Winwin

Winwin
"Di Pecat"



🍁 Bagian Jefry~


Sudah beberapa kali, aku mangkir dari panggilan pemilik studio dikarenakan jadwal yang bentrok dengan perkuliahan. Walaupun keduanya sama-sama berat, tapi aku lebih memilih tidak masuk kerja paruh waktu daripada tidak masuk kelas.


Sebisa mungkin, aku harus mempertahankan beasiswa yang diberikan kampus dengan menjadi mahasiswa tanpa cacat akademis. Karena itu adalah satu-satunya harapan agar aku bisa lulus sarjana. Dan aku juga harus mampu tetap bekerja agar bisa memenuhi biaya hidup.


Hari ini, aku merasa tidak enak karena terus ditelepon si pemilik studio. Jadi saat berkumpul bersama Mikha dan Yeri, aku menjawab panggilan darinya. Seperti yang sudah aku duga, si bos menyuruh agar segera pergi membantu fotografer lain di studionya.


“Aku harus pergi sekarang,” pamitku kepada mereka.


“ke mana?” tanya Yeri.


Aku berdiri. “Kerja.”


“Kerja?” tanya heran Yeri yang belum tahu tentang pekerjaanku.


Aku sampai di lokasi tepat waktu, tapi wajah sang pemilik studio memancarkan aura berbeda dari biasanya.


“maaf ... aku baru sempat ke sini lagi,” ujarku yang baru tiba.


Dia terkesan mengabaikanku, dan aku acuhkan itu. Aku segera membantu yang lain memindahkan alat-alat foto dari satu tempat ke tempat lain.


“Kemana saja kamu beberapa hari ini?” tanya seorang pegawai yang sama-sama sedang memindahkan barang denganku.


“Ada sesuatu yang tak bisa aku tinggalkan ...” balasku tanpa menjelaskan lebih.


“Selama kamu gak ada, bos banyak marah-marah. Untungnya kamu gak ada di sini ...” tuturnya yang ikut berjalan di sampingku.


“Kenapa?” ucapku bertanya alasan bos marah.


Saat hendak dijawab, ia keburu dipanggil oleh bos untuk mengerjakan pekerjaan lain. Walhasil aku tak mendapat jawaban darinya. Akhirnya, aku memindahkan semuanya hingga selesai.


Setiap pekerjaan sudah pasti melelahkan, apalagi yang mengharuskan bergerak aktif. Karena aku sedang difase ini, tenggorokanku merasa haus. Aku mengambil minum yang sudah tertata di meja dekat komputer peninjau foto.


Saat aku merapikan ruang studio. Tiba-tiba ada seseorang bersuara, “Aisssshhh.”


Dari arah suara tadi, tampaknya beberapa orang sedang rusuh mengenai apa yang terjadi. Karena rasa penasaran, aku beranjak mendekat ke arah mereka.


“Siapa yang taruh botol minum di sini?” tanya pria yang tugasnya meninjau foto di layar komputer.


Aku yang mendengar pertanyaan itu segera mengangkat tangan. “Saya ... ada apa ya?”


“Kenapa botolnya tidak ditutup? Lihat! Semua alat di sini jadi ikut basah,” balas dia marah-marah.


Sehubungan apa yang aku lakukan itu memang salah. Aku mengucapkan, “saya minta maaf.”


“Kenapa coba ini?” ucap dia memeriksa komputer. “Kenapa malah mati?” sambungnya.


“Ada apa ini?” tanya bos yang melihat kami yang tengah berkumpul.


“Tiba-tiba komputernya mati,” jawab pria tadi.


Bos mendekat memeriksa keadaan komputer. “Kok banyak air di sini?”


“Tadi Jefry menyimpan botol minum di sini. Dan botolnya malah kesenggol.”


“Apa?” ucap kaget pemilik studio.


“Saya minta maaf,” ucapku ke dua kalinya.


“Kamu tau, apa yang kamu lakukan itu merugikan saya?” tutur bos keras. “Sudah masuk kerja seenaknya, ditambah merusak alat studio pula,” sambung dia. “kamu tau ini berapa harganya?”


“Saya minta maaf,” balasku menunduk.


“Hari ini ... kamu saya pecat!”