
🐰 Bagian Dean~
Aku membuka mata dengan pandangan yang masih kabur. Aku tak bisa bergerak banyak, badanku rasanya lemas sekali.
“Dean ...” panggil bunda menatapku saat aku terbaring.
Dami ribut memencet bel yang terhubung dengan dokter yang menanganiku.
Bunda memegang tanganku. “Terima kasih. Sudah bangun ...” dengan lirih.
Di sini aku hanya melihat mereka berdua. Jadi aku bertanya untuk pertama kalinya setelah sadar, “Di mana Yeri?”
“Dia baru pulang. Sejak kakak di sini, dia selalu menunggu kakak bahkan lupa makan, dan juga tak banyak istirahat, ” balas Dami memberitahu.
Dokter beserta perawat yang menanganiku datang memeriksa. Beliau mengatakan bahwa keadaanku semakin membaik, dan hanya perlu dirawat beberapa hari lagi untuk terus memantau perkembangan.
“Dean, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Bunda setelah para petugas medis pergi. “Apa benar ... ini semua gara-gara Yeri?” lanjutnya.
“Tolong panggil Yeri,” pintaku lemas.
🌼 Bagian Yeri~
Keajaiban datang kepadaku. Kak Dean bangun dari tidur panjangnya, dan aku bahagia tentang itu. Namun, air mata tiba-tiba berlinang tak bisa ku tahan saat melihatnya terkujur di kasur pasien.
Dengan tangannya, dia menyuruhku mendekat untuk duduk di sampingnya. Aku menggenggamnya dengan tangisan tanpa suara.
Aku mengucapkan beribu-ribu kata maaf padanya.
Dia menatapku. “Tidak apa-apa, ini bukan salah kamu ...” ucap kakak dengan lemah.
***
Semakin hari, kak Dean menunjukkan perkembangan kesehatannya. Alat-alat yang sempat tertempel di badannya, sekarang sudah terlepas.
“Jangan merasa bersalah kepada Kakak,” tutur kak Dean. “Ini hanya kecelakaan. Lagi pula ... ini bukan salah kamu.”
“Kakak mendapat telepon darimu saat hendak pulang. Pada awalnya kakak memang berniat ingin ke rumahmu. Tapi ... tiba-tiba kakak mendapat panggilan. Bahwa ada anak yang sedang kritis ... kamu tau, kan? Kakak tidak bisa membiarkan anak itu kehilangan nyawa. Jadi ... kakak bergegas pergi dan terjadi kecelakaan,” ujar kakak menjelaskan sebab kecelakaan. Beliau melanjutkan, “Oleh karena itu, berhenti merasa bersalah!” tegasnya. “Dan juga ... terima kasih ... karena sudah menjaga kakak,” tutup kak Dean.
Kini rasa bersalahku kepadanya semakin berkurang setelah dia meyakinkan bahwa aku tak ada sangkut pautnya dengan apa yang menimpanya.
Aku bisa tertawa kembali, terlebih Jennie dan Willy sering datang membawa suasana menjadi lebih hidup.
***
Setelah kepulangan kak Dean dari rumah sakit, aku menjalani kehidupan seperti biasanya. Makan dengan baik, tidur pulas dan kembali fokus kuliah tanpa beban yang berarti.
Semenjak kedatangan Jefry ke rumah sakit, kami menjadi lebih banyak berinteraksi. Bahkan beberapa kali dia sempat mengirim pesan seperti, Kamu baik-baik saja? Sudah makan? Tidurnya nyenyak? Dan lain-lain. Itu semua sebagai bentuk kepeduliannya sebagai teman.
“Kalian sudah makan siang?” tanyaku kepada Mikha dan Jefry yang sedang diam di kelas.
“Aku belum,” jawab Mikha. “Kalau kamu?” tanya Mikha kepada Jefry.
“Aku juga belum.”
Kami menuju restoran cepat saja di dekat kampus. Jennie dan Willy tampak sudah hadir di tempat. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada mereka, berkat semuanya aku berhasil melewati masa-masa sulit.
“Semuanya ... terima kasih,” ucapku dengan serius saat mereka sedang menyantap makanan yang telah dipesan.
“tiba-tiba?” ujar kaget Mikha.
“pokoknya ... terima kasih,” tuturku kedua kalinya yang tampak malu.
“Kenapa dia?” tanya Willy mengejek.
“Ini ... biar aku yang traktir. Kamu makan yang banyak!” seringaiku pada Willy.
“Terima kasih karena sudah hadir di saat aku rapuh dan terpuruk. Terima kasih karena kalian telah menggantikan piluku menjadi tawa. Aku berharap kalian akan selalu ada untuk sekarang dan nanti, untuk setiap kesedihan dan kebahagiaan.”