Winwin

Winwin
"Sendiri"



🍁 Bagian Jaehyun~


Kabar putusnya aku dengan Rose sepertinya sudah menyebar ke penjuru kampus, semua orang membicarakan kami seakan itu adalah topik yang paling menarik. Kenyamananku terganggu sehingga rasanya ingin menghilang dari keramaian.


“Kadang menyendiri adalah pemulihan dari segala kacaunya situasi.”


Setelah kelas usai, aku akan mengasingkan diri ke tempat persembunyianku tanpa ditemani siapapun.


“Oke. Sampai di sini dulu,” ucap dosen mengakhiri mata kuliah. "Sampai bertemu minggu depan,” tutup dosen.


“Habis ini mau ke mana?” tanya Mikha.


"Ada apa?"


“Temani aku ke toko sepatu yuk!” ajaknya padaku.


“Mau beli buat siapa lagi?” tanyaku.


“Irene.”


“Aku enggak bisa, beli sendiri saja!” balasku sembari merapikan buku-buku ke dalam tas.


Tiba- tiba saja. “Ini!” ujar perempuan yang berdiri di depan meja belajarku memberikan kotak hadiah yang dihiasi pita.


Sebenarnya aku tidak menyukai situasi seperti, karena tak bisa memahami mereka. Aku hanya memandanginya tanpa menerima pemberiannya.


“Tolong terima!” ungkapnya.


“Maaf ...” tolakku tanpa menjelaskan.


Perempuan itu mengatakan, “Ini buat kamu saja!” kepada Mikha yang duduk di sebelahku.


Mengenai putusnya aku dengan Rose yang sudah menyebar, sebagian dari mereka ada yang menyayangkan hubungan kami dan sebagiannya lagi ada yang tampak bahagia. Alasan aku berpikir demikian, itu karena banyak laki-laki yang sedang mengantri menunggu Rose putus denganku.


Setelah aku putus dengan Rose, Dio sudah seperti permen karet yang selalu menempel padanya dan itu tidak menutup kemungkinan bahwa dia juga menyukai Rose.


“Aku bahkan sudah tidak berhak cemburu,” tuturku dalam benak setelah melihat kedekatan mereka.


Aku duduk di kursi ini hanya sendiri sambil menikmati udara segara. Karena cuacanya sangat bagus jadi aku beranjak, mulai memotret dari sudut satu ke sudut lain dengan kamera kesayanganku sampai mendapatkan hasil yang astetik.


Saat memotret, di layar kamera terlihat ada seorang perempuan yang sedang mencium aroma bunga dari tangkainya. Sehubungan memotret diam-diam merupakan tindakan ilegal, jadi aku menurunkan kamera.


“Kenapa kamu enggak foto aku?” ucap perempuan yang bernama Yeri.


Sesuai ucapannya yang menerjemahkan bahwa ia ingin difoto, jadi aku mulai memotretnya sampai di rasa cukup.


Dia mulai mendekat, ingin memeriksa hasil potretanku.


“Hasilnya bagus enggak?” tanya dia.


Aku memberikan kamera kepadanya.


“Waaahh” Spontannya melihat hasil potretanku.


"Bagaimana bisa aku secantik ini?" gumamnya yang terdengar ditelinga.


“Sekarang giliran aku yang foto kamu,” ucap dia setelah melihat semua fotonya.


“Enggak usah.”


“Sedang apa? Cepat!” tegasnya menyuruhku berpose.


Aku mulai berpose dengan latar bunga.


“Senyum sedikit bisa?” tanya dia.


Aku mulai berpose dengan melebarkan bibir sesuai kemauannya.


“Nah kalau begitu, kan gantengnya kelihatan.” Terus memotret.


Aku kira tidak banyak yang tahu tentang lokasi ini, tapi ternyata Yeri juga mengetahuinya. Jujur aku merasa tak nyaman dengan kehadirannya, selepas dia memotret, aku segera pergi.


Untuk saat ini, aku menikmati waktu kesendirianku. Bahkan jika ada yang datang aku akan memilih menolak, bukan karena belum melupa tapi aku ingin memantaskan diri menjadi pria yang lebih baik dulu, sebab jika terus mengingat kenangan bersamanya hanya akan menghalangi perjalanan.