Winwin

Winwin
"Karena Kita Keluarga"



🌼 Bagian Yeri~


Hari ini merupakan hari di mana Kak Dami dilahirkan, sekarang usianya sudah lebih dari ¼ abad. Ayah bahkan mengirimkan pesan, memintaku untuk menghadiri pestanya malam ini.


Seperti yang diketahui, aku memang kurang suka dengan kakak yang satu ini, tapi disisi lain pikiran ku selalu meyakinkan hati dengan berkata, “Kita adalah keluarga, kamu gak boleh seperti itu.”


Sembari menunggu dosen yang akan mengajar, aku asik membaca buku. Teman-teman di kelas tiba-tiba menjadi berisik setelah kedatangan Sakila dan Febry yang menggosipkan seseorang.


‘Ada laki-laki di luar yang kebingungan seperti orang tersesat,’ itulah tema yang digosipkan mereka.


Namun yang mereka bicarakan adalah bagaimana paras tampan orang itu.


“Hei hei ... di luar ada cowok, cakep banget. Mukanya tuh kayak blasteran Indo sama surga tau gak?” tutur Sakila dengan nada centilnya.


“Dia tipe idaman aku banget,” timpal Febry.


“Aku juga tadi lihat!” sambung orang yang duduk dekat Sakila.


“Kayaknya dia bukan anak kampus sini deh,” ucap orang satunya lagi.


“Benar. Soalnya aku baru lihat,” tembal yang lain.


Mikha dan Jefry baru datang, sambil berdiri di ambang pintu. Mikha berkata, “Yeri ... ada yang mencari kamu tuh!”


Aku berhenti membaca. Kemudian bertanya, “Siapa?”


“Namanya Dean.”


Aku bergegas keluar, mencari keberadaannya sambil menghubungi via telepon.


Kami saling bertemu. Dia memberi tanda dengan menebar senyum indahnya.


Aku mendatangi. “Kenapa jauh-jauh datang kesini?” tuturku memarahinya. "Pakai tebar pesona segala lagi! Enggak tau apa ... anak orang sudah pada kayak mau meninggal," lanjutku karena semua cewek di kelas kelepek-kelepek melihat ketampanannya.


“Bicara apa sih?” timpal dia yang tak paham situasi.


Aku berdalih, “Ada apa?”


“Enggak ada apa-apa. Kakak datang karena kangen kamu,” jawabnya sekaligus mencubit kedua pipiku dengan pola lucunya.


“Kenapa sih?” ucapku menyeringai.


Tampaknya orang-orang disekitar tertarik dengan kak Dean, mata mereka tertuju kepada kami berdua.


Aku membawanya ke tempat sepi agar tak ada lagi orang yang melihat kita dengan tatapan-tatapan yang membuat tak nyaman.


“Kenapa tiba-tiba datang tanpa kasih kabar dulu?” tanya ku.


“Kenapa? Kamu enggak suka?” balik tanya kak Dean.


“Bukan begitu. Bagaimana kalau aku lagi enggak ada di kampus?” balasku. “Ada apa?" sambungku.


“Kakak datang kesini untuk jemput kamu,” tuturnya. “Kamu kan tahu, hari ini ulang tahun Dami” lanjutnya.


“Terus?” tanya ku.


“Kamu harus hadir!” tegasnya.


“Kenapa?” lanjutku bertanya.


“Kamu kan adiknya!” tembal kak Dean.


“Aku enggak akan datang!”


“Kamu enggak boleh seperti ini!” tentangnya mengenai keputusanku.


“Kakak tau kan, bagaimana hubungan aku dengan kak Dami?” timpalku.


“Kakak tau. Tapi kamu harus tau juga, kak Dami itu sebenarnya sayang sama kamu.”


“Darimana kakak tahu?” tanyaku.


“Kakak merasakannya. Dia kakak kamu dan kamu itu adiknya. Kita adalah keluarga. Di mana ada keluarga yang tidak menyukai satu sama lain?”


Aku tak membalas ucapannya.


“Kapan kelas kamu selesai? Kakak akan tunggu kamu sampai jam kuliah berakhir,” kukuhnya.


Aku kembali ke kelas dengan perasaan, “Aku ingin pergi, tapi banyak tapinya.”


“Kakak ku,” balasku sambil mengeluarkan buku dari tas.


“Masa sih? Kok enggak mirip?” lanjut penasarannya.


Aku mengabaikannya. Namun dia menambahkan, “Muka kakak mu lumayan, tapi kamu kok?” dengan nada mengejek.


“Sudah,” pangkas Jefry seraya menarik Mikha agar kembali melihat ke depan kelas.


Seperti perkataannya, kak Dean menungguku sampai kelas usai.


***


Kami datang ke lokasi bersama-sama. Di Restoran inilah pesta akan diadakan.



Terus terang aku merasa iri setelah datang kesini. Suasananya berbanding terbalik dengan pesta ulang tahunku kemarin, terlebih ayah turut hadir.


“Kamu duduk di sini!” pinta ayah agar aku duduk di dekatnya.


Alunan musik romantis turut mengiringi pesta.


“Dami belum datang?” tanya Kak Dean kepada Bunda yang juga hadir di sini.


“Sebentar lagi dia datang," jawabnya.


Seperti apa yang dikatakan Bunda, Dami datang bersama dengan pria.


Orang tuaku menyambut ramah kedatangan mereka. Senyum sapa Bunda, Ayah dan kak Dean langsung ditunjukkan kepada mereka.


Makanan mewah berikut kue ulang tahun disiapkan para pelayan.


Mereka mulai mengobrol satu sama lain, namun ucapannya tak ada yang bisa aku pahami karena yang dibicarakan adalah tentang dunia medis dan rumah sakit.


“Ini hadiah buat kamu,” ucap pria yang tak ku ketahui namanya itu sembari memberikan kotak kecil.


“Boleh aku buka sekarang?” tanya kak Dami disertai senyum mesra.


“Silakan!”


Kak Dami membuka kado darinya, isinya adalah sebuah kalung putih yang sangat menawan.


“Bagaimana? Kamu suka?” tanya kembali pria itu.


“Suka banget. Terima kasih ya,” balas Dami.


“Kenapa diam saja?” tanya bunda kepada Pria itu.


Pria itu pun kebingungan dengan pertanyaan bunda.


“Cepat pasangkan di lehernya!” suruh bunda.


Mereka tertawa canggung. Pria itu pun segera memasangkan kalungnya. Kemudian duduk kembali seraya berkata, “Cantiknya.” Memuji penampilan Dami setelah memakai kado pemeberiannya.


“Ini hadiah dari kakak,” ucap kak Dean.


"Terima kasih banyak loh kak,” jawabnya dengan sumringah.


Sekarang giliranku memberikan hadiah kepadanya.


“Ini dari aku.”


“Terima kasih,” balas singkatnya.


Acara makan sudah selesai, sekarang waktunya untuk pulang. Pria yang di bawa kak Dami berpamitan kepada kami.


“Terima kasih sudah datang. Hati-hati di jalan!” ucap kak Dami kepadanya yang sudah berada di dalam mobil.


“Aku pergi ya!” balasnya melalui kaca mobil yang terbuka.


Setelah Ia pergi, ayah mengatakan sesuatu “Ayo kita pulang!”


“Ayah ...” tuturku. “Aku enggak pulang ke rumah!” lanjutku.


“Dean antar dia pulang!” suruh Ayah.


Memang benar jika harta yang paling berharga adalah keluarga. Mereka sama berharganya bagiku walau hubungan kami tak seerat keluarga yang lain.