Winwin

Winwin
“Teman Berharga”



🍁 Bagian Jaehyun~


Kepulangan ku waktu itu ialah ingin meminta uang tambahan kepada bapak. Tapi belum sempat mengatakannya, bapak lebih dulu berucap bahwa beliau tidak bisa memberikan ku apapun.


Terpaksa aku mengurungkan niat untuk meminta kepada mereka, walaupun aku benar-benar butuh buat biaya tambahan praktik kuliah.


Dosen memberikan tugas kelompok, dan anggotaku adalah Mikha. Aku tak mengenal dia secara pribadi, karena kami baru pertama bertemu di kampus ini.


Seperti biasa, jika tidak ada Rose aku akan pergi makan sendirian di kantin kampus. Tak banyak orang di sini, sehingga banyak sekali kursi kosong. Namun dari banyaknya kursi itu, Mikha memilih untuk duduk di depanku.


“Itu makanan yang aku suka.” Menunjuk makanan yang ada di piringku. “Aku boleh minta?” tanya dia yang sambil mengambil makananku.


Wajahku berekspresi seolah mengatakan, "Ada apa dengan dia?"


Setelah itu aku tak peduli lagi dan kembali melanjutkan makan siang.


***


Orang lain banyak memuji hasil potretankuku, jadi aku dipekerjakan di studio foto yang tak jauh dari kontrakan tempat ku tinggal. Walaupun gajinya tidak besar, setidaknya hasil dari sanalah aku mampu bertahan hidup.


Biasanya sepulang dari kampus, aku akan pergi ke sana. Tapi kali ini, Mikha mengajakku untuk mengerjakan proyek kelompok.


“Maaf, aku tidak bisa kalau hari ini,” balasku setelah melihat pesan dari pemilik studio yang meminta agar aku segera ke tempatnya.


“Kenapa?” tanya Mikha.


“Nanti saja,” pinta ku yang enggan menjelaskan panjang lebar.


Syukurnya Mikha bisa mengerti, jadi aku bergegas pergi ke studio tempatku bekerja.


Aku memotret model yang sedang bergaya di depan kamera. Mereka model biasa namun profesional sehingga tak menyulitkanku.


Di sela-sela istirahat, sesekali aku membuka ponsel. Ada beberapa pesan masuk datang dari Rose.


Aku membaca, "lagi apa?" ditandai emoticon menggemaskan.


Karena sedang sibuk, aku hanya membaca tanpa membalas pesan.


Dia mengirim pesan kembali.


Isinya, “Zaman udah makin canggih saja ya. ada ojek online, belanja online, apa- apa udah serba online. Sampai-sampai ada chat enggak dibalas padahal lagi online.”


Lagi-lagi aku hanya melihat pesan tersebut.


Aku mengirimkan sebuah foto padanya.



Akhirnya dia tidak lagi mengirim pesan.


***


Hari ini aku terlambat datang ke kampus, dan perkuliahan jam pertama sebentar lagi akan di mulai. Aku duduk di bangku kedua dari belakang sendirian. Mikha yang pada saat itu baru saja masuk kelas, dia duduk langsung di sebelah ku.


Selama mata kuliah berlangsung, aku adalah tipe mahasiswa yang selalu mendengarkan materi yang disampaikan dosen. Tapi saat duduk di sebelah Mikha, fokusku benar-benar buyar karena dia tidak mau diam. Sebagai contoh, dia memainkan pulpen yang suaranya mengganggu pendengaranku. Setelah bosan, giliran kaki kanannya digerak-gerakan.


Semua yang dia lakukan, aku abaikan. Tiba-tiba dia menunjukkan foto dari ponsel kepadaku.


“Jef, lihat ini."


Pandanganku masih ke depan memperhatikan dosen yang mengajar.


“Coba lihat ini!” ucapnya selagi mencubit-cubit bajuku.


Karena kelewat kesal dengan tingkahnya. Aku menjawab, “Apa?”


“Dia cantik enggak?” tanyanya memperlihatkan foto seorang wanita.


“Enggak tau!” balasku dengan singkat.


Dia memberi tahu, “Dia itu pacar ku!”


Padahal aku sama sekali tak bertanya tentang siapa perempuan itu.


“Nanti mau makan apa?” tanya kembali Mikha yang mendapat reaksi datar dari ku.


“Mau apa kamu nanya kayak gitu? Lagi pula aku enggak mau makan sama kamu!” balasku dengan kalimat yang begitu panjang.


“Itu yang di belakang!” tunjuk dosen ke arah kami, sontak mata mahasiswa lain juga tertuju pada kami.


“Mau diam atau mau menjelaskan di depan?” tanya sang dosen.


“Maaf bu ...” jawab Mikha.


Begitulah kira-kira awal dari pertemanan kami. Mulanya aku mengabaikan dia, tapi makin ke sini aku semakin bela padanya. Bahkan setiap kali dia diputuskan pacarnya, aku yang selalu menemani kesedihannya karena dia adalah teman berharga ku.