih mengingatku karena pertemuan waktu itu singkat sekali.
Dia membalikkan badan. Menatapku kemudian bertanya,
“Apa kamu punya pulpen 2?”
Tatapanku kosong karena dia melakukan hal tak terduga.
“Aku mau pinjam!” sambungnya.
Aku memberikan pulpen yang ku punya padanya.
Selama mata kuliah berlangsung, aku tak bisa fokus memperhatikan karena semua fokusku hanya teralihkan oleh nya.
“Sepertinya dia tidak mengingatku,” simpulku.
Dosen mengakhiri pertemuan pertama, dan orang-orang mulai keluar meninggalkan ruangan. Tiba-tiba saja dari luar datang sekerumun wanita menghampiri tempat duduk orang yang belum ku ketahui namanya itu.
“Aku harus pergi!” jawab dia dari puluhan pertanyaan yang ditodongkan.
Rasa kecewa sudah pasti terpampang di wajah mereka karena dia pergi begitu saja tanpa menjawab apa-apa.
Aku berjalan di belakangnya, seakan mengikuti langkahnya.
Tampaknya ia sangat populer di kalangan mahasiswa, karena lagi dan lagi dihampiri wanita cantik.
Dengan wajah malu, wanita itu memberikan coklat yang diikat hiasan pita kepadanya tanpa berkata sedikitpun.
“Aku gak suka cokelat!” ujarnya yang langsung pergi.
Lihatlah betapa malunya wanita itu, tertolak secara halus dihadapan banyak orang.
Aku tersenyum simpul, merasa lega melihatnya menolak pemberian wanita tadi.
Aku pergi ke minimarket dekat kampus untuk membeli sesuatu. Karena tak banyak pengunjung, jadi aku melihat Dia sedang memilih pulpen. Aku berpura-pura tak peduli dengan keberadaannya, namun hati terus bergetar ingin disapa olehnya.
Selesai membayar apa yang dibeli, aku keluar dari minimarket. Dia berdiri di depan toko dan aku menyadari itu, namun aku hanya melewatinya begitu saja.
“Hei?” panggilnya yang entah ditujukan kepada siapa.
Enggan untuk terlalu percaya diri bahwa aku adalah orang yang dia panggil, jadi aku terus berjalan.
“Hei yang pakai baju hitam,” panggil dia lebih jelas.
Karena apa yang ia sebut adalah outfit yang aku kenakan, jadi aku membalikkan badan mengarah padanya.
“Aku?” ucap ku yang tak percaya dipanggilnya.
Dia menghampiriku sambil mengatakan, “Iya kamu.”
Jarak kami sudah tak berjauhan, dia sekarang tepat di depanku.
“Ini,” ucapnya lirih memberikan pulpen yang aku pinjamkan. “Terima kasih pulpennya.”
“Sama-sama, tapi aku punya nama,” balasku karena dia hanya memanggilku dengan sebutan hei saja.
“Nama aku Yeri.”
“Oh.” Reaksinya tanpa bertanya kembali.
“Kalau kamu, siapa namanya?” tanya ku.
“Jefry ...” balasnya. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya? kamu kelihatan tidak asing,” tanya ia untuk pertama kalinya.
“Kita pernah bertemu sebelumnya di ruang sekretariat pendaftaran,” jawabku.
“ah buku kecil?” tuturnya yang masih mengingatku.
Aku memasang wajah mesem, kegirangan karena dia masih mengingatku walau pertemuan kami hanya sekilas.