Winwin

Winwin
“Confession”



🌼 Bagian Yeri~


Tiga bulan sudah aku menyandang status mahasiswa, kakak laki-laki ku untuk pertama kalinya mengunjungi rumah yang aku tinggali. Dia datang lengkap membawa buket bunga yang berwarna-warni.


Aku menyambutnya dengan suka cita, bahkan aku memeluknya dengan erat.


Chemistry kami sudah seperti pasangan kekasih sungguhan, itulah mengapa Jennie selalu mempertanyakan hubungan kami berdua.


“Maaf, kakak baru bisa lihat kamu,”ungkapnya yang masih memeluk.


“Tidak apa-apa, aku mengerti bahwa kakak itu orang sibuk.”


Kak Dean melakukan tur rumah sendirian, sementara aku menyiapkan segelas minuman untuknya.


"Ini apa?" tanya dia yang sedang berada di kamarku.


"Apa?" balik tanyaku sambil berjalan ke arah kamar.


“Ini.” Memperlihatkan kotak kecil yang terlilit pita.


“Aaaahhh jangaaaaan!" jeritku yang langsung merebut benda itu darinya.


“Kenapa juga kakak masuk kamar anak gadis begitu saja? Keluar!” ungkap kesalku dengan mendorongnya keluar dari kamar.


Kak Dean hanya cengengesan setelah ku dorong-dorong,


“Itu tidak seperti apa yang kakak pikirikan,” ujarku menerka ekspresinya.


Ia masih menggoda dengan berkata, “Kamu ... jangan dulu punya pacar sebelum kakak mengakhiri status jomlo kakak ya?” dengan nada guyonan.


“Kenapa juga aku harus nunggu kakak laku dulu?” balas ku.


Kotak itu berisi sebuah jam tangan yang ingin aku berikan kepada Jefry. Sejauh ini, aku semakin menyukainya dan aku tidak ingin menyimpan rasa seorang diri.


"aku akan mengakui bagaimana perasaan ini kepadanya."


Sebelum mengatakannya, aku ingin Jennie tahu lebih dulu tentang ini.


Aku mengajak Jennie dan Willy di ruang obrolan grup chat untuk makan siang bersama di kantin kampus.


Di kantin ini, aneh rasanya karena suasa tak seramai biasanya. Terlebih, kami makan tanpa dihadiri Willy.


Enggan mempertanyakan apa yang terjadi antara Jennie dan Willy. Aku menyimpulkan sendiri kalau, "sepertinya hubungan mereka sedang dilanda keretakkan."


“Jennie ...” panggilku.


“Apa?" balasnya lirih.


“Sepertinya aku suka sama orang.”


Dari yang awalnya lesu, ekspresi Jennie langsung berubah menjadi berlebihan.


“Benarkah? Kamu sehat, kan?” Menempelkan punggung tangannya di dahiku.


“Benar,” balasku meyakinkan dia.


“Aku kira kamu tidak normal.”


“Bicara apa sih?” kataku yang tak menyukai ungkapannya.


“Maaf, Maaf ... Tapi siapa orangnya?” tanya penasarannya. “Siapa? Cepat kasih tahu!” lanjutnya.


“Kamu buat aku penasaran saja. Ngomong-Ngomong dia hebat sekali bisa membangunkan hati orang jomlo dari lahir. Siapa orangnya?” ujarnya yang dipenuhi sindiran.


“Ada deh,” cakap singkat ku. “Aku akan mengaku sama dia ...” sambungku.


“Mengaku apa?”


“Kalau aku menyukainya,” balasku. "Aku tidak mau menyukainya sendirian."


Aku melihat Jefry berjalan ke arah kantin dengan karisma yang ia pancarkan sampai-sampai orang yang ada di sinipun mengalihkan pandangan kepadanya.


“Waaahh," decak kagum mereka.


"Aku penasaran siapa orangnya ... siapa yang bisa bikin hati kamu kelepek-kelepek? Bilang,” tutur Jennie merengek penasaran.


Pandanganku sama seperti yang lain, tak luput tertuju pada Jefry.


Jennie juga melihat ke arah Jefry. “Bukannya dia satu jurusan dengan kamu?”


“Kita satu kelas,” Jawabku.


Setelah mengambil makanan, Jefry mencari tempat duduk. Banyak mahasiswa perempuan yang menawari tempat duduk dekat mereka, tapi dirinya menolak. Dia memilih bangku kosong dan makan sendiri.


"Aku tidak suka melihat dia,” ucap Jennie tak terduga.


“Kenapa?”


“Bukannya dia terlalu jual mahal?” tanya Jennie.


Aku tak bereaksi setelah mendengar pertanyaannya.


Tak lama setelah Jefry duduk di sana, seorang perempuan tiba-tiba duduk di depannya. Itu membuat semua perempuan lain yang ada di kantin ini bertanya-tanya, “Siapa dia?” tak terkecuali dengan ku.


Aku cemburu melihat kedekatan mereka, apalagi mereka saling mengobrol lebih dari sekedar bertegur sapa.


***


Perut ku terasa sakit karena makanan yang ku lahap tadi sedikit pedas, jadi aku pergi ke toilet.


Di dalam bilik toilet, aku mendengar ada yang datang.


“Kamu tahu, siapa perempuan yang duduk di kantin dengan Jefry?” tanya gadis yang tak kuketahui siapa.


“Kamu enggak tahu?” jawab gadis lain.


“Siapa dia?”


“Rose, pacarnya dari zaman SMA,” balasnya.


“Jefry punya pacar?” tanya kaget gadis yang pertama kali bertanya.


“Ya kali orang ganteng gitu enggak punya pacar,” balasnya untuk terakhir kali sebelum pergi.


Mendengar apa yang mereka bicarakan, aku tak bisa berkata-kata lagi. Confession? Sekarang aku tak mau melakukannya, niat yang sebelumnya aku patuhkan kini aku urungkan.


Jam tangan yang sudah aku siapkan, aku buang begitu saja di tong sampah toilet.


Aku tidak mau merusak kebahagiaan mereka walaupun tidak ada jaminan kalau aku akan diterimanya. Sampai kapan pun aku tidak akan merebut sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain.


"Tentang bahagia, semua orang punya porsinya masing-masing. Tidak perlu mengusik kebahagiaan orang lain, karena bahagia tak pernah seegois itu."