Winwin

Winwin
"Teman Laknat"



🌼 Bagian Yeri~


“Sesekali duduklah di dekatku. Siapa tau jantungmu juga bergetar saat bersamaku,” tuturku di balik jendela seraya menatap Jefry yang asik duduk membaca buku di bangku taman kampus.


Sebegitu fokusnya aku melihat ke arah luar sampai tak menyadari ada orang yang sedang duduk di depan ku berikut menatap penuh wajah cantikku.


Dengan ke dua tangan yang menopang dagu. “Kamu suka sama Jaehyun?"


Aku terusik dari lamunan. “Mik, dari kapan kamu di sini?”


“Pantas saja selalu mengikutiku ... ternyata oh ternyata,” tuturnya yang terdengar ambigu olehku.


“Ternyata apa?” tanyaku.


Dia berdiri, “Jefrynya aku panggil ya?”


“Jang--” belum selesai berucap, dia sudah teriak.


“Jefry ...”


Mulutnya langsung aku bungkam dengan tangan kosong.


“Bisa diam enggak?” bisik ku.


“Kenapa? Bukannya kamu senang kalau dia ada di sini?” tanya dia. “Jefry~” godanya memanggil-manggil.


Suara Mikha sepertinya terdengar di telinga Jefry. Aku bergeser posisi dengan tujuan agar tak terlihat olehnya dari luar.


“Kamu lagi apa?” teriak Mikha dari balik jendela.


Sikap kekanak-kanakannya membuatku geleng-geleng kepala.


***


Aku dan Mikha berjalan bersama di lingkungan kampus, dia mulai memotret hal-hal gak penting dengan kameranya.


“Mau aku bantu?” tanya dia yang tiba-tiba.


Aku menatapnya. “Bantu apa?”


“Jadi makcomblang kamu sama Jefry.”


Seakan merasa lucu mendengar ucapannya, aku tertawa. “Aku bahkan tak mengharapkan itu dari kamu."


“Kamu enggak percaya sama aku?”


“Iya!” ujarku.


Kami duduk saling berdampingan. Mikha tiba-tiba memperlihatkan ponsel yang mendapat panggilan masuk dari Jefry.


“Lihat!” ucapnya sebelum menjawab panggilan. “Ada apa?” tanya dia lewat telepon. “Di halaman depan kampus,” lanjutnya setelah beberapa detik. Dengan posisi ponsel yang menempel di telinga, dia menoleh padaku. “Sama Yeri,” tuturnya. “Kenapa? Enggak boleh?” tanya Mikha. “Cepat ke sini!" tutupnya.


Mikha kembali fokus padaku setelah menutup panggilan dari Jefry. Dia berucap dengan sombong, “Masih enggak percaya sama aku?”


Tak berselang lama, Jefry benar-benar datang. Dia berjalan mendekat ke arah kami.


"Lihat kan!" tutur Mikha yang tak bisa ku jawab.


Setelah Jefry tepat di depanku, aku menyapanya dengan senyuman.


Dia membalas senyumku.


Dan saking bucinnya, baru disenyumi begitu saja aku sudah membayangkan nikah dan punya anak darinya (wkwwkwk).


Karena mereka sudah seperti Upin dan Ipin yang ke mana-mana harus berdua, jadi aku tak ingin membuat Jefry merasa tak nyaman dengan keberadaanku.


Mikha menarik tas ku seakan sedang menahan agar aku tak pergi. Terlebih ia turut bertanya, "Mau kemana?"


“Oke! Aku akan tetap di sini!” balasku.


Mikha tertawa tanpa akhlak setelah mendengar perkataanku.


Disela tawanya ia mengatakan, “Kamu kira aku sedang menahanmu?”


Wajahku menjadi datar tak berekspresi.


“Aku mau titip tugas mata kuliah manajemen seni ya!” tutur Mikha tanpa rasa bersalah, tak luput memberikan makalah. “Titip ya!” Teriaknya di belakang yang langsung aku olok-olok.


***


Seminar mengenai karya seni fotografi akan diadakan hari ini di aula kampus. Orang-orang yang tertarik dengan fotografi mulai berbondong-bondong memasuki ruangan.


Berhubung Jennie dan Willy juga tertarik mengenai seminar ini, jadi aku datang bersama mereka. Kami pun duduk di jajaran tengah yang masih kosong.


Karena ini adalah acara yang tergolong wajib dihadiri jurusanku, maka mataku disibukkan mencari sosok Jefry.


Jennie yang duduk di sebelah kanan, tiba-tiba menyenggolku dengan sikunya. Aku menoleh dengan tatapan seolah mengakatan, "Ada apa?"


Jennie memberikan sebuah kode. “Lihat kiri!” gumamnya yang tak terdengar jelas.


“Kenapa?” tanyaku tak memahami ucapannya.


“Kursi ini kosong, kan?” tanya seseorang yang berdiri di samping kiri ku.


Aku terhentak kaget mendengar ucapan itu.


Jennie dan Willy bertingkah seakan tak ada apa-apa, sedangkan aku ingin sekali menjambak rambut orang yang berbicara tadi karena sudah mengagetkanku.


“Enggak ada” Balasku dengan anggun karena orang itu (Min) datang bersama Jefry, sosok yang aku cari-cari.


Aku memberi tanda kepada Mikha agar mempersilakan Jefry duduk di sampingku.


Aku tidak tahu, entah si Mikha ini tidak paham atau memang bodoh. Yang jelas dia justru duduk di sampingku, sedangkan Jefry duduk di sebelahnya.


Mood ku menjadi hancur untuk mengikuti seminar.


“Dasar teman laknat,” gumamku.


“Apa?” tanya Mikha.


“Enggak!” judesku.


“Kenapa dia yang duduk di samping kamu?” bisik Jennie dari bangku sebelah kanan.


“Enggak tau ...” jawabku pelan dengan nada sebal.


Acara siap di mulai. MC turut memeriahkan acara pembukaan. Orang-orang mulai tertawa mendengar apa yang diucapkannya, sedangkan aku masih dalam keadaan mood yang belum pulih.


Tiba-tiba Mikha dan Jefry bertukar tempat duduk, senyum simpul tak bisa ku sembunyikan setelah Jefry duduk di samping kiriku.


Ponselku berbunyi menandakan sebuah pesan masuk datang. Aku membaca isi pesan itu yang bertuliskan, “Aku bukan teman laknat.”


Pesan tersebut dikirim oleh Mikha.


Aku membalas dengan ucapan terima kasih sekaligus memberikan senyuman kepada Mikha.


Selepas itu mood ku pulih kembali. Aku mulai memperhatikan acara seminar walaupun tak sepenuhnya fokus karena sesekali memandangi Jefry yang sedang khidmat mendengarkan narasumber.


Aku memandanginya. “Sangat tidak adil, hatiku terus bergetar saat ini. Namun aku tidak tahu, apakah hatimu juga bergetar setelah duduk di sampingku?”