
🌼 Bagian Yeri~
Hari mulai berganti, sudah waktunya aku menghadiri jadwal kuliah pertama. Aku duduk di bangku ke dua dari depan, sedangkan Jefry duduk di belakangku dan Mikha di sampingnya.
Keadaan kelas sangat berisik karena saling mengobrol, namun menjadi hening setelah dosen datang. Kami mulai fokus memperhatikan apa yang disampaikan di depan.
Dosen memperlihatkan satu persatu hasil potretannya di layar infokus.
Kami semua memuji apa yang dosen tampilkan karena sangat indah dipandang.
“Saya harap tugas yang kalian kerjakan bisa lebih bagus dari ini!” tutup dosen mengakhiri kelas.
Setelah membereskan buku-buku ke dalam tas, aku berdiri hendak keluar untuk bergabung dengan Jennie dan Willy.
Baru berjalan 3 langkah dari kursi yang ku duduki, tiba-tiba seseorang mengikatkan jaket ke bagian perutku sehingga menutupi bagian pinggul.
Karena kaget, aku menengok ke samping kanan. Namun tiba-tiba orang itu mendekat lalu membisikan, “Aku pinjamkan jaketnya buat kamu.”
Makin lemas dong, karena yang mengatakan itu adalah Jefry.
Belum sempat aku respon, dia sudah pergi mendahuluiku bersama dengan Mikha.
Aku, Jennie dan Willy berkumpul di tempat biasa. Aku mengungkapkan kegembiraanku kepada mereka.
Jaketnya ku taruh di atas meja. Aku berkata kepada mereka dengan gaya berlebihan, “Jefry meminjamkan jaketnya sama aku. Pantas saja dia banyak digandrungi cewek-cewek.”
“Baru segitu saja sudah lebay, aku saja yang menyerahkan separuh hatiku untuk Jennie biasa saja!” balas Willy yang menyebalkan.
"Loh kok separuh? Kenapa enggak semuanya?" sela Jennie.
"Iya ... maksudnya semua," balas Willy mengalah.
“Ngomong-ngomong, mungkin enggak sih kalau ternyata ... Jefry suka sama kamu?” tanya Jennie sembari menyeruput Bubble Tea miliknya.
“Aku harap juga begitu,” ujarku dengan senyum simpul.
“Jaketnya bagus juga,” Tutur Willy memeriksa Jaket. “Tapi ini apa ya?” tambah dia yang masih memegang jaket.
“Apa?” tanyaku.
“Bukannya ini darah?” sambung Willy mempertanyakan noda di jaket.
Jennie turut memeriksa, “Rey ... coba kamu berdiri! Terus balik badan!” pinta Jennie yang kemudian aku turuti. “Kamu lagi datang bulan,” tututrnya setelah melihat pinggulku.
Aku terkejut mendengar penuturan Jennie. Rasanya malu sekali sampai ke Korea setelah memeriksa kebenarannya.
“Bagaimana bisa kamu enggak tahu?” lanjut tanya Jennie.
Malu sejadi-jadinya, bagaimana bisa aku memperlihatkan ini kepada Jefry sekalipun bukan kesengajaan. Rasanya ingin menangis sekeras mungkin kalau sudah begini, padahal yang ingin aku perlihatkan kepadanya adalah sisi cantik dan elegan bukan malah sebaliknya.
***
“Ini," ucapku merberikan jaket. "Terima kasih ya."
Ia mengatakan, “Iya sama-sama."
Aku mulai bertanya denga ragu, “Apa-- eumm ... eumm.”
“Mau tanya apa?"
“Apa-- kemarin kamu lihat-- euhhhh,” ucap gelagapku.
“Lihat apa?” lanjut tanya Jefry.
“Itu-- eumm.”
“Aku lihat!” balasnya yang tanggap dengan maksud ku.
Seketika wajahku memerah, menandakan bahwa aku sedang malu setelah mendengar langsung dari mulutnya sendiri.
“Jangan khawatir, aku pandai menjaga rahasia.”
“Aku tak masalah jika itu dilihat orang lain, tapi kenapa harus kamu yang lihat? Kenapa? Kenapa?” kesalku yang terbesit dalam benak saja.
“Iya, terima kasih ya!” tuturku kepadanya.
Kedepannya aku tak akan mengulang kejadian yang sama lagi terlebih dihadapan Jefry.
Kami mulai mengerjakan proyek kelompok yang sebentar lagi akan rampung.
“Sebenarnya waktu itu--” ucap Jefry yang terpotong olehku.
“Waktu itu? Kenapa?” ungkapku yang sudah deg-degan takut dia membicarakan hal kemarin.
“Waktu kita ke Pantai, aku fotokan kamu.”
Dia memperlihatkan sebuah foto dari laptopnya.
"Lihat!" pintanya.
Aku melihat hasil potretannya.
“Cantik, kan?” tanya dia yang membuatku melongo. “Fotonya cantik, kan?” lanjutnya melengkapi kalimat tadi.
“Aku pikir bukan fotonya yang cantik, tapi akunya ...” tuturku disertai tawa.
Dia tersenyum seraya mengelus rambutku.
Kemarin-kemarin ketika melihat Jefry dari jauh saja aku sudah bersyukur, sekarang aku sudah semakin dekat dengannya sehingga membuatku ingin memiliki dia seutuhnya.
"Apakah harapanku terlalu tinggi?"