Winwin

Winwin
"Idaman"



🌼 Bagian Yeri~


Memiliki media sosial di era milenial sudah menjadi suatu keharusan. Jika tidak, maka siap-siap saja tertinggal zaman. Aku sendiri memiliki akun hampir di setiap aplikasi platform publik untuk mengikuti perkembangan.


“Apa ini?” ucapku setelah menonton video Jefry yang tengah viral.


“Apa?” tanya penasaran Jennie.


Aku memperlihatkan video yang diberi caption "pahlawan kaum mak-mak." itu kepada Jennie.


“Sudah ganteng, penolong, jago bela diri, memang enggak ada kurangnya dia itu. Idaman banget pokoknya,” tuturku senyum-senyum setelah menonton video tersebut.


Dia tertawa mengejek. “Sekarang saingan kamu adalah mak-mak,” setelah membaca komentar-komentar.


Sebuah notifikasi pesan terdengar saat ponsel masih dipegang Jennie.


“Ada chat dari Jefry,” ujarnya.


Seketika aku langsung rebut ponsel darinya.


“Foto-fotonya kita tinjau sekarang yuk! Sekalian desain konsepnya,” tulis pesan yang kirim Jefry.


Setelah aku membaca pesan, aku segera pergi meninggalkan Jennie.


“Mentang-mentang sudah mulai dekat, temannya langsung ditinggal!” teriaknya melihatku berlari.


Aku membuka pintu restoran cepat saji yang dekat dengan kampus. Dia sudah duduk, fokus dengan laptopnya sampai tak menyadari keberadaanku di depannya.


“Dari kapan kamu di sini?” tanya dia yang baru sadar.


“Sudah dari tadi,” balasku.


“Maaf, aku terlalu fokus mengerjakan ini!”


“Enggak apa-apa kok.”


Aku juga membuka laptop, turut membantu menyelesaikan pekerjaan kelompok kami.


Sudah waktunya jam makan siang, restoran mulai dipenuhi orang-orang. Tentu saja suasana menjadi ramai, menjadikan kita tak fokus mengerjakan.


“Haruskah kita pindah?” tanya Jefry tiba-tiba.


“Kemana?” tanyaku.


Kami pergi dari restoran. Sejauh ini, Jefry berjalan memimpin. Aku tidak tahu akan pergi ke mana, aku hanya mengikutinya saja. Di tengah jalan, dia mendadak berhenti. Lalu membalikan badannya, matanya indahnya menatapku.


Wajahku keheranan, namun bibirku spontan bicara "Ada apa?"


Tanpa wicara, dia mengambil tas laptop yang ku jinjing kemudian berjalan di depanku kembali.


Kini selain membawa laptop miliknya, dia juga membawa laptop milikku.


Di belakangnya, aku tersenyum manis. Berucap dalam benak, “Tidak salah lagi, dia memang pri idaman.”


Setelah melewati lika-liku gang rumah, akhirnya kami tiba di suatu bangunan yang terlihat seperti kontrakan.


Di depan pintu rumah kontrakan. Dia mengatakan, “Kita enggak bisa mengerjakan ini di perpustakaan kampus karena kita harus diskusi. Kita juga enggak bisa mengerjakan di kafe karena sesekali harus fokus. Kamu enggak keberatan kan kalau kita mengerjakan tugas di kontrakanku?”


Dia membuka kunci pintu, kemudian menyuruh ku masuk.


Aku melihat-lihat kontrakan kecil ini, ada beberapa 'b**arang' miliknya berserakan di lantai sehingga dia ribut mengambilnya.


“Maaf ... kontrakannya berantakan,” tuturnya setelah membereskan.


“Enggak. Segini sudah tergolong rapi buat kontrakan cowok,” balasku yang agak ragu.


Kami duduk di lantai dekat tempat tidurnya. Membuka laptop masing-masing dan mulai mengerjakan tugas.


“Ini bagaimana?” tanyaku ingin memperlihatkan desain konsep.


Yang tadinya layar laptop mau aku tunjukkan kepadanya, dia justru malah mendekat sehingga membuatku menjadi gugup. Yang mulanya kami duduk terpisah jarak, kini menjadi sangat dekat. Yang awalnya mau fokus mengerjakan tugas, justru malah fokus melihat wajah tampannya yang tengah memeriksa desainku.


“Bagus. Aku suka,” ucapnya yang masih fokus ke layar. “Tapi bagaimana kalau ini sedikit di perkecil?” sambungnya yang tiba-tiba menengokku.


Mata kami saling bertemu, tentunya menjadikan situasi agak canggung. Namun baru seperti ini saja, perasaanku sudah meleleh lebih dulu.


“Sadar Rey!” tuturku yang langsung kembali fokus ke laptop.


“Yang mana?” tanyaku gelagap.


“Yang ini!” jawab Jefry menandai desain yang aku buat.


Sudah hampir 4 jam aku terjebak di ruangan ini bersama dia, perutku mulai keroncongan menandakan ingin makan.


Aku malu karena Jefry mendengar suara perutku.


“Mau aku buatkan makanan?” tanyanya.


“Kamu bisa masak?”


Dia beranjak ke dapur, kemudian mengeluarkan bahan-bahan makanan.


“Idaman sekali ya tuhaannnn. Makin cinta pokoknya," tuturku dalam benak begitu melihatnya mulai memasak.


Setelah selesai memasak, dia segera membawa makanan yang dibuatnya kepadaku.



Aku mengagumi hasil masakannya, tak lupa juga menyanjungnya.


“Boleh aku makan sekarang?” tanyaku yang ingin segera melahap makanan.


“Silakan!” suruhnya.


Aku mulai mencicipi. “Enak banget,” pujiku terhadap makanan buatannya.


“Kalau begitu habiskan ya!"


Kegiatan di kontrakan Jefry berakhir sampai di sana.


(Jangan mengharapkan adegan lebih ya kalian hehe)