
🌼 Bagian Yeri~
Sudah beberapa jam sejak dipindahkan ke ruang ICU, kak Dean masih belum sadar. Selama menunggunya, aku cenderung banyak melamun. Masih dirundung kegelisahan dan semacamnya, bahkan dengan mata mengantukpun rasanya seperti, ‘aku tak ingin tidur’.
Kak Dean kemudian dipindahkan ke ruang rawat inap. Setelah melihat kondisi yang dilekatkan alat-alat ditubuhnya, membuatku bercucuran air mata.
Ayah merangkulku dari samping.“Jangan terlalu khawatir!"
Beliau berusaha menguatkanku, tetapi tetap saja hati ini tak lepas dari perasaan bersalah.
Aku memegang erat tangan kak Dean yang lemas. “Maafkan aku ... aku minta maaf kak,” ucapan yang sering aku katakan padanya.
Ponsel yang ku taruh di atas laci bergetar. Aku pergi keluar untuk menjawab panggilan itu.
“Iya Jennie ...” tuturku lirih.
“Suara kamu kenapa?” tanyanya setelah mendengar cara bicaraku yang lemah.
“Jennie ...” panggilku menangis.
Setelah mendapat kabar, Jennie datang bersama Willy. Dia langsung memelukku dengan membisikkan, “Jangan khawatir. Kakak mu pasti baik-baik saja!”
Mendengarnya berkata seperti itu, cukup mampu menguatkanku.
Karena ruangan yang kami tempati menyediakan kursi untuk orang yang menjenguk, jadi kami duduk disini.
“Ini semua salah aku,” ucapku kepada mereka.
“Enggak. Ini bukan salah kamu,” jawab Jennie setelah mendengar keseluruhan ceritaku.
“Benar. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri,” Dukung Willy.
“Tetap saja. Kalau aku tak menyuruh kak Dean datang, dia enggak akan seperti ini!” balasku.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka di tengah-tengah pembicaraan, kak Dami masuk dengan menggunakan seragam dokter. Jennie dan Willy kemudian menyapanya dengan sopan.
“Kamu mending pulang,” ucap santai kak Dami sembari memeriksa cairan infusan kak Dean.
“Aku?” tanya Jennie keheranan.
“Bukan kamu ... tapi Yeri” balas kak Dami. “Biar bunda yang gantikan,” lanjutnya.
“Enggak apa-apa. Biar aku yang jagain kak Dean,” balasku.
“Bahkan kamu sekarang belum tidur!” timpalnya.
“Sekarang pulanglah!” ucap tegas Dami menyuruhku pergi.
“Enggak mau.”
“Kamu pikir ... kamu saja yang sedih? Aku, ayah sama bunda juga sedih lihat kak Dean kayak begini!” pekik Dami.
“Terserah kamu saja!” sambung dia yang kesal dengan sikap keras kepala ku.
Setelah Kak Dami keluar, Jennie dan Willy berpamitan hendak kembali ke kampus untuk menghadiri kelas. Jadi, aku kembali ke dekat kak Dean, memegangi tangannya turut memanjatkan doa untuk kesembuhannya.
Ada orang yang mengetuk pintu dari luar, aku berdiri untuk menyambut. Ternyata Jennie dan Willy Kembali sembari membawa makanan.
“Kenapa balik lagi? Apa ada yang ketinggalan?” tanyaku kepada mereka.
“Aku dengar kamu belum makan,” ucap Jennie yang segera duduk di sofa.
“Padahal enggak perlu repot-repot.”
“Cepat duduk sini!” pinta Willy padaku agar segera bergabung.
Aku ikut duduk bersama mereka.
Jennie membuka makanan. “Makan ini!”
“Aku enggak lapar ...” balasku dengan suara lemah.
“Tetap saja. Kamu harus makan!” kukuh Jennie.
“Enggak apa-apa.”
“Apanya yang enggak apa-apa? Aku rasa kamu juga akan di rawat dengan kakak mu!” tutur kesal Jennie. “Kalau kayak begini terus ... kamu akan sakit. Dan kak Dean pasti akan sedih seperti yang kamu lakukan saat ini,” lanjutnya dengan nada lebih rendah dari sebelumnya. “Makan ini walaupun hanya sedikit! ... ya?”
“Iya,” balasku yang mengalah darinya.
“Nah begitu dong,” sambung Willy segera membuka bungkusan makanan.
Epilog~
🐻 Bagian Dami~
Setelah keluar dari ruang rawat inap, aku menyender di tembok depan ruangan. Jennie dan Willy yang hendak kembali ke kampus di jegal olehku.
“Kak Dami ngapain berdiri di sini?” tanya Jennie.
“Aku punya permintaan!”
“Permintaan apa?” tanya Jennie.
“Dari semalam Yeri di sini terus. Dia belum tidur, dan mungkin dia juga belum makan,” ucapku yang tak langsung ke intinya.
“Terus?” tanya kembali Jennie.
“Tolong belikan dia makanan kesukaannya! Nanti kasih ke dia,” pintaku. “Beli pakai ini.” Memberikan uang. "Terus ... sekalian beli juga buat kalian sebagai tanda terima kasih aku.”