Winwin

Winwin
"Batal Menyerah"



🌼 Bagian Yeri~


“Rey, kamu enggak capek? Di kampus ini banyak yang ganteng kok. Kenapa masih memgharapkan dia?” ungkap kesal Jennie karena sikapku yang terus galau karena Jefry. “Cari cowok itu bukan yang ganteng, bukan yang pintar, apalagi yang tajir. Cari cowok itu yang bisa menghargai orang lain, karena semuanya akan percuma kalau dia enggak bisa menghargai orang lain,” sambung Jennie.


“Semua yang kamu ucapkan itu benar. Aku juga mau menyerah ... tapi enggak bisa. Aku harus bagaimana?” balasku.


Kami terdiam beberapa saat. Tiba-tiba saja, “Aku ada ide!” tutur Jennie sesaat setelah memberi wejangan kepadaku sebelum jam matkul ke dua di mulai.


“Ide apa?” tanya ku yang penasaran.


Dia membisikkan apa yang terlintas dipikirannya tanpa terdengar oleh Willy.


Mendengar ide yang kelewat brilian Jennie, aku merasa mual dan tak ingin menerima apa yang sudah ia sampaikan.


“Kalau kamu masih berharap sama Jefry, kamu harus coba itu!” ucap tegas Jennie.


“Apa? Ide apa?” tanya Willy yang tidak tahu apa-apa.


“Aku akan selalu dukung kamu ...” sahut Jennie.


“Akan aku coba,” balasku kepada Jennie dengan percaya diri.


“Fighting temanku!” kata Jennie mengepalkan tangan memberi semangat.


“Kalian akan terus seperti ini?” sela Willy dengan nada naik satu oktaf dari biasanya.


Aku pamit. “Aku harus pergi, jam kuliah sebentar lagi di mulai.”


Satu orang harus berani maju satu langkah agar hubungan tidak terus berjalan di tempat, oleh karena itu aku harus berani maju. Jika aku terus seperti ini, maka selamanya hanya aku yang menyimpan rasa.


"Ketahuilah, cinta sepihak itu bikin sesak."


Aku bertekad untuk mendekati Jefry lebih dulu. Dia membalas atau tidak itu urusan nanti karena yang paling penting adalah dia mengetahui bagaimana perasaanku kepadanya.


***


Kuliah kali ini dilakukan di studio foto. Dosen menugaskan agar kami belajar memotret model tanpa menghilangkan fokus dari produk yang akan di iklankan.


“Aku enggak yakin bisa mengambil gambar seperti itu,” ucapku setelah berdiri di samping Mikha.


“Enggak usah pura-pura merendah ya!” sahutnya.


“Benaran. Aku enggak pandai take foto kayak begitu,” balasku. Menyambung dengan, “Aku penasaran dengan hasil potretan Jefry.”


“Nanti kamu lihat saja! Jefry atau aku yang hasilnya lebih bagus,” tutur Mikha.


“Sekarang giliran Jefry,” panggil Asisten Dosen.


Jefry bersiap hendak memotret, sedangkan aku dan Mikha memperhatikan dari sini. Ketika dirinya mulai memotret, dia banyak memberikan pengarahan kepada model agar mengikuti kehendaknya.


Sosok Jefry memang sangat memberi efek signifikan. Yang sebelumnya suasana sedikit ribut karena banyak yang tidak memperhatikan, sekarang hampir semuanya fokus terhadap hasil potretan Jefry yang ada di layar komputer.


Sebagaimana yang sudah diprediksi, hasil jepretannya selalu luar biasa seperti fotografer profesional. Dan tentunya itu menjadikan mahasiswa lain insecure dengan kemampuannya, tak terkecuali Mikha. Sedangkan aku, dibanding iri dengan hasil kerja kerasnya, aku lebih merasa bangga atas pekerjaan yang dia lakukan.


Kami selesai melakukan pemotretan, sekarang waktunya kembali ke kelas karena dosen ingin menilai hasil potretan kita semua di layar infokus.


Kali ini aku memilih tempat duduk di samping Mikha. Seolah kaget, Jefry dan Mikha memandangku dengan aneh. Bahkan di dahi mereka seolah tertulis, ‘Sedang apa dia duduk di sini?'


“Kenapa? Aku enggak boleh duduk di sini?” tanyaku kepada mereka.


“Enggak juga. Tapi kenapa di sini?” tanya Mikha.


Aku berdalih, “Gambarnya akan kelihatan lebih jelas kalau aku duduk di sini.”


Setelah itu kami melihat satu persatu foto yang ditampilkan di depan. Begitu giliran foto potretan Jefry yang ada di layar, dosen memberikan pujian untuknya sekaligus memberikan nilai tertinggi di sesi kali ini sehingga membuat kami semua bertepuk tangan.


Senang akan hal ini, tepuk tanganku sepertinya yang paling antusias diantara yang lainnya.


"Menyerah sebelum mencoba? Maaf, aku tak akan melakukan itu."


Karena untuk segala hal butuh sebuah perjuangan, setidaknya aku harus memperjuangkan apa yang ingin aku dapatkan.


Maka dari itu, aku memilih untuk meneruskan perasaanku untuk Jefry sampai dia tahu kalau aku menyukai lebih dari siapapun.