
🍁 Bagian Jefry~
Foto-foto hasil potretan kami sudah selesai di edit semenarik mungkin agar orang-orang menikmati hasil kerja keras kami.
Kini hanya tinggal diserahkan ke dosen yang bersangkutan dalam bentuk file sehingga bisa ditinjau terlebih dahulu.
Sebelum menyerahkan, aku pergi ke kantin kampus terlebih dahulu untuk makan siang. Seperti biasa, aku memilih makanan di prasmanan.
Begitu makanan di piring terisi penuh, aku berjalan ke tempat yang mejanya tak di isi oleh siapapun agar bisa makan dengan nyaman. Namun, tanpa ku sadari seseorang tiba-tiba menarik baju bagian belakangku. Wajar jika aku menoleh langsung menoleh.
“Kamu makan sendiri?” tanya Yeri yang berdiri di belakangku sembari membawa nampan di tangannya.
“Eum,” tuturku mengiyakan.
Sehubungan dia tidak mengatakan apapun lagi, jadi aku segera pergi menuju meja kosong itu lalu makan tanpa ditemani siapapun.
"Aku boleh duduk di sini?" tanya Yeri yang berdiri di dekat mejaku. "Aku enggak suka makan sendirian ..." tambahnya yang terdengar menyedihkan.
"Silakan!" balasku mengizinkan dia.
Mengingat fakta bahwa kami harus segera mengumpulkan foto-fotonya. Aku memulai percakapan dengannya di sela-sela makan.
"Setelah ini ... ayo kita perlihatkan biar nanti dievaluasi kesalahannya."
"Oke!" jawab dia dengan singkat.
Saat berada di ruang dosen, kami diharuskan menunggu karena dosen yang bersangkutan sedang tidak ada di ruangan.
Kami duduk di kursi tamu yang ada di ruangan ini. Dikarenakan hanya ada kita berdua saja, maka keadaan di sini benar-benar kikuk. Dia tidak mengatakan satu kalimatpun, sedangkan aku sungkan untuk memulai.
Namun mau bagaimana lagi, daripada hanya diam-diaman seperti ini. Aku mengatakan, “Eeeuuuhhh” yang bersamaan dengan Yeri.
Kami saling tersenyum karena hal tersebut.
“Kamu duluan deh!" suruh Yeri.
“Enggak, kamu saja yang duluan!”
“Enggak ahh, kamu saja!” sahut Yeri.
“Kalian sedang apa?” tanya dosen yang bersandar dekat pintu yang terbuka.
Seketika kami pun berdiri kaget dan merasa malu karena dilihat dosen.
“Dari kapan bapak ada di sana?” tanya Yeri.
“Dari tadi," balas pak dosen. Dia pergi duduk di kursi tamu ruangan seraya meneruskan, "Kaliannya saja yang terlalu asik sampai enggak sadar kalau bapak dari tadi sudah di sini.”
"Maaf, Pak ..." tutur Yeri.
"Silakan duduk!" ujar beliau.
kami pun mengikuti perintahnya.
“Ada apa?” tanya dia.
“Tunggu sebentar!” pinta dosen sembari berjalan mengambil laptop di meja kerjanya.
Pak dosen kembali duduk dan segera memeriksa foto hasil potretan kami di laptopnya.
“Ini kurangin kontrasnya ...” ucap dosen menyodorkan tampilan foto yang ada di layar. Foto kedua dikomentari, “Yang ini pusat fokusnya sudah oke."
"Iya," balasku.
“Ini siapa modelnya?” tanya dosen setelah menslide foto berikutnya.
“Itu aku ... kok fotonya ada di sana?” tanya heran Yeri kepadaku.
“Oh maaf pak. Bukan yang itu foto nya,” sahutku.
***
Hari dimana pameran foto diselenggarakan sudah tiba.
Sebelum diserahkan kepada panitia, semua foto sudah diedit sebagaimana yang dikomentari oleh dosen. Semua mahasiswa jurusan fotografer mulai memasuki ruang pameran yang sudah dibuka.
Ternyata bukan hanya mahasiswa kampus ini saja yang bisa menikmati pameran, tetapi mahasiswa dari kampus lain juga diperkenankan memasuki pameran ini. Selain itu petinggi-petinggi universitas juga turut hadir dan menikmati karya kami.
Sambil memandangi foto jepretan kami yang menempel di dinding, aku pribadi merasa bangga sekali atas kerja keras yang sudah dilakukan.
*foto hanya ilustrasi
“Cantiknya ...” puji Yeri yang sama-sama sedang melihat foto.
“Terima kasih atas kerja samanya.” balasku kepadanya.
“Kalau begitu traktir aku!” pinta Yeri yang menyiratkan senyum simpul.
Ketua prodi datang, dia memuji hasil kami.
“Siapa yang memotret foto-foto ini?” tanya beliau.
“Kita berdua.” jawabku.
“Konsepnya apa?” selidiknya.
“Langit Senja,” jawab Yeri.
“Konsepnya bagus. Tapi ... apa maknanya?” lanjutnya bertanya.
“Dengan segala keindahannya. Tetap saja senja akan meninggalkan langit tanpa aba-aba, padahal langit menerima senja apa adanya,” balas ku.
“Sangat menarik.” tuturnya. “Good luck buat kalian!” tutupnya seraya menepuk pundaku.
Begitu acara pameran selesai, aku mengajak Yeri makan di luar sebagai ucapan terima kasih karena sudah berhasil mengakhiri tugas ini dengan sangat baik dan sempurna.