
"Gila, pria itu benar-benar gila kenapa harus ada perjanjian dibalik kontrak ini." Jeni terus saja menggerutu, dia menggeram dalam hati tak habis fikir bagaimana mungkin pria itu membuat perjanjian seperti ini.
Jeni menatap kertas itu kembali, "Arghh.."lagi-lagi dia memukul kepalanya frustasi.
"Ada apa denganmu? Hm," tanya pria dihadapannya yang sejak tadi memperhatikan tingkah aneh Jeni.
"Tidak ada apa-apa kak, heheeh." jawab Jeni, dia tak ingin membuat kakaknya khawatir.
"Apa ada masalah dengan perusahaan Max?" Tanya Jordan lagi.
"Ehmm.. Biasa saja kak, aku rasa aku bisa mengatasinya." ucap Jeni.
"Dan lagi pula kami sudah dapat investor tunggal dari jakarta," lanjut nya lagi.
Jeni kembali menghembuskan nafasnya ketika melihat kertas perjanjian itu, selama ini dia mencoba tak berhubungan dengan pria-pria karena mereka menyebalkan, bahkan baginya bertunangan dengannMax adalah keputusan yang salah. tapi kini dia harus berdekatan dengan Dua pria sungguh akan membuat harinya semakin pusing.
"Investor tunggal?" Jordan hanya mengernyitkan dahinya, baginya mana mungkin ada perusahaan yang mau menjadi investor tunggal apa lagi dengan kondisi perusahaan nyaris bangkrut.
"Apa nama perusahaan itu?" tanya Jordan lagi.
"Entahlah kak aku lupa," Jeni hanya tersenyum manis dan kembali memasukkan kertas yang dipeganggnya.
"Ya sudah sana mandi dan lepas kaca matamu, jangan ikat dua lagi rambutmu sangat menyebalkan melihatnya!"
"Hm..Iya kakakku."
Jeni meninggalkan Jordan yang masih sibuk dengan tabletnya, dia bekerja keras untuk saat ini karena perusahaannya kalah tender besar.
* * *
"Rendy, kau tahu hatiku berdegup sangat cepat. Jika aku tak bisa mengendalikan diriku pasti aku sudah memeluknya."
"Apa sebahagia itu Tuan bertemu dengan Nn. Cintya.?" tanya Rendi.
"Iya sangat.. aku sangat bahagia, Aku menunggu hari ini, bukankah kau tahu betapa aku mencintainya." ucap George lirih.
"Tentu saja Tuan, saya lebih tahu bagaimana hancurnya anda." ucap Randy lagi.
Randy tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya lagi Tuannya itu, dia pasti akan sangat terpuruk jika tak bisa bertemu kembali dengan Cintya.
Randy Pov.
"Rendy, apa kau sudah mencari nya?" tanya George dengan kondisi mabuk,
"Tuan saya sudah mencarinya tapi, tak ada perkembangan berarti."
Dia hanya duduk terdiam tanpa sedikitpun ekspresi, bahkan lihatlah dulu dia pria yang sangat tampan, menyukai kesempurnaan.
Tapi, kini dia menjadi pria yang lebih buruk raganya disini, namun jiwanya tidak, aku harus bekerja keras mengurus perusahaannya, dan juga dirinya.
"Lalu apa yang harus aku lalukan Ran, dia hilang seperti di telan bumi." ucap George dengan nada penuh keputusasaan.
"Tuan, seharusnya anda bisa berubah menjadi lebih baik, saya yakin Nn. Cintya tak menginginkan anda seperti ini." jawabku lagi.
Prank..prank..
"Apa? Aku rasa memang aku pantas seperti ini menderita karena merindukannya."
"Tuan,"
"Biarkan aku seperti ini menyesali perbuatanku, kau tolong urus perusahaanku."
Pov End.
* * *
"Bagaimana dengan perusahaan kita, Max?" Tanya pria paruh baya yang duduk dihadapan nya.
"Sejauh ini aku masih mencari kuman-kuman yang bersarang di perusahaan Daddy," jawab Max.
"Baguslah, Daddy berharap kau bisa menjalankan perusahaan dengan baik."
Prabono masih setia menatap wajah putranya, dia jarang sekali bisa berbicara dengan putranya.
"Pasti Dad, apa lagi ada Jeni yang membantu ku." Ucapnya lagi.
Prabono sekilas melirik ke arah putra nya ketika mengatakan Jeni, seperti nya putranya itu sudah mulai bisa menerima wanita itu.
"Seperti nya, Jeni banyak membantu mu di kantor."
Lagi-lagi Prabono mencoba memancing putranya, karena ingin tahu bagaimana pendapat Max tentang Jeni.
"Whoaa..Dad, kau memang tak salah pilih dia wanita pintar. Meskipun terlihat dari dandanannya yang kuno itu Dad."
"Dia bahkan menyelesaikan semua masalah dengan cepat, dan karenanya juga Dad perusahaan investor terbesar kita menyetujui kerja sama ini." Max tak sadar jika dirinya sudah jatuh dalam pesona Jeni, bahkan ketika dia menceritakan tentang Jeni kedua matanya berbinar bahagia.
"Oh iya, sehebat itu kah Jeni sampai Investor mu tertarik?" Tanya Prabono penasaran.
"HM, Nama nya George Hardvas. Dia hanya meminta Jeni menemani nya selama di Bali." Ucap Max dengan santai, dan kembali memakan makanan nya.
Prabono mengernyit kan dahinya seakan mulai menyadari siapa pria itu, "Jadi sudah menemukan nya, Max berhati-hati lah jika kau tak ingin kehilangan Jeni, jaga dia dengan baik sebelum semuanya terlambat." Kali ini Prabono terlihat berbicara dengan wajah yang terlihat serius.
"Maksud Daddy?" Tanya Max dengan mengernyit kan dahinya.
Namun bukan menjawab pertanyaan putranya Prabono memilih menghabiskan makanannya dan meninggalkan putranya itu.
Ku harap kau tak kecewa terlalu dalam jika ingatan Jeni kembali dan meninggalkanmu. Batin Prabono.
* * *
Pagi ini Jeni harus bergegas kekantor, iya dia lupa menyimpan dimana buku jadwal miliknya, Padahal hari ini ada rapat penting untuk Max.
"Akhhh...sialan," Jeni berlari sekuat tenaganya dia tak tahu kenapa lemak-lemak ditubuhnya tak mau menghilang, apa harus diberi sunligth biar lemak membandel hilang.
Dengan langkah lebar dia menuju meja mikliknya, dan mencari ke semua sudut tapi tak ditemukan dimanapun. Ini akan jadi masalah fatal baginya jika dia tak menemukan buku itu.
"Apa yang kau cari?"
Jeni merasa tak asing dengan suara itu, dan segera membalikkan tubuhnya menghadap suara itu.
"Mr. Hardvas," sapa Jeni.
"Apa yang kau cari?" George mengulang kembali pertanyaannya.
"Mencari sesuatu, dan tidak terlalu penting Mr." jawabnya.
"Hmm...hari ini kau harus menemaniku pergi!" perintah George.
"Pergi? Tapi aku harus bekerja Mr. Harvads."
"Aku sudah meminta izin pada Mr. Prabono. Dan dia sedang pergi Rapat dengan sekertarisku." jawab George.
"Apa? Sekertarismu." Jeni mengernyitkan dahinya seakan belum konek dengan perkataan George.
"Sudah ayok ikut, aku sengaja menjemputmu disini." George menggandeng tangan Jeni dan membawanya pergi dari ruangan itu dan membawanya ke dalam mobil.
"Kita mau ke mana Mr. Hardvas?"
"Call me Geo," George tersenyum nakal ke arah Jeni.
"Maaf tapi sepertinya tidak sopan, Mr. Hardvas."
Mendengar penolakan dari Jeni George menepikan mobilnya, "Jika kau tak mau memanggilku Geo, kita batalkan perjanjian ini." ucapnya dingin.
Jeni hanya bisa mendengus kesal melihat tingkah kedua pria mapan yang suka dengan ancaman, dan bersikap kekanak-kanakan.
"Benar-benar buah simalakama, baiklah Geo." kali ini Jeni memilih mengikuti pria ini dia tak mau semua apa yang dia kerjakan sia-sia, bagaimanapun jika pekerjaan ini selesai maka dia akan menyudahi pertunangan pura-puranya.
"Jen, boleh aku bertanya?"
George yang melihat anggukan kepala dari Jeni pun tersenyum, dia memang wanitanya dilihat dari sisi manapun dia tetap cantik.
"Kenapa kamu menutupi wajah cantikmu dengan dandananmu yang seperti nerd?"
"Gak apa-apa, hanya ingin."
"Apa seseatu pernah terkadi padamu?"
"Tidak,"
Mendengar jawaban Jeni, Max hanya bisa manggut-manggut.
"Lalu, apa kamu sudah punya kekasih?"
"Tidak punya," jawab Jeni singkat.
"Oh iya, baguslah."
"Tapi aku sudah bertunangan dengan bosku," balas Jeni santai.
Cittttt...
Citttt...
"Geo kau gila ya, kau fikir nyawamu ada sepuluh lihatlah bagaimana jika kita sampai menabrak. Shitt...pria gila," umpat Jeni lagi.
"Kau masih tetap sama seperti dulu," ucapnya lagi, dan menjalankan kembali mobilnya.
Kali ini Jeni yang menatap heran dengan ucapan Geo, dia berkata jika 'kau masih tetap sama seperti dulu' apa mungkin pria ini mengenalnya dulu, atau pria ini mengetahui masa lalunya sebelum dia hilang ingatan, Apa dia perlu bertanya pada Geo.
"Sudahlah," bisiknya dalam hati.
* * *
"Bagus bukan,"
Geo berjalan menyusuri pantai, tempat pertama kali dia membawa Cintya pergi menemani bisnisnya.
"Hm, kau suka pantai Geo?"
"Iya, suka apa lagi jika bersamamu." ucapnya lagi.
"Bersamaku? Kenapa?"
"Entahlah, aku senang didekatmu, melihatmu bicara, senyummu, bahkan umpatan yang keluar dari bibirmu." gpda George.
Sontak saja membuat pipi bakpao Jeni semerah tomat, tak disangka pria ini mengatakan hal itu tanpa ragu, namun Jeni mencoba menutupi rasa grogi nya.
"Bahkan kita baru bertemu, bagaimana mungkin." ucap Jeni sudah duduk di pinggir pantai.
"Bisa jadi kau jodohku,"
"Gila kau Ge,"
Jeni tertawa mendengar jika dia jodoh pria itu, mahluk didunia ini sepertinya penglihatannya banyak yang katarak.
"Aku benar-benar merindukanmu,"
"Apa? Kau bicara apa?" Jeni mendekatkan telinganya.
"Tidak apa-apa, diamlah."
Dengan gerakan lembut George membuka kaca matanya, dan membuka ikat rambutnya, sehingga rambut panjangnya terurai.
"Apa yang kau lakukkan Geo," ketika Jeni jendak mengikat rambutnya, George menghentikan gerakan tangan Jeni.
"Biarkan seperti ini seterusnya, lebih cantik."
"Apa kau menyukai pantai?" tanya George pada Jeni.
"Entahlah, tapi aku seperti merasa pernah datang kepantai ini bersama seseorang, tapi aku tidak ingat." jawab Jeni.
Itu aku Cintya, bisik George dalam hati.
Drttt...
Drttt...
Max caling,
George yang melihat siapa yang menghubungi Jeni pun, mempersilahkan untuk mengangkat nya, dia memang cemburu, marah, dan benci. Karena wanitanya diambil pria lain, tapi itu semua tak akan lama dia akan menempel terus pada Jeni sampai Jatuh cinta padanya lagi.
"Iya, ada apa?"
"Kau dimana? Kau tau aku bisa mendapatkan investor lagi dan kali ini karena otakku yang cerdas." Ucapan sombong pria di seberang sana.
"Hmm apa iya ? Aku tak percaya apa bukan karena sekertaris Mr. Hardvas?" Tanya Jeni dengan nada yang mengejek.
"Hai Nona, jaga ucapanmu aku bahkan lebih pintar darimu. Akan aku buktikan padamu."
Klik..
Tut...Tut .Tut ...
"Pria aneh," Jeni segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Jen,"
"Iya," dia tertegun melihat wajah serius nb pria dibelakangnya, yang berjalan mendekati dirinya.
"boleh aku menciummu?"
Maaf maksain update tapi mungkin ceritanya gak nyambung, dan gak sesuai harapan ,,😚😍😍😍😍😘😘😘