
🍁 Bagian Jaehyun~
"Tak perlu seseorang yang sempurna, cukup temukan orang yang selalu membuat ku bahagia dan membuat ku lebih dari siapapun."
Ungkapan itu pantas aku tujukan kepada Rose.
“Terima kasih sudah hadir di hidupku selama 2 tahun ini. Kamu menganugerahkan kebahagiaan untukku,” ujarku kepada Rose saat kami sedang berkencan.
“Suatu saat, aku mungkin akan jadi orang yang membosankan. Dan kalaupun itu sampai terjadi ... maka bertugaslah untuk membuat semua menyenangkan, jangan malah pergi meninggalkan." Memeluk erat tubuhku.
“Aku cinta kamu,” bisik ku di telinganya.
Rose adalah orang pertama yang mampu menggetarkan hati ku, selain paras cantiknya aku juga menyukai kepribadiannya. Aku bukan tipe orang yang selalu memberikan kalimat puitis, tapi ketika sedang bersamanya aku menjelma menjadi pria romantis.
***
Awal masa kuliah, ketimbang harus pulang-pergi dari rumah-kampus. Aku memilih untuk tinggal di sebuah kontrakkan satu petak. Selain murah, lokasinya juga tidak jauh dari kampus jadi setidaknya bisa menghemat pengeluaranku.
Hidupku tidak seperti kebanyakan mahasiswa lain yang serba ada dan apa-apa tinggal minta kepada orang tua. Untuk kuliah di kampus ini saja, aku harus berjuangan mati-matian. Dari mulai megikuti berbagai lomba, segala macam kegiatan, sampai akhirnya mendapatkan beasiswa. Dan orang yang menemaniku ialah Rose, maka dari itu aku bersyukur sekali memilikinya.
Secuek dan sedingin apapun sikapku kepada orang lain, aku tidak pernah menunjukkan itu kepada Rose karena sudah sepatutnya aku memberikan kehangatan untuknya.
“Kamu mau makan apa?” tanyaku kepadanya setelah menonton film bioskop.
Rose tersenyum. “Apapun yang kamu pesan, aku akan makan semua.”
Kami makan bersama di restoran favorit.
Aku memang bukan tergolong orang berada, tapi setidaknya aku mampu membayar biaya kencan hasil dari kerja paruh waktu bukan minta dari orang tua.
***
“Ternyata benar. Terkadang perkataan orang tualah yang bisa mematahkan semangat anaknya,” tuturku hanya dalam benak setelah mendengar ucapan Bapak.
Enggan sekali menyerah sebelum memulai, maka dari itu aku di sini benar-benar berjuang sendiri tanpa mengharapkan apapun dari mereka.
Selama memulai kuliah, aku selalu mengunjungi mereka minimal satu bulan sekali karena bagaimanapun juga aku tetap bagian dari keluarga ini.
“Assalamualaikum? Pak, Bu aku pulang!” panggilku yang langsung masuk rumah.
Ibu segera menghampiri. “Waalaikumsalam. Kamu pulang kok gak kasih kabar dulu?"
“Pak sini! Ada Jefry!” teriak ibu memanggil. “Kamu sudah makan? Biar ibu masakkan sesuatu buat kamu,” lanjutnya.
Kami berkumpul bersama, mengobrol dan bercanda. Walaupun mereka sempat membuatku kecewa, tetap saja mereka selamanya akan menjadi orang terkasihku, sampai kapanpun aku akan menyayangi mereka.
Ibu memasak makanan kesukaanku, lalu kami makan bersama.
“Bagaimana kuliah mu?” tanya bapak.
“Aku senang bisa kuliah di sana.”
“Maaf. Bapak tidak bisa kasih apapun buat kamu," tutur bapak.
“Enggak apa-apa. Aku mengerti kok ... bapak penuhi saja kebutuhan pendidikan Jessi.” balasku membela adik perempuan. “Aku hanya perlu doa yang terbaik saja. Itu sudah cukup,” pinta sederhana ku.
“Ibu selalu berdoa buat kamu nak,” sambung ibu.
Untuk kedua orang tua ku yang terkasih,
“Begitu banyak pujian yang ingin aku ungkapkan pada kalian, tapi aku sungkan untuk mengatakannya. Maka dari itu aku hanya bisa memilih kalimat ‘Terima Kasih’ karena kalian, aku bisa menjadi seperti ini. Dan memilih kata ‘maaf’ karena selama ini aku sering membuat kalian kesusahan. Tapi percayalah, aku selalu menyelipkan 'Rabbigfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran' (Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku. kasihanilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil) di setiap akhir sholatku."