
🍁 Bagian Jefry~
“Sudah 3 hari aku enggak lihat Yeri,” ucap Mikha tiba-tiba saat kami makan di kantin.
Aku tak meresponnya karena memang tak penasaran dengan apa yang terjadi pada Yeri.
“Kamu enggak penasaran kenapa?” lanjutnya bertanya.
“Mungkin dia punya alasan.” balasku sambil menyantap.
“Kamu enggak khawatir?”
“Kenapa aku harus khawatir?” balasku.
Dia menatapku disertai bibir menyeringai. “Dasar enggak peka!” gumamnya yang masih terdengar.
Mikha tiba-tiba beranjak, kemudian mendatangi seorang wanita yang sedang memegangi nampan makanan. Mereka terlihat berbincang sebentar, lalu Mikha kembali duduk bersamaku.
“Siapa?” tanya penasaranku.
“Jennie, teman Yeri” balasnya. Dia melanjutkan, “Kamu sudah makannya?”
“Sudah.”
Dia berdiri. “Kalau begitu ayo kita pergi!”
“Kemana?”
Tanpa sempat dijawab, dia membawaku dengan mobilnya. Perjalanan yang kami tempuh tak cukup lama, karena dia berhenti di depan rumah sakit yang jaraknya tak jauh dari kampus.
Setelah turun dari mobil aku bertanya, “Kenapa kita ke sini?”
Namun dia masih belum menjawab. Oleh karena itu aku mengatakan, “Aku mau balik lagi ke kampus!”
“Apa mengikuti kelas lebih penting?” tanya Mikha menatap tajam mataku.
“Iya penting!”
“Kalau begitu sana pergi!” usirnya.
“Makanya aku tanya ... kenapa kita kesini?” tanyaku dengan nyolot.
“Kakaknya Yeri sakit. Sekarang Yeri pasti lagi sedih,” jawabnya. “Sebagai teman, bukannya kita harus ada untuknya?” lanjut tuturnya.
Ucapan Mikha memang ada benarnya, seorang teman harus selalu ada. Walaupun tidak mampu sepenuhnya menghapus kesedihan, tapi setidaknya dengan kehadiran pun mampu membuatnya sedikit lebih tenang. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk ikut dengan Mikha.
Sebelum masuk, Mikha lebih dulu mengetuk pintu ruang tempat kakak Yeri dirawat. Saat itu Yeri sedang duduk di samping pasien. Wajahnya terlihat begitu muram, matanya sayu menampakkan kesedihan sedang menyelimutinya.
“Jefry?” Ucap kaget Yeri melihat kedatangan kami yang tiba-tiba.
“Aku juga ada di sini,” ujar Mikha yang tak sempat di sapa Yeri.
Dia menyuruh kami duduk lebih dulu.
Dia menatap Mikha. “Dari mana kalian tau aku di sini?”
“Jennie,” jawab Mikha dengan jujur. "Kamu baik-baik saja?" sambungnya bertanya kabar.
"Aku baik-baik saja," jawab pelan Yeri.
“Aku harap kakak kamu cepat sembuh,” panjat doaku.
Dengan mata yang berkaca-kaca, Yeri berterima kasih karena sudah datang menjenguk. Aku terbawa suasana hingga merasa iba padanya.
Bahkan aku sempat terpikir, "Bagaimana kalau aku yang di posisinya?"
“Jangan terlalu khawatir. Kakak kamu akan pulih secepatnya!” tutur Mikha berikutnya.
“Saya Mikha dan ini Jefry, kita teman satu kelas Yeri.”
“Saya ibunya Yeri. Dan ini Dami,” balas wanita itu. Dia melanjutkan, “Terima kasih sudah jenguk kakaknya Yeri.”
“Iya sama-sama,” balas Mikha.
Tanpa banyak waktu terjeda, Mikha mendapat panggilan dari seseorang. Sebelum pergi keluar untuk menjawab, dia izin lebih dulu.
Rasanya canggung sekali aku berada di tengah-tengah keluarga Yeri, jadi aku pun izin keluar menyusul Mikha. Di tengah percakapan telepon, aku mendengar pembicaraan Mikha.
“Bentar! Dari mana kamu tau no aku?” tanya Mikha. “Iya, iya,” ungkapnya sebelum menutup panggilan.
Baru menyadari keberadaanku. Dia bertanya, “Kamu kok berdiri sini?”
“Di dalam terlalu canggung,” balasku. “Tadi siapa?” tanyaku.
“Jennie.”
“Dia bilang apa?”
“Dia memintaku untuk membawa pulang Yeri, terus memaksanya untuk makan!” balasnya.
“Maksa?” tanyaku yang kaget mendengar ucapan konyol Mikha.
“Semenjak kakaknya dirawat, dia belum pulang dan dia tak banyak makan.”
“Terus? Kamu mau lakukan itu?” lanjut tanyaku.
Kami masuk kembali. Tampaknya pembicaraan mereka berhenti setelah kami membuka pintu.
Tiba-tiba saja ibu Yeri berkata, “Apa kalian bisa mengantar Yeri pulang?”
Karena kaget dengan permintaan ibunya. Yeri menyerukan, “Bunda!”
“Kamu harus pulang, istirahat yang cukup! Jangan khawatir dengan kak Dean. Karena aku dan Bunda akan menjaganya,” tutur kakaknya. “Kalau kak Dean sudah siuman, nanti aku kabari.”
“Iya bisa. Kita akan antar Yeri pulang!” sambung Mikha yang seperti didukung keluarga Yeri.
“Yeri ..." panggil Mikha. "Sedang apa? Ayo!!” ajak Mikha.
Epilog
🐼 Bagian Mikha~
Aku menjawab panggilan nomor tak dikenal di luar kamar inap Dean.
“Siapa ya?” tanyaku pertama kali via telepon.
“Aku, Jennie ... kamu masih di sana?”
“Iya.”
“Aku mau minta tolong, boleh?” tutur Jennie.
“Minta tolong apa?”
“Bisa enggak kamu ajak Yeri pulang? Aku rasa dia butuh istirahat. Dia juga enggak banyak makan. Kalau dia enggak mau, paksa saja!" ucap Jennie tanpa jeda. "Kamu bisa bantu aku, kan?” tanya dia meminta bantuan.
“Sebentar! Dari mana kamu tau no aku?”
“Apa itu lebih penting dari ini?!” lanjutnya dengan bentakan.
Dia kembali melanjutkan dengan suara biasa “Pokoknya, nanti hubungi aku. Kalau kamu berhasil, aku akan menyusul ke rumahnya”
“Iya, iya,” tutupku.