
🐑 Bagian Min~
Selama 4 semester ini dibanding teman-temanku yang lain, aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama Jefry. Sudah menjadi rahasia umum kalau dia itu tidak pandai bersosialisasi dan selalu menyendiri, jadi aku selalu menemaninya.
Jika dulu aku tidak mendekatinya mungkin saja sekarang ini dia tidak memiliki teman sepertiku yang gantengnya tak berperikemanusiaan.
Jefry terlihat sedang memotret lingkungan sekitar, aku jalan mengendap-ngendap ingin mengagetkannya.
Aku merangkulnya dari belakang. “Lagi apa?”
Dia melepaskan rangkulan. “Kamu enggak lihat?”
“Judes amat,” balasku sambil duduk di bangku panjang dekat dia. “Hari minggu kita pergi ke kelab yuk!” ajakku kepadanya yang sibuk memotret.
“Enggak mau! Kalau mau bikin dosa enggak usah ajak-ajak ya!” ucap dia yang ikut duduk di sampingku sambil memeriksa hasil potretannya.
"Oh Tuhan bahasanya begitu amat sih?" ucapku. “Kemarin aku putus, jadi aku mau menjernihkan pikiran dan perasaan,” sedihku agar dia mau ikut pergi.
“Putus lagi? Secepat itu?” tanya dia yang terkesan meledek.
“Kamu ini benaran temanku bukan sih? Bukannya menghibur malah nanya kayak begitu,” balasku yang sebal mendengar pertanyaannya.
Dia beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah pergi tanpa ucap.
“Kamu mau ke mana? Aku kan belum selesai bicara!” teriakku kepadanya.
Dia membalikkan badan. “Kamu mau tetap di sana? Jam kuliah sudah mau di mulai.”
Kami mengikuti mata kuliah di kelas. Sambil memperhatikan dosen yang sedang menjelaskan, aku menempel pada Jefry, membujuk agar dia mau ikut.
“Jef ... kita jadi pergi ke sana, kan?” rayuku pelan.
Dia tak bergeming. Matanya fokus memperhatikan dosen yang sedang mengajar.
“Jef? Ya? Ya?” terusku kepadanya menunjukkan tingkah imut.
“Berisik!” balas dia. “Lupakan kelab. Kita pergi cari spot foto saja!” sambungnya.
“Ah enggak seru!” balasku kecewa.
Tiba-tiba saja seseorang menepuk punggungku dari belakang. Awalnya aku hiraukan, namun karena terus-terusan menepuk, aku menoleh dan menatap padanya.
“Mau pergi ke mana?” tanya Yeri dengan wajah polosnya.
“Bukan urusan kamu ya!” jawabanku ketus.
Aku kembali mengarah ke depan, memperhatikan dosen yang sedang mengajar.
“Boleh enggak kalau aku ikut?” tanya Yeri mendekat ke telingaku.
“Enggak boleh!” tegasku tanpa mengalihan pandangan.
“Kenapa enggak boleh?” rengek Yeri.
“Pokoknya enggak boleh.”
“Mik ... kamu enggak kasihan sama aku? Kalau libur kuliah aku enggak pernah kemana-mana. Bosan tahu enggak? Aku juga ingin menikmati indahnya dunia. Tapi ... aku gak bisa Kamu tau kenapa? Karena enggak ada yang mengajak aku pergi” tutur panjangnya yang menyedihkan.
“Benaran?” tanya dia seakan-akan tak percaya.
***
Sesuai dengan jadwal yang sudah diagendakan, kita bertiga pergi jalan-jalan ke tempat ramai yang banyak dikunjungi.
Kita menghabiskan akhir pekan bersama. Tampaknya Yeri juga sangat menikmati perjalanan ini, dia tersenyum sangat lebar.
***
Hari berikutnya, Aku dan Jefry makan di kantin kampus sambil mengobrol. Disela-sela obrolan, Yeri datang menghampiri sambil membawa nampan makanan.
“Boleh enggak ... kalau aku duduk di sini?” tanya dia masih berdiri.
Belum sempat di jawab, dia sudah duduk di sampingku lalu tersenyum ramah.
Tak ingin ambil pusing, kami melanjutkan makan bersama-sama.
Berganti hari aku membeli minuman di mesin otomatis, sepertinya ada yang tidak beres dengan mesinnya. Kaleng minumanku tak mau keluar sedangkan uang sudah masuk ke mesin.
Yeri datang menggebrak-gebrakkan mesin. Minumanpun ku ambil karena sudah keluat.
“Terima kasih,” ucapku kepadanya.
“Tolong belikan buat aku!” pintanya.
Karena aku bukan orang yang pelit, jadi aku membelikan minuman kaleng untuknya. Aku pikir urusan kami akan selesai setelah aku membelikan minuman untuknya, ternyata Yeri mengikuti dari belakang.
Aku berhenti, “Kenapa kamu mengikuti aku?”
Ia mengerutkan kening, "Apa?"
Aku berjalan kembali. Lagi-lagi, aku merasa Yeri seolah-olah sedang mengikutiku.
Aku berbalik mengatakan, “Lihat! Kamu mengikuti aku, kan?”
“Bicara apa sih?” tanya dia.
“Bilang saja! Kamu mengikuti aku ... karena suka sama aku, kan?”
Dia senyum menyeringai. “Sebentar, sebentar! Barusan kamu bilang apa? Siapa yang suka siapa?”
“Kamu suka sama aku!” tekanku padanya.
Wajahnya menjadi serius. “Jangan melawak ya! ... lagipula aku itu sukanya sama orang lain, bukan sama kamu!”
“Terus ... kenapa kamu selalu mendekati aku? Terus ... kenapa kamu sekarang mengikuti aku?” lanjut tanyaku.
“Dengar baik-baik! Aku enggak pernah mendekati kamu dan aku juga enggak mengikuti kamu. Aku jalan ke arah sini itu mau ikut mata kuliah fotografi pertunjukan,” balas dia dengan jelas.
Mendengar perkataannya membuatku sedikit blank. Aku tidak menyangka dia akan menjelaskan serinci dan setegas itu.
“Minggir!” tuturnya yang membuatku bergeser tempat.
“Barusan aku sedang apa? Secara tidak langsung dia menolakku, kan? Kenapa aku terlalu percaya diri kalau dia suka sama aku?” Tanyaku bertubi-tubi dalam benak setelah Yeri pergi mendahuluiku.