Winwin

Winwin
"Pasca Putus"



🌹 Bagian Rose~



Akibat ego berlebihanku yang berani memutuskan jalinan cinta dengan Jefry untuk pertama kalinya sedikit membuatku merasa menyesal.


Seribut apapun angin menerjang perjalanan hubungan kami, baik aku ataupun Jefry tak pernah saling mengatakan kata ‘putus’ satu sama lain. Tapi kenapa aku kemarin sampai mengatakan kata itu?


“saya berhenti karena saya sadar, yang saya perjuangkan tidak ingin diperjuangkan.”


***


Seminggu sudah aku putus dari Jefry, aku mulai merasa kehilangan.


“Ternyata benar, berharganya seseorang akan terasa sangat nyata jika telah hilang. Maka selagi ada, tolong dijaga.”


Dalam suasana kantin yang ramai, mataku tertuju kepada Jefry yang sedang makan sendirian. Jika biasanya aku datang menghampirinya, kini tak bisa ku lakukan lagi.


“Kita duduk di sana saja,” ucap Dio menunjuk bangku kosong.


Jaehyun jelas-jelas melihatku namun abai.


"Dan ternyata hal yang aku takutkan pun terjadi, ketika aku tidak bisa melihat senyuman itu lagi. Percayalah ini lebih dari sekedar patah hati."


Karena aku hanya diam saja, Dio menegurku yang sedang memandangi Jefry dari jauh.


“Haruskah kita makan di luar?” tanyanya.


“Enggak usah, kita makan di sini saja.”


Kami duduk saling berhadapan, tentu saja aku lebih memilih membelakangi Jefry.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Dio karena melihatku tak nafsu makan.


Jefry selesai makan, dia melewatiku begitu saja dengan membawa tempat makanan miliknya tanpa menegur ataupun menyapa.


“Ikhlaskan yang telah pergi sebab dari tangan yang terbuka karena melepaskan, akan ada sesuatu yang lebih baik yang bisa kamu genggam,” tutur Dio.


***


🍁 Bagian Jefry~



Rose sudah cukup menderita berada disampingku dan aku paham betul bahwa hati Rose bukan pensil yang bisa kupatahkan kapan saja, maka dari itu aku berhenti untuk tidak melukai lebih dalam agar lukanya bisa segera disembuhkan.


"Kenapa mencintai bisa sebahagia itu, sementara kehilangan harus sehancur ini? Entahlah semua terasa sangat membingungkan."


Jika langit memiliki pelangi untuk dibanggakan, dulu aku memiliki Rose untuk diperjuangan. Tapi untuk sekarang aku harus bisa merelakan. Walaupun kita tidak bersama sampai akhir, setidaknya aku pernah menemaninya walau hanya setengah jalan.


Sebelum akhirnya putus dengan Rose, aku sadar bahwa sudah membuatnya menunggu tapi percayalah walaupun kita tak bertemu bukan berarti aku tak merindu, walaupun aku tak menyapa bukan berarti aku lupa karena semua tentang Dia selalu lebih dulu aku utarakan lewat doa.


Saat masih bersama dengan Rose. Aku pernah berkata, “Jika aku salah, silakan marah sepuasnya. Tapi tolong ... jangan tinggalkan aku! Aku tahu, banyak yang tertarik sama kamu. Asal kamu tidak peduli, itu sudah cukup buatku.”


Dia juga berucap, “Akan selalu ada wanita yang lebih cantik dari aku, dan aku harap kamu hanya menjadi pria yang tidak peduli akan hal itu.”


Ucapan-ucapan itu masih jelas sekali terdengar di telingaku, namun kehendak tuhan berbeda. Kita sudah tak ditakdirkan bersama lagi, dan sekarang kalimat-kalimat itu menjadi sebuah omongan bulshit.


Pasca putus, rindu rasanya kita duduk bareng, saling menatap dan memberi senyuman.


Aku berpapasan dengan Rose di ruang auditorium, untuk kesekian kalinya kita hanya saling memandang tanpa memberi sapa padahal hati tak pernah berhenti mencintainya.


“Dan kemudian kita saling diam, perlahan kita saling menjauh. Dan akhirnya kita kembali ke waktu di mana kita belum saling mengenal,” ujarku yang cukup terlontarkan dalam benak.


“Rose!! Cepat sini!!” teriak Dio yang mungkin tak melihat keberadaan ku karena banyaknya orang.


Dia pergi begitu saja tanpa sapa atau pamit.


Bagian tersedih dari kehilangan adalah saat dia berhenti simpati, berhenti peduli, dan berhenti memastikanmu baik-baik saja.