
🌸 Bagian Jennie~
“Sudah terlalu malam tapi rindu ini masih saja enggan ku ninabobokan.”
Begitu kira-kira suasana hatiku saat ini.
Aku terpaksa harus pisah dengan Willy untuk beberapa hari karena dia harus melakukan tugas kuliahnya di luar kampus.
Hari-hari ku seperti ada yang kosong karena ketiadaannya. Bagaimana tidak? yang biasanya bertengkar setiap waktu, kini tak seperti itu lagi.
“Jarak itu rumit, waktu itu pelit, pertemuan itu sulit, dan rindu itu mencekik." Tulis pesan yang ku kirim semalam kepada Willy tanpa mendapat balasan.
“Kenapa dia enggak ada kabar?” tanyaku kepada Yeri sambil mengecek ponsel.
“Kalau gitu telepon saja!”
“Enggak ahh ...” tuturku menolak idenya.
“Kalau gitu chat saja!” ujar Yeri memberi saran untuk ke dua kalinya.
“Haruskah?” tanyaku yang ragu karena takut mengganggu kegiatan Willy.
“Kalau begitu jangan!” ucap dia melarang.
“Tapi aku kangen banget.”
“Terserah deh. Mau dihubungi atau enggak, aku enggak peduli!” tuturnya kesal.
“Loh kok ngegas?” tanyaku mendengar nada bicara Yeri.
Setelah mendapat saran dari Yeri, aku mengirimkan pesan kepada Willy berisi “Lagi di mana? Lagi apa?”
Ponselku bergetar menandakan ada notifikasi masuk, wajahku berseri berharap Willy yang membalas. tapi setelah di cek, pesan itu bukan darinya.
“Kenapa muka kamu kayak gitu?” tanya Yeri yang melihatku murung. "Lagi pula kamu bukan putus dari Willy?" sambungnya.
“Kamu enggak akan tau seberapa besar rindu aku sama dia, bahkan angin yang berhembuspun tau kepada siapa rindu ini dituju.”
“Punya teman kok bucin banget! Baru juga ditinggal 3 hari,” tuturnya.
Ponselku bergetar kembali, dan kali ini giliran pesan masuk datang dari sang dambaan hati. Aku Heboh sendiri sampai mengagetkan Yeri yang berada di sampingku.
“Kenapa? Kenapa?” tanya Yeri tanpa jeda.
Aku tersenyum kegirangan. “Willy balas chat aku.”
“Kamu ini ... aku kira ada apa.”
Aku membaca balasan dari Willy yang bertuliskan “Lagi di bawah langit.”
“pap” pintaku padanya agar mengirim bukti kegiatannya.
Dia mengirimkan sebuah foto yang menampakkan langit biru cerah.
“Enggak tahu, kenapa?” balas dia dengan segera.
“Jawabannya ada di kata pertama.”
Tiba-tiba saja Willy melakukan panggilan video.
“Jennie ku ...” panggilnya setelah aku menerima panggilan.
“Willy ku ...” sahutku dengan nada imut.
“Kamu kangen aku ya?”
Aku mengangguk manja, menampilkan ekspresi menyedihkan.
"Eummm" gumamku.
“Kamu bahagia saja! yang rindu biarlah aku ...” tutur Willy.
“Oh tuhan ...” ujar Yeri setelah mendengar penuturan Willy.
“Kamu tau enggak? Sekarang hidup aku cuma seputar malam susah tidur, pagi susah bangun dan kangen enggak bisa ketemu,” tuturku kepada Willy.
Ternyata benar kata Dilan, rindu itu memang berat. Bahkan menurutku rindu itu curang, datang kapan saja tanpa tahu waktu.
***
Hari ini adalah hari di mana kepulangan Willy setelah bermuara di tempat orang selama 7 hari. Aku tak bisa menantikannya lagi, jadi aku bergegas ke terminal untuk menjemput dia.
Aku berdiri menunggu kedatangan bus mereka. Sesaat bus yang ditumpangi Willy tiba, aku segera mendekat dan berdiri di dekat pintu bus menunggu gilirannya keluar.
Begitu Willy turun dari bus, aku langsung memeluknya dengan erat.
“Jarak adalah orang ketiga di antara kita,” jujurku yang masih dalam pelukan. Kemudian menambahkan, “Jangan jauh-jauh dari aku.”
Aku melepas pelukan karena dirasa sudah cukup lama.
“Jangan khawatir. Aku enggak bisa jauh-jauh dari kamu” tuturnya.
Sebelum pulang, kami mampir dulu ke sebuah kafe. Sambil menunggu pesanan, aku memandangi Willy untuk memuaskan rasa rinduku ini.
“Kenapa lihatnya kayak begitu?” tanya dia yang merasa malu sendiri karena tingkahku.
Aku masih dalam posisi yang sama tanpa menggubris perkataannya.
“Sudah! Kamu jangan imut kayak begitu dong! Nanti kalau banyak yang suka gimana?” ungkap Willy yang membuatku tak lagi berpose seperti itu.
“Dengar kamu bicara begitu saja, aku tambah sayang.”
Jatuh cinta kepada Willy seolah selalu berulang kali aku lakukan. Mencintai dia tidak pernah aku rasakan cukup. Dan kehilangannya, adalah mimpi terburuk yang tak pernah aku inginkan terjadi.