
🍁 Bagian Jaehyun~
“Mending kita putus saja ...” ucap Rose tak terduga.
Hubungan yang sudah dibangun selama ini tiba-tiba harus kandas di tengah jalan pada tanggal 20 mei, saat kita sudah semester 3.
Dengan santai aku menyetujuinya, “Oke, kita putus saja.”
“Apa?” tanya Rose
“Bukannya kamu mau putus?” ujarku kepadanya.
Bukan aku tak ingin menahanmu, tapi semakin aku menahan, kamu akan semakin patah dan terluka. Untuk bersanding denganmu? Maaf aku tak pantas. Kenapa? Karena aku hanyalah pria yang tak punya komitmen dan tanggung jawab.
***
🌹 Bagian Rose~
H-10 sebelum putus.
Kami hanya berkomunikasi via chat, tidak ada teleponan apalagi tatap muka langsung. itupun mengirim pesan pukul 8 pagi kemudian baru sempat dia balas pukul 9 malam atau bahkan larut malam. Entah aku yang tidak penting atau dia yang terlalu sibuk.
Kami berada di bawah langit yang sama namun tak saling mengetahui, begitulah kira-kira.
Aku tak tahu sebenarnya apa yang sedang ia kerjakan, sampai sibuk tak terkira.
Sudah menjadi kebiasaan, hari demi hari aku menunggu setiap balasannya. Sampai suatu ketika, aku memasuki kelasnya.
Aku mengerti bahwa visualnya itu sangat menarik sehingga dia banyak dikagumi oleh wanita lain, tapi aku tak memahami jika semua wanita di kelasnya sering mengerumuni dirinya seperti itu. Aku berhak cemburu atas itu karena aku adalah pacarnya.
H-4 sebelum putus.
Kampusku akan melaksanakan pentas seni dua hari lagi dan aku sudah berlatih selama 2 minggu secara rutin untuk turut andil dalam acara tersebut, fisikku benar-benar lelah karena terlalu bekerja keras.
H-2 sebelum putus.
Sampai tiba akhirnya, di mana aku akan tampil di atas panggung.
“Kamu hari ini datang kan?” tanyaku kepada Jefry melalui chat.
Keadaanku saat ini benar-benar tak stabil, kepala ku pusing, badan pun lemas.
“Kamu enggak apa-apa?” tanya Dio.
Aku melihat cermin, wajahku tampak pucat walaupun sudah di rias.
“Enggak apa-apa kok.”
Karena aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, jadi aku tetap memutuskan untuk tampil.
Para pemain musik sudah berada di atas panggung, termasuk aku. Melihat banyaknya penonton membuatku semakin pusing, tapi aku tetap berusaha menemukan sosok Jefry diantara mereka.
“Dia sepertinya tidak datang,” gumamku.
kami memulai menampilkan musik.
Di tengah-tengah petunjukkan, kepalaku sakit sekali sehingga ingin segera mengakhiri pertunjukkan.
Tapi syukurnya aku mampu menahan dan mengakhiri penampilan dengan baik.
'plakkkkkk'
Aku tak sadarkan diri, setelah itu tak ingat apapun lagi.
Aku terbangun dengan pakaian rumah sakit dan tangan kiri yang sedang di infus.
“Apa yang terjadi?” tanyaku dengan lemas.
“Tadi kamu pingsan.”
***
🍁 Bagian Jaehyun~
Hari di mana Rose melakukan pentas seni.
Entah kenapa, hari ini kami banyak melakukan pemotretan, padahal aku ingin sekali menonton penampilan Rose di atas panggung.
Ponsel ku berbunyi, ada pesan masuk datang dari Rose yang bertuliskan, “kamu hari ini datang kan?”
“Bisa tidak ponselnya disimpan dulu?” tutur sang pemilik studio kepada ku.
Pada akhirnya aku hanya membaca tanpa membalas, dan kembali memotret model yang sedang berpose.
Sebisa mungkin, aku berusaha menyelesaikan pekerjaan ini lebih awal tanpa harus melewatkan pertunjukan Rose dan kawan-kawannya. Tapi melihat situasi, aku menyerah untuk itu.
Aku melanjutkan pekerjaan sampai akhir.
“Terima kasih ya semuanya,” ucap ramah pemilik studio kepada kami semua karena sudah melakukan pekerjaan dengan baik.
Aku pergi dari studio tanpa semangat, tiba-tiba ponselku berbunyi menandakan sebuah pesan masuk.
“Kamu di mana? Rose belum tampil,” isi pesan yang di kirim Mikha.
Semangat ku pun hadir kembali. Untungnya lokasi studio dan kampus dekat, maka aku langsung berlari secepat kilat agar tidak melewatkan penampilan Rose.
Aku berhenti sejenak untuk menstabilkan nafas, lalu mengelap keringat yang bercucuran. Setelah itu melanjutkan lari.
Aku sekarang berada di antara kerumunan penonton dengan nafas yang masih terengah-engah. Walaupun sudah berusaha berlari secepat mungkin, tapi aku melewatkan setengah penampilan Rose.
Rasa lelahku hilang setelah melihatnya berada di pentas seni.
Begitu permainan musik usai, Rose tiba-tiba saja pingsan sebelum menutup sesi penampilannya. Semua orang nampak ribut mempertanyakan apa yang terjadi dengan Rose.
Aku bingung sendiri disertai kekhawatiran.
Teman Rose yang pernah bertemu dengan ku di toko roti, dengan sigap membopong Rose ke belakang panggung.
Aku segera berlari ke sana, meliuk-liuk mencari Rose namun ternyata tak ada.
“Dio membawa Rose ke Rumah sakit,” ucap seseorang yang tak ku ketahui namanya.
Aku bergegas menuju rumah sakit tersebut, dan menemukan kamar rawat yang diisi oleh Rose.
Aku mendengar Percakapan di balik pintu kamar rawat Rose.
“Dia masih belum telepon kamu?” tanya seorang wanita yang aku duga ibunya Rose.
Rose tak menjawab pertanyaan beliau.
“Dari awal ibu sudah tidak suka sama dia. Lihat! Kamu sakit pun dia tidak tahu,” tutur ibunya dengan marah. “Dengar ibu baik-baik! Ibu mengerti kamu cinta sama dia, dan ibu bukan marah karena dia tidak memperhatikan kamu. Tapi ... ibu lihat akhir-akhir ini kamu hanya berjuang sendirian. Ibu tidak mau melihat anak ibu sedih tiap hari. Selain itu, Ibu harus melihat masa depan kamu, bukankah anak ibu ini terlalu baik buat dia?” lanjut ibunya.
Rose tergeming, tidak pula menyanggah ucapan ibunya.
“Pertahankan apapun yang pantas dipertahankan, dan tinggalkan apapun yang pantas ditinggalkan. Karena hidup itu bukan untuk yang tidak pasti. Kamu tau kan maksud ibu?” tutup ibunya.
Benar, Rose terlalu baik untukku. Selama kami berpacaran, dia yang paling banyak berkorban. Aku merasa memang tak pantas untuknya.