Winwin

Winwin
"Malang"



🌼 Bagian Yeri~


Pukul 19:20, aku baru pulang ke kosan. Semua ruangan masih gelap karena lampunya belum dinyalakan.


Aku menghidupkan sakelar ruang tengah. “Kenapa enggak nyala?"


Sebenarnya aku tidak takut dengan kegelapan. Hanya saja rasanya tak nyaman jika rumah yang ku tinggali dalam keadaan gelap. Aku membutuhkan orang untuk membenarkannya.


Aku menyalakan lampu kamar, lalu mengeluarkan ponsel.


“Kak ... lagi sibuk?” tanyaku via telepon.


“Ada apa?” jawab kak Dean


“Lampu tengah rumah tiba-tiba mati. Kakak bisa benarkan sekarang?”


“Oke nanti kakak benarkan!” balasnya yang membuatku cemberut.


"Aku enggak nyaman harus gelap-gelapan begini ...” ucap manjaku


“Iya, iya. Kakak kesana sekarang!”


Di rumah ini, hanya kamarku saja yang tidak dalam keadaan gelap. Sembari menunggu kedatangannya, tiba-tiba perutku mulai bunyi.


“Laparnya tahan dulu ya! Nanti kita makan bareng kak Dean,” ucapku kepada perut yang sudah keroncongan.


Setengah jam sudah aku menunggu, dan ia masih belum menampakkan batang hidungnya. Dari yang awalnya rebahan di kasur, mulai beranjak pindah ke luar.


“Kenapa masih belum datang juga?” tanyaku meliuk-liuk jalanan.


Biasanya, perjalanan yang ditempuh tak sampai lebih dari setengah jam. Tapi sekarang, sudah hampir lebih dari satu jam dan dia masih belum datang.


“Pasti jalanannya macet banget ...” gumam prasangkaku.


Tak ingin memikirkan hal yang tidak-tidak, aku berinisiatif meneleponnya untuk memastikan sudah sampai mana perjalanannya.


“Kenapa enggak diangkat?” tanyaku dengan posisi ponsel masih menempel di telinga.


Sudah beberapa kali, aku masih belum mendapat jawaban. Tentu saja semakin membuatku khawatir.


Untuk terakhir kalinya, akhirnya dia menjawab panggilanku.


“Kakak di mana?” selidikku.


“Rumah sakit,” jawab seorang perempuan yang membuatku penasaran.


“Kamu siapa ya?”


“Aku ... Dami.”


“Kak Dami?” tanyaku memastikan. “Kenapa kakak pegang ponsel kak Dean? Kak Dean kemana?” lanjut tanyaku tanpa jeda.


“Sekarang kamu ke sini! Cepat!” pinta kak Dami via telepon.


“Kenapa?? Ada apa??” Tanyaku kebingungan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


“Kak Dean kecelakaan.”


“Apa?” ucapku yang tak percaya dengan situasi saat ini.


Tangisku mulai pecah setelah mengetahui yang terjadi, seluruh tubuhku menjadi lemas namun berusaha berlari segera menuju rumah sakit.


Saat menaiki taksi pun, perasaanku tak tenang. Air mata terus mengalir dan pikiran menolak untuk mempercayai apa yang menimpa kak Dean.


Begitu tiba di luar ruang operasi, Bunda sedang berdiri cemas ditemani dengan kak Dami. Sedangkan Ayah, sedang menunduk di kursi tunggu, mencemaskan keadaan anak laki-laki satu-satunya itu.


Aku berdiri menangis tersedu-sedu di depannya. “Ayah ... apa yang terjadi?”


“Kak Dean akan baik-baik saja, kan?” tanyaku selanjutnya.


Ayah masih bungkam tak memberikan jawaban.


“Kenapa Ayah tak jawab pertanyaanku?”


Beliau memelukku. “Tenanglah ....”


Setelah mendapat pelukan darinya, aku menjadi sedikit lebih tenang. Kami duduk berdampingan, saling bergenggaman menguatkan satu sama lain dan mendoakan yang terbaik untuk kakak ku.


Seorang dokter yang memakai baju praktek operasi tampak membuka pintu dengan lari terbirit-birit. Aku dan ayah segera berdiri, cemas dengan apa yang terjadi.


Dokter tadi kembali setelah berhasil mendapatkan beberapa kantong darah di tangannya.


Ayah bertanya,“Apa lukanya parah?”


“Pasien kehabisan banyak darah.” jawabnya beliau sebelum kembali ke ruang operasi.


Setelah mendengar ucapan dokter itu, seketika tangisku kembali pecah.


“Ini semua salahku,” tuturku seraya menyeka air mata.


Bunda mendekat padaku. Kemudian bertanya,“Itu apa maksudnya?”


“Bunda maafkan aku, Ayah maafkan aku. Ini semuanya salahku ...” lirihku.


“Enggak. Kenapa ini salah kamu?” timpal ayah merangkulku.


“Kalau aku tak menyuruh kak Dean datang, dia enggak akan seperti ini.”


“Apa?” sontak kaget Bunda dan Kak Dami.


Air mataku tak berhenti mengalir. “Ini semua salahku.”


“Yeri, dengar baik-baik!” tutur ayah menatap mataku “Jangan bilang seperti itu! Ini hanya kecelakaan ... ini bukan salah kamu!” lanjut beliau menegaskan.


Pukul 23:50 tengah malam, dokter utama yang menangani kakak ku keluar dari ruangan operasi. Kami semua harap-harap cemas dengan pernyataannya.


“Bagaimana kondisinya?” tanya lambat ayahku.


“Syukurnya operasinya berjalan dengan lancar,” balas sang dokter.


Kaki ku yang lemas kini mendapat kekuatan setelah mendengar ucapan beliau. Perasaan cemas menghilang dari wajah bunda, kak Dami dan juga ayah.


“Awalnya pasien sempat kehilangan banyak darah. Tapi untungnya itu bisa diatasi. Sekarang pasien akan di pindahkan ke ruang ICU,” ucap dokter.


“Terima kasih ... terima kasih banyak, Dok!” ujar Ayah kepadanya karena sudah menyelamatkan kak Dean.


“Enggak kok, Dok!” balas dokter itu kepada ayah karena sudah saling mengenal sesama profesi.


“Terima kasih banyak dokter,” tuturku sebelum dirinya pergi.


Puji Syukur alhamdulillah, kakak ku masih bisa selamat dari kemalangan yang menimpanya. Yang memilukan adalah, aku tak bisa berbuat apa-apa atas apa yang terjadi. Aku hanya merasa bersalah kepadanya.


“Sayang, Dami, dan Yeri. Kalian pulanglah! Malam ini biar Ayah yang menunggu Dean,” ucap beliau di dekat ruang ICU.


“Enggak Yah, aku akan tetap di sini!” jawabku.


“Ya sudah, kalau begitu kalian pulanglah!” suruh ayah kepada bunda dan Dami.


Setidaknya, selama kak Dean masih terbaring di sini aku akan selalu menemaninya.


"Karena ini yang hanya bisa aku lakukan, aku minta maaf."