Winwin

Winwin
"Pergi"



🌼 Bagian Yeri~


“Sekarang apa yang akan kamu lakukan?” tanya Jennie terperangah melihatku membawa koper.


“Mending sekarang kamu pulang, minta maaf sama ayah kamu!” tutur Willy yang berada di sampinb Jennie.


Isi otak ku masih dengan doktrin 'tak ada satu orang pun yang mampu merenggut mimpiku sekalipun itu orang tua, karena mimpi ku adalah milikku'. Namun bodohnya, yang ku selimuti sekarang hanya kebingungan karena memilih pergi dari rumah tanpa rencana.


Aku tidak memiliki uang yang cukup untuk menyewa rumah. Jangankan untuk itu, untuk makan saja uang yang ku punya tak akan bertahan hingga satu minggu.


“Kembali ke rumah? Maaf, tak akan aku lakukan itu,” tuturku kepada mereka berdua.


"Kenapa?" tanya Jennie.


“Jika pulang, maka itu sama saja dengan merelakan cita-cita ku selama ini. Untuk apa aku pergi membawa koper kalau harus kembali lagi?” imbuhku menjelaskan alasan.


“Untuk sekarang, kamu tinggal di rumah aku dulu! Tapi ... aku tak akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi setelah ini” ucap Jennie yang terjeda.


“Jennie ... sudah aku duga."


***


Hampir saja lupa, setiap mahasiswa fakultas fotografi diwajibkan memiliki alat potret sendiri dan ini membuat kebingungan ku semakin bertubi-tubi karena kamera yang ku punya tidak menyala sama sekali.


“Kenapa lagi?” tanya Jennie melihatku yang terus-terusan mengotak-atik kamera.


“Ayah ku merusaknya! Makanya ini tak berfungsi."


Jennie mengantarku te toko service elektronik, pemilik toko itu melihat-lihat tingkat kerusakan kamera milikku.


“Sepertinya banyak yang harus dibenarkan,” ucap beliau. “Screen nya harus diganti, bagian dalamnya juga ada yang patah.”


“Kira-kira berapa kalau diganti semua?” tanyaku yang khawatir kemahalan.


“Lebih dari Rp. 1,5 juta.”


“Apa?” sontak kaget ku yang tak memiliki uang sebanyak itu.


“Kalau dijual, kira-kira laku berapa?” tanya penasaranku.


“Rp.1 juta.”


“Kok lebih murah?” ucapku keberatan dengan harga yang ditawarkan beliau.


“Jadi kamu mau jual kameranya?” tanya Jennie melihat penuh wajah ku.


Yang perlu aku lakukan sekarang adalah bagaimana caranya bertahan hidup, karena besok atau lusa sebuah kamera akan mampu ku beli lagi.


Kami pergi ke restoran terkenal di lingkungan ini. Meja yang kami tempati dipenuhi makanan, dari mulai makanan pembuka hingga makanan penutup.


“Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih ku sama kamu,” tuturku kepada Jennie yang sudah menerimaku di rumahnya.


Ponsel yang ku taruh di atas meja bergetar menandakan sebuah panggilan masuk, tertulis nama kontak Kak Dean.


“Kenapa tidak dijawab?” tanya Jennie sambil mengunyah.


“Hiraukan saja ...” balasku tak menerima panggilan telepon.


Dari 5 panggilan masuk, tak ada satupun panggilan yang ku jawab karena aku sudah bisa menebak bahwa dia hanya akan memintaku untuk kembali ke rumah.


***


Seminggu sudah aku menginap di rumah Jennie, lama-lama aku merasa tak enak meskipun orang tuanya menerima keberadaan ku.


Pikiran ku traveling ke sana ke mari memikirkan langkah selanjutnya yang harus diambil.


“Pertama, harus keluar dari sini! Ke dua, ayo pikirkan di perjalanan!” ucapku sekedar dalam benak.


“Kamu mau kemana?” tanya Jennie yang melihatku berjalan keluar kamarnya dengan membawa koper.


“Aku harus pergi!”


“Itu dia, kamu mau pergi kemana?” tanya Jennie yang masih penasaran.


“Kak Dean meneleponku, dia sedang dalam perjalanan menjemputku,” balasku karena tak ingin membuatnya khawatir.


“Benarkah??” tanya Jennie yang merasa tak yakin.


“Masa aku bohong sih?” balasku dengan senyuman palsu.


Tak seperti apa yang aku beritahukan pada Jennie, aku hanya terus berjalan di pinggir jalan tanpa arah dan tujuan.


Kepala ku isinya hanya kalang kabut, merasa dunia seakan tak bersikap adil terhadapku. Angin malam mulai terasa dinginnya di badan, suasana sunyi pun turut menjelaskan betapa kesepiannya hidup ku saat ini.


Rasanya ingin menangis meratapi apa yang terjadi, menyesali perbuatan.


Aku mulai bercangkung di tepi jalan, beristirahat karena pegal sudah berjalan sejauh ini.


“Kamu sedang apa di sini?” tanya seorang pria yang hanya terlihat kakinya saja.


Aku menatap ke arah wajahnya, tak terasa air mataku bercucuran di pipi.


Aku menyapa nama nya, “Kak Dean.”