
🌼 Bagian Yeri~
Dia bukan pacar, tapi tak pernah berhenti menyayangi ku. Bukan pula seorang ayah, tapi dia yang selalu melindungi ku. Dia juga bukan ibu, tapi bawelnya melebihi ibu-ibu dan dia juga bukan teman, tapi selalu ada di saat susah dan senangku.
Dia adalah Kakak ku, Dean.
Saat perayaan ulang tahun kemarin, aku sedih sekali sampai-sampai menangis di kamar.
"Percayalah menangis tanpa suara itu sakitnya luar biasa."
Karena kak Dean yang mengantarkan pulang, jadi dia tahu bagaimana remuknya hatiku saat ini. Hari di mana seharusnya aku tersenyum berseri bahagia, tapi justru malah sebaliknya.
“Yeri ...” panggil kak Dean sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar yang terkunci. “Kamu harus makan dulu!" tuturnya karena melihatku tak banyak makan. “Kakak sudah masak buat kamu,” lanjut dia di balik pintu.
Aku tak menimpali jawaban.
Kemudian terdengar dia mengatakan, “Kakak simpan di meja makan, kamu harus makan ya!”
Aku tak memakannya. Bukan tidak mau menghargai usaha kak Dean, tetapi karena selera makan ku benar-benar sudah hilang.
Aku keluar kamar di pagi hari, kak Dean ternyata masih ada. Dia masih tidur di sofa ruang tamu.
“Kenapa dia tidur di sana? Pasti kedinginan,” gumamku yang merasa kasihan padanya.
Aku membuka makanan yang dibuatnya tadi malam, dan merasa tak enak karena tidak makan apa yang sudah ia buatkan. Jadi aku memanaskan makanan itu.
“Kamu sudah bangun?” Tanya kak Dean yang baru bangun. “Kamu lagi apa?” lanjut tanyanya sembari melangkah mendekat. “Kamu enggak perlu makan ini, kakak akan buatkan yang baru.”
Aku balas, “Enggak perlu ... kakak enggak berangkat kerja?”
“Hari ini kakak libur.”
Kemudian dia membuka kulkas. Wajahnya tercengang melihat isi kulkas, “Bagaimana bisa isinya cuma air putih saja?”
“Bulan ini kakak belum kasih uang, kan?”
“Oh iya ya,” tutupnya.
Kak Dean mengajak ku pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhan.
Dia sudah seperti material boyfriend. Bahkan tak ayal, saat orang lain melihat kami bersama akan menyangka jika kami adalah sepasang kekasih.
“Kalian cocok sekali ...” kata wanita paruh baya yang melayani kami.
Kak Dean membalas, “Terima kasih.”
“Dia bukan pacar saya,” ucapku menyangkal.
Orang itu berekspresi seolah tak percaya sambil membungkus semangka yang dipilih kak Dean.
“benar. Saya enggak bohong,” tuturku memastikan.
“Iya ... iya,” balasnya seakan mengolok-olok sanggahanku.
Dia memberikan semangka yang sudah dibungkus kepada kak Dean.
“Terima kasih,” ujar kak Dean dengan ramah kepada wanita itu.
Sebelum pergi. Aku masih ngotot dengan mengatakan, “Dia itu kakak ku!” yang langsung mendapat tarikan dari kak Dean agar menjauh dari tempat itu.
Kami pulang ke rumah, kakak membereskan semua belanjaan yang sudah dibeli.
“Kenapa tadi kakak diam saja?” tanyaku yang masih tak terima mendengar ucapan wanita itu.
“Kapan?”
“Tadi. Harusnya bilang kalau kakak itu kakak aku!” jelasku.
“Kenapa? Kamu risih?” tanya dia sambil membereskan barang belanjaan.
“Bukan begitu.”
“Kamu punya pacar?” lanjut tanya dia.
“Enggak punya,” balasku lesu.
“Kalau begitu ya sudah, kenapa harus repot-repot menjelaskan hubungan kita?” ujar acuh kak Dean.
Untuk Kakak ku tercinta, Dean :
“Terima kasih sudah menjadi pelipur laraku, berkat kehadiranmu aku mampu merasakan kebahagiaan yang kamu ciptakan. Terima kasih sudah menjadi kakak terbaik sekaligus berperan menjadi ayah, ibu, teman bahkan pacar sekalipun. Aku berdoa semoga kamu mendapat perempuan yang baik dan merasakan keberuntungan karena telah memilikimu seutuhnya. aku juga berharap untuk masa yang akan datang, kamu tidak lupa dengan uang bulananku.”