Winwin

Winwin
"Fakboi"



🐰 Bagian Doyoung~


Sudah 4 semester aku kuliah di kampus ini, dan selama itu mahasiswa lain selalu mencapku sebagai fakboi. Aku sama sekali tak paham mengapa orang lain bisa berpikir demikian, padahal aslinya aku cukup dengan satu wanita.


Walaupun aku sering bersama Rose bukan berarti aku menyukainya sebagai wanita, hanya saja aku merasa nyaman setiap kali berada di dekatnya. Tapi saat melihat wanita lain yang menarik perhatianku, kenapa aku selalu ingin mendekati mereka? Apakah orang lain mengecapku sebagai fakboi karena hal ini?


Di cuaca yang gerah ini, aku membeli segelas bubble tea di kafe dekat kampus. Namun saat hendak membayar, dompetku tak ada di saku. Aku mencari-cari dompet di dalam tas yang ku bawa.


“Tunggu sebentar ya mbak,” pinta ku kepada kasir karena merasa tak nyaman.


Walaupun sudah ku ulik-ulik beberapa kali, tetap saja aku tak menemukan dompet itu.


“Kayaknya tadi sudah aku masukan deh,” gumamku sambil mengingat-ingat.


“Sekalian bayar yang punya dia ya mbak.” Terdengar ucapan seorang gadis.


Aku menoleh, dan gadis itu membayar bubble tea yang ku pesan.


“Terima kasih ya,” ucapku kepadanya.


Dia hanya tersenyum, lalu keluar dari kafe.


Aku mulai mengikutinya kemudian mengatakan, “Bagi nomor telepon kamu dong!” secara tiba-tiba.


Dia berhenti melangkah, tatapannya datar seolah menandakan kebingungan.


“Aku akan ganti uang kamu!” ujarku berikutnya.


“Enggak usah ...” balasnya dengan lembut.


“Aku bukan tipe yang berhutang sama orang. Jadi ... aku minta nomor kamu supaya nanti aku ganti.” Mengulurkan ponsel kepadanya.


Akhirnya dia menerima ponselku, kemudian mengetik nomor teleponnya.


“Itu bukan nomor palsu, kan?” tanyaku kepadanya saat masih mengetik.


Dia memberikan ponsel kembali “Itu benaran nomorku.”


Aku menerimanya dengan bertanya, “Harus ku beri nama siapa di kontaknya?”


“Jennie.”


Setelah selesai ku beri nama, aku langsung melakukan panggilan ke nomor tersebut. Ternyata dia tak berbohong, ponsel miliknya berdering.


Dia mengambil ponsel di dalam tas nya. “Kamu bisa memberi nama Dio di kontaknya” tuturku saat dia melihat layar ponselnya.


***


Sebagai laki-laki yang bisa memegang ucapan, aku harus menepati janji untuk membayar kebaikan yang Jennie lakukan pada hari kemarin. Oleh karena itu, aku mulai menghubunginya tapi tak ada respon.


“Kita bisa ketemu sebentar?” tanyaku via aplikasi chat yang sudah terkirim beberapa jam lalu.


Sampai jam kuliah berakhir, dia masih belum membaca pesan yang aku kirim.


Walaupun dia meminta untuk bertemu 15 menit lagi, aku sudah bergegas menuju kafe tersebut. Karena kafe ini menyediakan banyak menu makanan, jadi sembari menunggu aku memesan minuman dan makanan.


Prinsipku adalah jika orang itu baik kepadaku, maka akan aku perlakukan lebih baik kepadanya.


Jennie membuka pintu kafe hendak masuk.


“Di sebelah sini!” ucapku melambaikan tangan kepadanya.


Dia mendekat ke arahku dan segera duduk di depanku.


Menu yang ku pesan, semuanya sudah tersedia di meja.



Mata Jennie terbelalak. “Kenapa banyak banget makanan?”


“Silakan dimakan!” tuturku.


“Apa ada yang akan datang kesini selain aku?” tanya Jennie.


“Enggak. Kita makan berdua saja.”


“Kenapa kamu pesan makanan sebanyak ini?” lanjutnya bertanya.


Aku balas, “Aku beli ini semua buat kamu.”


“Aku enggak makan sebanyak ini.”


“Sayang banget,” ucapku yang kecewa.


“Oke, oke ... Aku akan makan semuanya.”


Aku tersenyum simpul. “Kita habiskan berdua saja."


Untungnya dia mau menghabiskan makanan yang ku pesan sehingga tidak mubazir. Sebenarnya aku ingin kisah kita berlanjut tapi begitu kami selesai makan.


“Terima kasih atas makanannya,” ungkap Jennie.


“Sama-sama. Nanti aku akan traktir lagi.”


“Enggak ... enggak usah!” tolaknya.


“Kenapa?” tanyaku.


“Aku enggak nyaman saja."


“Kamu enggak nyaman makan bareng orang ganteng macam aku?” tuturku dengan candaan.


Balasannya hanya wajah datar namun sangat menggemaskan di mataku.