Winwin

Winwin
"Viral"



🍁 Bagian Jefry~


Persediaan makanan yang tersisa di kosanku hanyalah mie instan. Lantaran makanan tersebut tak baik dikonsumsi setiap hari, jadi aku harus membeli bahan-bahan makanan yang sehat dan bergizi. Setidaknya masak sendiri bisa lebih hemat dibandingkan makan di luar terus menerus.


“Aku harus ke pasar ...” ucapku setelah memeriksa bahan makanan.


Dengan pakaian seadanya, aku pergi ke pasar tradisional.


Sudah menjadi rahasia umum jika pasar adalah tempat yang paling banyak dikunjungi ibu-ibu, maka sejauh ini merekalah yang paling sering aku jumpai.


“Mau beli apa, Dek?” ucap ibu penjual buah-buahan.


“Apelnya manis tidak bu?”


“Ya manis dong, kayak adek ...” godanya kepadaku.


“Berapa harga satu kilonya?” tanyaku.


“30 ribu.”


“Saya beli 2 kg.”


Seusai membeli apel, aku pergi ke toko yang menjual sayuran segar. Saat memilih sayur, suasana menjadi ramai, kegiatan mereka teralihkan hanya karena ada seorang wanita paruh baya yang berlari sambil berteriak, “Copeetttttt ... Copeettt!”


Copet yang sedang di kejar itu berlari ke arahku. Selagi mendekat, aku mlemparkan apel yang baru ku beli.


"P**laaakkk." Suara benturan.


Apel yang ku lempar mendarat tepat di dahi si copet dengan kecepatan kilat, dia terhuyung-huyung sampai jatuh tersungkur ke tanah.


Namun itu tak menjadi halangan berarti untuknya, tak menyurutkan niatnya untuk melarikan diri.


Dia bangkit sambil menodongkan pisau agar tak ada yang mendekat, orang-orang yang berada di dekatnya ketakutan sampai tak berani mengambil tindakan.


Copet itu berlari lagi untuk melarikan diri, nahasnya dia malah berlari ke arahku. Terlebih sekarang jaraknya tak lagi berjauhan denganku.


Sebelum dia lolos melewatiku.


'gebrug.' Suara tubuh copet yang jatuh karena tak berhasil melewati jebakan kaki ku.


“aaawwwww” ungkap rintih kesakitan si copet.


Wajahku datar tak merasa bersalah setelah membuatnya terjatuh.


Tak pantang menyerah, copetnya berdiri kembali sambil mengeluarkan senjata tajam. Kali ini dia menodongkannya kepada ku. Bukan sekedar mengancam, tapi dari matanya terlihat seakan ingin membunuhku.


Tanpa takut aku mulai menaruh apel yang ku beli kemudian mengambil ancang-ancang.


Tak seperti tatapannya yang garang, ternyata copet itu hanya bermodalkan nekad saja tanpa memiliki keahlian bela diri. Walaupun membawa senjata tajam, dia tidak pandai menggunakannya sehingga gerakannya mudah ditebak oleh ku. Aku menepis pisau yang ia sodorkan dengan sekali gerakan.


Pisau itu aku singkirkan dengan kaki setelah jatuh ke tanah. Dia mengepalkan tangan, ingin meninjuku.


Upaya jenis pukulan selalu ia sodorkan, namun tak ada yang mengenaiku sama sekali, sampai akhirnya


‘paaakk.’ Suara tanganku yang lebih dulu meninju pipi kanannya.


Aku berjongkok di depannya ingin mengambil tas yang sudah ia copet, namun dia bereaksi ketakutan seperti terintimidasi.


Aku memberikan tas itu kepada pemiliknya.


Setelah menerima tas. Ibu itu berucap, “Terima kasih ya ... terima kasih banyak, Nak.”


“Iya bu. Sama-sama,” balasku.


Dengan penuh karisma, aku kembali berjalan ke tukang sayur untuk mengambil barang yang ku tinggalkan tadi.


“Sudah ganteng ... jago bela diri pula,” ucap ibu-ibu yang sedang membeli sayur dekat ku.


Baru sadar, ternyata di sekeliling banyak sekali orang yang sedang memperhatikan sekaligus menyanjungku.


***


Keesokannya aku memiliki jadwal kuliah pagi. Saat berjalan menuju ruang kelas, sepanjang jalan orang-orang terus memandangiku.


“Kenapa mereka begitu? Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku?” batinku.


Begitu sampai di kelas, Mikha memanggilku.


“Jef ... cepat duduk sini!”


Sesuai pintanya, aku duduk di dekatnya.


“Sekarang kamu jadi orang terkenal,” ucap Mikha yang terus melihat gawai. “Lihat ini!” tuturnya memperlihatkan video yang di unggah seseorang melalui aplikasi platform publik dengan caption 'pahlawan kaum mak-mak.'


“Apa ini?” ucap kaget ku sembari menonton.


“Kamu baru tahu? Semua orang sudah pada nonton. Kamu lagi viral di media sosial.” Mikha seakan terhipnotis dengan postingan itu. Dia menambahkan, “Kapan kamu belajar bela diri? Tolong ajari aku!” yang terdengar seperti ledekan. “Wahh, followers Insta kamu juga naik drastis! Kamu ini artis? Kenapa enggak memfollow siapapun tapi followersnya banyak? Kamu itu beneran temanku bukan sih? Kenapa enggak Follback aku??” tanya Mikha terus menerus tanpa jeda.


"Dek, mau enggak kamu jadi anak bungsu ku?"


"Kamu itu cocok banget kalau jadi menantuku ...."


"Kurang ajar sekali ini anak, gantengnya diborong sendirian hehehe ...."


"Tante kesal melihat betapa gantengnya muka kamu wkwkwk ...."


"Gantengnya ilegal ..."


"*Anak siapa ini? Sudah ganteng, jago bela diri, pintar, boyfriend material pula. Kan jadi pengen masukan ke kartu keluarga ...."


"Gantengnya enggak pakai akhlak* ...."


"Nak bisa mundur sedikit? Itu gantengnya kelewatan"


Itu semua adalah sebagian isi komentar postingan Jaehyun.


“Wah, yang komentar di unggahan kamu juga kaum mak-mak,” tutur Mikha menertawakan.