
🌼 Bagian Yeri~
“Lagi di mana?”
Itulah chat yang di kirimkan Jefry kepada ku.
Tiba-tiba badan ku menjadi lemas, tangan gemetar, sedangkan hati seperti sedang bergejolak ketika mendapat pesan tersebut untuk kali pertama setelah 4 semester mengenal dia.
Jennie dan Willy yang berada di dekatku langsung ikut berhenti berjalan.
“Kenapa? Ada apa?” tanya Willy.
Aku berdiri mematung sambil memandangi ponsel, seolah tak percaya pesan itu dikirim olehnya.
“Bagaimana ini?” balik tanyaku kepada mereka dengan tangan gemetar.
“Kenapa?” tutur Jennie keheranan.
“Jefry chat aku.”
“Aku kira ada apa ...” jawab santai Jennie. "Apa?" sontak Jennie yang baru sadar dengan ucapanku.
“Ini chat pertama dari dia,” jelasku pada mereka.
“Lagi pula itu bukan ciuman pertama, kenapa lebay banget sih?” lanjut Willy meledek ku.
“Maklum, saking keasikan jomlo jadi gak biasa dapet chat” tutur Jennie mendukung Willy.
***
Ada cerita di balik pesan yang dikirim Jefry, dia tidak semata-mata mengirim itu kepada ku.
“Berhubung akan diadakan pameran foto dengan tema Beautiful World, jadi kalian saya tugaskan untuk memotret hal-hal yang indah,” ujar dosen yang menjelaskan di depan kelas. “Kelompoknya sudah saya bagi, kalian bisa cek di website mata kuliah saya!” lanjut beliau. Kemudian menutup dengan, “Oke kalau begitu pertemuan kali ini cukup sampai di sini. Tolong potret sesuatu yang bikin kita terpesona ya!”
Dosen pergi meninggalkan kelas, dan semua orang mulai sibuk membuka website.
“Yeri ...” panggil Mikha dari belakang.
Aku menoleh, "Apa?"
“Aku iri sama kamu,” imbuhnya.
“Kenapa?” tanyaku dari jauh.
“Kamu satu kelompok sama Jefry.”
Seakan tak percaya dengan ucapan Mikha, aku memastikan bahwa nama ku benar-benar tertulis di website bersanding dengan Jefry.
Ternyata benar, setelah melewati sekian purnama. Akhirnya dosen memberikan kesempatan agar aku menjadi rekan satu tim Jefry. Walaupun hanya sebatas keinginan kecil yang sudah dari dulu aku aminkan, tetap saja aku tak bisa menyembunyikan senyum bahagia ini.
Aku harap semoga selanjutnya satu persatu keinginanku bisa tercapai dan bukan hanya sekedar fatamorgana, termasuk hubungan aku dengannya.
Setelah mendapat pesan itu, aku memintanya untuk bertemu di kafe dekat kampus. Aku datang lebih dulu di banding dia, jadi aku langsung memesan minuman.
Dia sudah terlihat sedang berjalan menuju kafe ini.
“Untuk kedepannya, aku harap kamu datang tetapi tanpa kata butuh melainkan rindu.” pikirku selagi dia mendekat.
“kamu sudah menunggu lama?” tanya dia yang langsung duduk berhadapan dengan ku.
“Enggak.”
“Pistachio dan Orange Blossom Cake,” ucap pelayan kafe mengantarkan pesanan ke meja tempat kami.
“Tau dari mana aku suka Pistachio?” tanya Jefry padaku setelah pelayan itu pergi.
“Memangnya apa yang aku enggak tau dari kamu?” tanyaku yang tak telontarkan di bibir.
“Kamu suka Pistachio?” tanyaku pura-pura tidak tahu.
Dia mengangguk, mengiyakan pertanyaanku.
“Kamu suka apa?” tanya Jefry kepadaku.
“Apa?” ucapku kebingungan.
“Tentang proyek kita, kamu sukanya apa?” tanya Jefry lebih jelas.
“Entah.”
“Kalau pantai bagaimana?” ucapnya mengeluarkan pendapat.
“Dibanding pantai. Aku lebih suka kamu,” jawabku yang lagi-lagi terucap dalam benak.
"Yeri ..." gebahnya padaku karena tak segera menjawab
Aku kaget. "Pantai? Aku suka.”
“Kapan kira-kira waktunya?” tanya dia.
“Aku tak masalah dengan waktu. Kapanpun itu, aku siap!” tegasku.
Untuk kali pertama kami berbincang berdua dalam waktu yang cukup lama sekalipun perihal tugas kuliah, tetapi tetap saja rasanya aku seperti sedang menguasai dunia.
***
Berhubung hari ini tidak ada jadwal kuliah, aku berencana mengajak Jennie ke pusat belanja untuk membeli pakaian dan lain sebagainya.
Aku menunggunya di kafe tempat biasa kami nongkrong. Tak ku sangka, Willy dan Jennie sudah seperti baut yang tak bisa dipisahkan dengan Obeng.
Mereka datang bersama.
“Awas saja kalau sampe enggak jodoh!” tuturku kepada mereka berdua yang baru saja tiba.
“Sayang mau minum apa?” tanya Willy kepada Jennie.
“Sama kayak kamu deh,” balas Jennie dengan nada manja.
“Bisa enggak bucinnya nanti saja? Ini keberadaan aku saja sudah seperti kambing conge tahu enggak?” lanjutku karena iri melihat keharmonisan hubungan mereka.
Selagi menunggu pesanan mereka, ada pesan masuk ke ponsel milikku.
“Sudah menentukan lokasinya belum?” tanya Jefry.
Kali ini aku bahagia enggak jelas, senyum sendiri memandangi ponsel.
“Sok mengatai orang lain bucin padahal dia sendiri kalau dapat notifikasi chat dari doi langsung girang hip-hip hore-hore gak jelas,” tutur Jennie.
“Kamu balas chat dia sambil senyum, sedangkan dia balas chat kamu sambil merem. Aku turut prihatin ya!” canda Willy.
“Punya teman bukannya saling mendukung, malah pada meledek. Memang enggak ada akhlak ya kalian!”
Kadang heran juga bumi seluas ini, ada 7 miliar orang di dunia tapi aku maunya sama Jefry saja sampai rela harus menunggu 4 semester demi mendapatkan chat dari dia.