
Brakk.
Cintya membanting pintu apartemen miliknya, dia merasa kesal dengan sikap George yang semaunya sendiri.
"Ihh, dasar bule gila. Ya Tuhan kenapa aku harus terjebak dengan pria seperti dia?". Di meletakkan Donut's yang tadi di belinya di Mall, Cintya sangat bingung karena dia harus meninggalkan putrinya, dan ini pertama kali baginya pergi tanpa Yuna.
Kepalanya terasa pusing hingga berputar-putar, ini benar-benar dilem baginya. Dia berfikir untuk mengajak Yuna bersamanya, tapi apa George akan mengijinkannya. Memang ini sudah tugasnya memuaskan tuannya, tapi sepertinya untuk berpergian jauh tidak masuk dalam isi perjanjiannya. "Ini menjengkelkan sekali, dan aku harap pria itu secepatnya merasa bosan padaku. Aku benci pria-pria kaya," bisiknya dalam hati.
Ting.
1 massage.
"Aku akan menjemputmu pukul 07.00 pagi lusa."
"Hufth..." Cintya menghembuskan nafasnya dengan kasar, dia merebahkan tubuh besarnya di sofa. bagaimana tidak baginya ini seperti mimpi buruk ketika dia harus pergi jauh tanpa putri kecilnya, apa yang harus dia katakan pada Yuna, dan di mana dia harus menitipkan putrinya. Dia tahu jika ini kewajibannya harus melayani George, karena George sudah membelinya.
"Wah..wah...wah...ada apa dengan dirimu, kenapa tampangmu mengenaskan seperti itu?" suara Dian mengejutkan dirinya.
"Kapan kau datang, Di?" tanya Cintya.
"Ya cukup lama untuk melihat sahabatku, yang sejak tadi uring-uringan." Dian menaikkan sebelah alisnya seakan meminta jawaban dari Cintya.
"Hm, begitu."jawab Cintya.
"Hai Nona, jadi apa yang membuat mu uring-uringan seperti itu, Hm?" tanya Dian penasaran.
"Jadi---." Cintya hanya menggantung kalimatnya, dia senang jika melihat sahabatnya yang super duper kepo.
"Jadi, apa?"Dian menaikkan sebelah alisnya.
"Jadi aku akan ikut Tuan George, dia akan melakukan perjalanan bisnis." Cintya masih saja tiduran di sofa itu.
"Apa? apa dia segitu tergila-gilanya dengan service mu? Sampai membawamu saat perjalanan bisnisnya." tanya Dian masih saja takjub dengan apa yang baru Cintya katakan.
"Hm, dia begitu tergila-gila. Puas kau sekarang," ujar Cintya.
"Okay, jadi sekarang si bahenol Cintya punya penggemar baru. Huhh aku takut," ledek Dian.
"Diam, dan pergilah jemput Yuna. Kepalaku sangat sakit memikirkannya." perintah Cintya.
"Kenapa sakit?" tanya Dian.
"Aku bingung untuk mengatakannya pada Yuna, dan jika Yuna tidak ikut. Dia harus tinggal dengan siapa?"jawab Cintya lesu.
Dian mengernyitkan dahinya merasa heran dengan fikiran Cintya, seharusny Cintya bersyukur hanya melayani satu pria tidak seperti dahulu yang harus melayani banyak pria.
"Memang kau menganggapku siapa, hm. Aku bisa menjaganya untukmu,"
"Dan kau nikmatilah, anggap ini liburan untukmu dan Bersenang-senanglah, Ci." sambung Dian cepat.
Cintya memutar bola matannya, bagaimana mungkin dia menganggap ini sebuah liburan, Karena pastinya akan menyiksa jauh dari Yuna.
"Sudah kau jemput Yuna sekarang! Pasti Yuna sudah menunggu."perintah Cintya.
"Ok Nona, siap dilaksanakan."
Dian pergi menjemput Yuna, karena hari ini dia ingin mengajak Yuna jalan-jalan. Sedangkan Cintya
* * *
"Yuna...."
"Tante, mamah mana?"
"Sayang, apa kau menungggu lama. Hari ini tante yang jemput mama sedang tidak enak badan,"ujar Dian.
"Mama sakit apa, tante?"tanya Yuna dengan wajah lucunya.
"Hanya pusing sedikit, Yuna kita ke Mall yuk. Tante lapar nih," pinta Dian, dia ingin membujuk Yuna agar mau tinggal bersamanya selama Cintya pergi.
"Ayo tante,"
Dian sangat bangga pada sahabatnya karena bisa membesarkn anaknya sendiri, dia saja tak punya keberanian sedukitpun seperti Cintya hanya karena statusnya sebagai wanita malam.
"Tante, kita duduk di sini ya." Yuna menarik tangan Dian agar duduk di dekat jendela.
"Sayang, mau pesan apa?"
"Hm, sushi isi salmon saja tante. Bolehkan?"tanya gadis kecil itu dengan sedikit ketakutan.
"Tentu saja boleh, sayang." Dian mencubit gemas Pipi Yuna😊, Dian melambaikan tangannya pada salah satu pelayan di restoran itu.
"Pesan apa nyonya?" tanya pelayan itu.
"Dua sushi isi salmon, dan dua jus jeruk."
"Baik, dua sushi isi salmon dan dua jus jeruk." setelah mencatat pesanan mereka pelayan itu pun pergi.
"Anak manis, tante mau bicara ya." sebenarnya Dian ragu apa Yuna mau tinggal dengannya.
"Kenapa, tante?"
"Yuna, mau kan tinggal bareng tante karena mama harus bekerja di Bali beberapa hari." Dian mengucapkan dengan cepat agar Yuna tak menyela saat dia bicara, tapi Yuna hanya melihatnya Dengan tatapan tak dapat di artikan.
Sudah hampir setengah jam pembicaraan antara Yuna dan Dian, tetapi Yuna masih saja bungkam. Dia justru asik menikmati makanan yang ada di depannya.
"Sushi nya enak tante, terima kasih ya."Yuna melanjutkan makannya, Dian yang melihatnya hanya mengacak-acak rambutnya.
"Tante, Yuna akan tinggal sama tante."
"Benar sayang," Dian seakan tak percaya karena Yuna bersedia tinggal dengannya untuk sementara.
"Iya tante, karena Yuna tidak mau Menyusahkan mamah."
Dian pun memeluk Yuna
"Anak manis, mamah Yuna bekerja untuk kebutuhan Yuna." Dian Merasa sangat bersyukur karena tak sesusah itu untuk membujuk Yuna, dan jika di lihat Yuna adalah anak yang baik dan menurut, Setelah mereka menghabiskan makanannya Yuna dan Dian bergegas pulang.
* * *
"Bagaimana dengan semua persiapan kita untuk rapat di Bali? Apakah semua berkas sudah lengkap."
"Sudah Tuan, saya pastikan semua akan berjalan seperti rencana kita."
"Itu harus karena aku tak mau lagi, jika kita bekerja sama dengan perusahaan Jordan." George merasa tak percaya dengan Jordan, karena di dalam berbisnis selalu ada penghianat.
"Iya Tuan, saya mengerti."
Begini lah jika menjadi pengusaha sukses, semua harus dia kerjakan sampai tuntas karena dia ingin semua pekerjaannya sempurna. Menjadi pemilik perusahaan bergerak di bidang properti paling suksek di Asia, tak membuatnya cepat merasa puas karena itu bukan sifat George.
Dia sejak tadi terus bekerja dengan segudang tumpukkan map-map yang di hadapannya, tapi dalam hatinya dia terus saja menyebut nama wanita itu. Iya dia menyebut Cintya dalam hatinya, George sendiri tak mengerti kenapa dia bisa otak dan hatinya hanya menyebut satu nama saja yaitu 'Cintya' .
"Aku bisa gila jika terus berada di dekat wanita itu, tubuhnya benar-benar membuatku terus menginginkannya. Tak salah jika aku harus membelinya dengan harga mahal karena sangat memuaskan,"bisik lirih George dalam hatinya.
Sepertinya dia sangat membutuhkan tubuh wanita itu, dia ingin memeluk tubuh besar Cintya, George pun berpikir untuk menghubungi Cintya agar datang ke kantornya. "Bukan ide buruk, aku akan memintanya untuk membawa makan siang untukku." George tersenyum licik.
"Hallo,"
"Hm, ada apa Tuan?" tanya wanita di seberang sana.
"Bisakah kau datang ke kantorku, dan bawakan aku makan siang. Kita akan lakukan Sex after lunch," ujar George.
"Iya Tuan, baiklah aku akan kesana."
"Klik."
George meggeram kesal, dia mulai tidak suka dengan sikap Cintya yang selalu menuruti kata-katanya. Dia ingin melihat Cintya yang galak dan suka membangkang padanya karena akan terlihat sangat seksi.
"Sepertinya kau ingin berubah jadi wanita lembut dan lemah, apa kau ingin merayuku." George terus memikirkan itu.
Maaf lama update dan juga part sedikit , alhamdulilah lagi ada kesibukan di dunia nyata .😆😆😆😇