
🌹 Bagian Rose~
Secuek dan sedingin apapun sikap Jefry, dia tak pernah mengabaikanku karena aku adalah prioritasnya. Namun belakangan ini, dia sudah jarang mengabariku. Aku tak tahu apa yang terjadi padanya karena dia sangat sulit sekali ditebak.
Aku berdiri menunggu di depan ruang kelasnya. Dia keluar, dan segera mendekat pada ku.
Kami berjalan saling bergandeng tangan.
“Habis kuliah selesai mau kemana?” tanyaku yang berada di sampingnya.
“Kenapa?”
“Ayo kita nonton film!” ajakku.
Dia melepaskan genggamannya. Kemudian membalas, “Maaf, aku enggak bisa.”
“Aku harus pergi.” tuturnya sebelum meninggalkanku.
***
Dia sibuk dengan dirinya sendiri, sedangkan aku sibuk menyatu dengan kasur di hari libur ini. Di chat jam 7 pagi, dibuka jam 1 siang, dibalas jam 7 malam. Aku pikir dia sedang weekend di planet mars.
Aku merajuk karena dia sudah abai dengan pesan yang ku kirim kemarin, tapi dia bersikap seolah masa bodo.
“Kamu ini kenapa? Kamu sadar enggak, kalau sikap kamu sudah berubah?” tuturku yang merasakan kekecewaan.
“Berubah apanya?” tanya Jefry.
“Aku chat kamu enggak dibalas, sesibuk itu kah kamu sampai membalaspun enggak ada waktu?” tanyaku dengan nada sedikit marah.
“Kamu marah gara-gara itu? Bahkan kita ini sudah bukan anak remaja lagi,” balasnya yang seakan meremehkan.
Kalimat yang ia lontarkan, benar-benar membuatku lebih marah. Memang kita sudah bukan anak remaja lagi, tapi dia tidak menghargai seberapa lama aku menunggu balasan darinya.
Semenjak itu, aku mulai kecewa padanya. Kini giliran aku yang mengabaikan pesan darinya, isi pesannya hanya sebuah permintaan maaf selama 5 hari berturut-turut.
"Terkadang bersikap cuek itu lebih baik daripada sudah peduli tapi tak dihargai."
Untuk pertama kalinya, Jefry menunggu di luar kelasku. Aku melewatinya begitu saja.
Dia mengejarku, ingin menjelaskan apa yang terjadi. Akhirnya kami pun bicara empat mata.
“Aku minta maaf. Aku yang salah,” ungkapnya.
“Enggak, kamu enggak salah. Sikapku saja yang terlalu kenak-kanakan.”
Dio, salah satu teman sekelasku memanggil agar aku segera menyusulnya.
“Kita bicarakan nanti saja,” tutup ku.
***
“Aku yang traktir!” tutur Dio. “Mau rasa apa?”
“Apa saja” balasku.
Jefry juga datang hendak membeli roti. Dia melihatku yang sedang duduk makan bersama Dio, tapi wajahnya tak berekspresi jadi sulit untuk ditebak.
***
Aku tipe orang yang tak bisa lama-lama bersikap cuek, mungkin sekarang waktunya aku menyudahi ini. Tak tega rasanya terus-terusan mengacuhkan Jefry seperti ini, maka dari itu aku meminta agar dia menemuiku.
“Maaf aku enggak balas semua pesan kamu,” bukaku saat bersamanya.
“Enggak, aku paham kok.”
“Paham apa?” tanya ku.
“Paham bagaimana rasanya diabaikan,” Jawab dia. “Aku juga minta maaf!” sambungnya.
Aku tersenyum karena sekarang dia sudah mulai ramah.
"Kamu maafkan aku?" tanyanya.
"Iya. Tapi ... kamu tidak boleh seperti itu lagi, aku enggak suka."
Dia tersenyum. "Iya. Aku janji."
Kami berjalan saling menggenggam, merasakan kebahagian sederhana ini. Aku menatapnya dengan senyum manis, lalu dia mencium punggung tanganku dari genggamannya.
“Tapi ... siapa yang waktu itu duduk di toko roti sama kamu?” ucapnya menghentikan langkah.
“Kenapa?” tanya ku.
“Enggak,” balasnya yang tak ingin memberi tahu alasannya.
Dia melepaskan genggaman tanganku, lalu berjalan di depanku.
"Kamu cemburu?” tanya ku menggodanya.
“Enggak,” jawab ketus dia.
“Ey benar, kamu lagi cemburu.” lanjut goda ku kepadanya.
***
Jefry itu aneh, cuek, susah ditebak, sikap dinginnya bahkan melebihi beruang kutub. Tapi entah kenapa aku justru tambah sayang sama dia.
Aku berharap, secuek apapun sikapnya semoga dalam hati kecilnya dia takut kehilanganku. Aku cinta Kamu, Jefry.