Winwin

Winwin
"Menyerah"



🌼 Bagian Yeri~


Begitu pameran foto selesai diselenggarakan, aku dan Jefry bukannya makin dekat tetapi justru malah kembali seperti semula. Walaupun sering tatap muka di kelas, tak ada obrolan lagi antara kami, bahkan chat dari dia sudah tenggelam saking tidak pernah bertukar pesan lagi.


Selagi membaca pesan-pesan terdahulu yang dikirim olehnya, aku bergumam dihadapan Jennie dan Willy “Apakah aku harus chat ‘Assalamualaikum’ dulu, biar kalau dia enggak jawab nanti bakal dosa?”


“Mungkin dia lagi sibuk,” tutur Jennie yang berprasangka baik.


“Bukan masalah sibuk atau enggaknya, masalahnya kamu siapanya? Kok nungguin?” sambung Willy.


“Benar. Dia enggak sibuk tapi emang akunya saja yang enggak berarti buat dia,” balasku yang merasa putus asa.


"Hanya ingin bertegur sapa denganmu saja, masa iya aku harus meminta agar setiap dosen membentuk kelompok yang anggotanya hanya kamu dan aku. Sesulit itu kah aku yang ingin mendapatkan balasan rasa dari Jefry?"


***


“Kamu bukan siapa-siapa, namun mampu membuatku gundah gulana. Kenapa?” gumamku yang sedang berdiri di luar rumah menatap bintang-bintang di langit.


Tiba-tiba saja seseorang menjawab, “Siapa?”


Aku menoleh ke arah suara. “Kapan datang? Kenapa enggak kasih kabar dulu?” sambutku kepada kak Dean.


“Kenapa enggak dijawab? Siapa yang bikin kamu gundah gulana?” balik tanyanya menggoda.


"Kakak enggak perlu tau!” jawabku.


“Kita makan di luar yuk! Kakak lapar nih!”


Seperti takdir, aku bertemu dengan Jefry di restoran. Dia datang sendiri sedang memesan makanan.


Pada satu sisi, aku senang bisa berpapasan dengannya di tempat selain kampus. Dan di sisi lain aku berada dalam posisi canggung karena datang bersama dengan kak Dean.


Aku menyapa dia dengan sebuah senyuman yang terasa kikuk.


“Kamu makan di sini juga?” tanya ku setelah mendapat senyum balasan darinya.


“Sendiri?” tanyaku berikutnya.


“Iya,” dia jawab dengan irit.


“Kalian saling kenal?” tanya penasaran kak Dean.


“Iya,” balasku. Aku memperkenalkan kak Dean kepada Jefry, “Kenalkan, ini kakak ku!”


“Saya Dean, kakaknya Yeri.”


"Saya Jefry."


Selepas itu dia pergi ke meja tempatnya. Walaupun kami berada di tempat yang sama, tetap saja keberadaanku seolah tak ia hiraukan, padahal aku diam-diam memperhatikannya.


Dari sini aku berpikir, “Jika bisa, aku ingin kita bertukar posisi, kamu yang jatuh hati dan aku yang tidak peduli.”


***


Aku, Jennie dan Willy duduk di bangku taman kampus sambil menunggu jam kuliah berikutnya.


“Sesekali duduklah denganku ... siapa tau jantungmu bergetar saat bersamaku,” ucapku melihat Jefry sedang duduk sendiri sambil mengotak-atik kamera miliknya.


“Cukup kagumi dari jauh saja. Daripada dia tahu kemudian menjauh,” tembal Willy yang sama-sama memandangi Jefry.


“Benar. Batasku hanya mengagumi saja bukan memiliki,” balasku lesu menyetujui pernyataan Willy. “Pada akhirnya Jefry adalah apa yang selalu ku tulis dan aku adalah apa yang tidak pernah dia baca, Semenyedihkan itukah kisah cinta ku?” sambungku.


“Rey, kamu enggak capek? Cowok di kampus ini masih banyak. Kenapa masih mengharapkan dia?” ungkap kesal Jennie karena sikapku yang terus galau karena Jefry. “Cari cowok itu bukan yang ganteng, bukan yang pintar, apalagi yang tajir. Cari cowok itu yang bisa menghargai orang lain, karena semuanya akan percuma kalau dia enggak bisa menghargai orang lain,” sambung Jennie.


“Semua yang kamu ucapkan itu benar. Aku juga mau menyerah ... tapi enggak bisa. Aku harus bagaimana?” balasku kepada Jennie.


"Terkadang kita perlu menyerah dalam menyukai bukan karena tidak menyukainya lagi. Tapi karena kita sadar, bahwa banyak hal yang tidak bisa dipaksakan."