
🌼 Bagian Yeri~
Akhirnya, aku dan Jefry akan pergi ke pantai hanya berdua saja. Aku berdiri menunggu kedatangannya di halte bus. Dia terlihat berjalan mendekat dari arah barat, aku melambaikan tangan diiringi senyum manis.
Sambil menunggunya membeli tiket, aku masih tak menyangka bisa pergi dengannya seperti ini.
Aku berjalan di belakangnya, menaiki bus yang akan membawa ke tempat tujuan. Kami duduk saling berdampingan.
Bus yang kami tumpangi mulai menambah kecepatan, secara tak sadar sesekali aku senyum sendiri macam orang tak waras akibat perasaan yang menggebu.
Sejauh ini, tak ada obrolan di antara kami.
Jefry mulai terlelap tidur, sesekali aku mencuri pandang paras tampannya.
“Aku tidak melihat tanda-tanda keburikan sama sekali di wajahnya,” tuturku dalam benak.
Sudah setengah perjalanan dilalui dan dia masih tidur, posisinya terlihat tak nyaman. Kepalanya meliuk-liuk kesana kemari sampai akhirnya mendarat di bahu ku.
"deg deg deg." Bunyi jantungku.
Bus yang kami tumpangi sebentar lagi tiba di lokasi, namun Jefry masih belum bangun dari tidurnya.
Melihatnya yang terlalu pulas, aku tak tega untuk membangunkannya walaupun bahu sudah pegal menjadi tumpuan kepalanya.
Bus berhenti di dekat pantai, Jefry bangun dari tidurnya.
“Kita makan dulu saja yuk ...” ajaknya kepadaku setelah turun dari Bus.
Kami mencari-cari tempat makan di sekitar pantai, namun tempatnya berbanding terbalik dengan yang ada di kota.
Tempat makannya biasa saja dan tergolong sederhana.
“Kamu enggak apa-apa kan makan di sini?” tanya Jaehyun.
“Aku enggak peduli makan di manapun asalkan sama kamu,” jawabku dalam hati.
“Enggak apa-apa,” balasku yang terucap di bibir.
Tak banyak makanan yang disajikan, karena kami harus mengejar waktu agar pulang tak terlalu malam.
“Apapun makanannya, kalo ditemani Jefry pasti enak dinikmati,” pikirku.
(foto hanya ilustrasi)
Diam-diam aku ingin memotret Jefry, hanya saja dia sadar kamera dengan segera berpose.
"Kepada jingga yang menawan, ingin ku ceritakan perihal mengharapkan yang saat ini sedang aku usahakan. Biarkan angan ku tersampaikan sampai merasuk ke kalbunya, hingga rasa yang ku jaga segera mendapat balasan."
“Kamu mau aku foto juga?” tanya dia.
“Enggak usah ...” tolakku dengan halus.
Hari mulai gelap, cuaca semakin dingin terlebih gerimis mulai turun. Jefry berlari untuk meneduh, dan aku mengikutinya dari belakang.
Kami berteduh di warung kecil dekat pantai, namun tak hanya kami saja melainkan beberapa wisatawan lain pun juga berteduh di sini.
Kami duduk saling berdampingan di bangku yang sama, aneh sekali rasanya bisa seintim ini dengan Jefry.
Angin mulai berhembus, cuaca menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Tanganku bergetar, tubuhpun menggigil kedinginan.
Kalau lihat di drama korea, biasanya pada saat seperti ini seorang pria akan dengan mudahnya memberikan jaket, jas atau sweaternya kepada perempuannya.
Tapi berhubung ini bukan drama korea, aku tak boleh mengharapkan itu.
“Sadar Rey!” ucapku kepada diri sendiri.
Jefry memesan dua gelas kopi hangat ke bibi warung, dia menunggu beberapa saat dan akhirnya kembali dengan 2 cangkir di tangannya.
“Terima kasih,” ucapku setelah dia memberikan satu cangkir kopi.
Dia membuka jaket yang sedang dipakainya.
“Pakai ini!” tuturnya melebarkan jaket miliknya di bahuku.
‘dag dig dug serrrrrrr.’ Suara detak jantungku semakin berguncang seakan mau kejang-kejang.
“Semakin tinggi harapanku kalau kamu bersikap seperti ini,” ucapku dalam benak selagi menatapnya yang sedang meminum kopi.