
Pria itu terus membawa Jeni di dalam gelap malam, menyeretnya tanpa memperdulikan Jeni yang mengerang kesakitan, karena kencangnya dia memegang tangan Jeni.
"Apa yang kau lakukan dengan pria itu?hah jawab kakak?
"Kak, ada apa? Kenapa kau semarah ini? Kami tidak melakukan apapun? Di investor kami." Jawab Jeni dengan cepat tanpa jeda.
"Jangan pernah kau berurusan dengannya, kenapan kau tak mengatakan jika dia investor mu!" Wajah Jordan terlihat sangat berapi-api, dia mengusap kasar wajahnya merasa kecolongan lagi, memangtak seharusnya dia melonggarkan penjagaan pada adiknya. " Ayo kita pulang!"ajak Jordan dengan paksa.
"Kak dengarkan aku, aku datang dengan Tuan Hardvas,"
"Jordan biarkan aku menebus kesalahanku, aku mencari Cintya kemana pun jangan pisahkan kami lagi, aku sangat menyesal izinkan aku menikahinya." George berlutut dihadapan Jordan, kali ini Georgebsudah tak memperdulikan lagi harga dirinya, baginya memiliki Cintya kembali dalam dirinya adalah kebahagiaan nya.
" Tidak, aku tidak akan mungkin membiarkan Cintya kembali padamu. Bahkan dihari kematian Yuna kau masih saja seperti **** lebih mementingkan memuaskan nafsu binatangmu."
"Tidak, aku tidak tahu jika putri Cintya tewas saat itu. Aku minta maaf jika aku ****, tapi Jordan tolong aku, aku tak bisa berpisah lagi dirinya."
"Cintya ku mohon maafkan aku, demi tuhan aku tak tahu jika Yuna meninggal saat itu."
Melihat kedua pria itu bertengkar membuat Jeni merasa jengah, dia semakin tak mengerti dengan ucapan mereka, Cintya, Yuna, siapa mereka. Dan George mencintaiku, dan mencariku, siapa diriku sebenarnya?"
Tiba-tiba saja kepalanya seperti berputar-putar, bayangan yang selama ini hanya muncul sesekali kini terlihat jelas, "Mama, Yuna sayang mama."
"mamah, Yuna ingin jalan-jalannya sama om George," air matanya jatuh tak tertahankan, "aMamah tolong Yunaa...."
Brukk.
Jeni jatuh tubuhnya mengeluarkan kringat dingin, membuat Jordan yang sedari tadi mencengkram erat tangian Jeni pun kaget.
"Cintya....Cintya..." Jordan menatap tajam ke arah suara itu, Bugg...bug...
Sebuah tinju melayang ke wajah tampannya.
"Sialan, ****, kau memang selalu menjadi sumber masalah... Jangan pernah panggil nama itu, ingat nama nya adalah Jeni."
Jordan menggendong tubuh Jeni dan segera membawanya ke rumah sakit.
George sangat Takut jika terjadi apa-apa pada Jeni, dia sangat khawatir tetapi apa daya jika kini penghalang terbesarnya bukanlah Jeni yang hilang ingatan. Namun Jordan lah penghalang yang nyata, karena sudah pasti pria itu sangat membencinya.
"Tuan, sebaiknya kita pergi dahulu. Aku akan mencari tahu keadaan Nn. Chintya." Rendi memapah tubuh George menuju mobil.
"Apa yang kini harus aku lakukan Ren? Bagaiman jika aku benar-benar kehilangan Cintya," air mata pria itu tak bisa ditahan lagi, begitu banyak rasa penyesalan, rindu, dan Cinta bagi Cintya.
* * *
Jordan merasa gelisah sejak tadi dia tak bisa mengendalikan diri dan, bagaiman bisa dia kecolongan ini salahnya dia lupa jika pria itu masih sangat menginginkan adiknya.
Tapi dia tak menyangka secepat itu George menemukan Jeni, bagaiman jika ingatan yang menyakitkan adiknya itu datang dan membuat Jeni seperti dulu.
"Yunaaaa..."
Jeni terbangun dari tidurnya, keringat deras mengaliri wajahnya, nafasnya tersengal-sengal. Iya dia merasa seperti ketakutan dan juga cemas.
"Jeni, kau sudah sadar?" Jordan mendekati Jeni.
"Kak jelaskan padaku ada apa ini?"
"Percaya pada kakak tidak ada apa-apa, pria itu hanya berbohong untuk mendapatkan mu."
"Gak, gak, itu gak mungkin, sebelum ini pun aku bermimpi aneh hanya saja aku menghormati kakak, kak aku mohon kelaskan padaku." Jordan masih termangu dia merasa serba salah, Jordan terus saja mengusap kasar wajahnya, Apa kah ini waktunya mengatakan segalanya. Tidak, ini tidak boleh terjadi.
"Berhenti merengek dengarkan kakak, kau hanya perlu menjalankan hari ini dan masa depan, tak perlu mengingat masa lalu. Jika kau masih bertanya tentang masa lalu jangan salahkan jika kakak tak ingin melihat mu lagi."
Brakkk.....
Jordan meninggalkan Jeni sendiri di dalam kamar.
Jeni masih saja menangis😭, ada rahasia apa dibalik semua ini, dia semakin penasaran dengan masa lalunya dan kenapa kakaknya sangat ingin menghilangkan masa lalunya, siapa dia sebenarnya.
"Mamah, Yuna sayang mamah."
"Mamah, Yuna tidur bersama Tante Dian."
Jeni terus saja menutup telinganya, suara itu semakin jelas terdengar siapa Yuna, kenapa anak itu memanggil nya mamah, kepala terus berputar-putar.
"Tidak....tidakkk...."
Suara jeritan Jeni terdengar sangat melengking, membuat Jordan yang berada di luar berlari masuk kembali,
"Jeni, apa yang terjadi?" Jordan memeluk tubuh itu.
"Kakak katakan padaku ada apa? Siapa Yuna?" Tangis Jeni terdengar sangat pilu.
"Jeni," suara tak kalah keras.
Klek..
Ketika pintu ruangan terbuka Jordan menahan amarahnya dia memilih pergi saat Kekasih nya datang, "Jaga dia untuk ku Jes, seperti nya ingatannya sudah mulai pulih."
Jessica memeluk tubuh gemuk Jeni dan mengusap kembut rambutnya,
"Tenangkan dirimu, emosi sedang tinggi kita bicarakan semua jika kau sudah bisa mengendalikan dirimu."
Jessica sangat menyayangi Jeni, walaupun dia belum lama mengenal Jeni tetapi dia sudah menganggap adiknya sendiri, apalagi ketika Jordan menceritakan masa lalunya Jeni sudah pasti dia merasakan sakit nya menjadi Jeni.
"Istirahat lah, kakak janji akan menceritakan semuanya jika kau sudah lebih baik." Jeni menuruti ucapan Jessica.
* * * *
Jessica duduk di samping Jordan, dia mengusap lembut bahu Jordan dan tersenyum hangat. "Kuatkan dirimu, cepat atau lambat semua akan terjadi, mungkin ini waktunya kita menceritakan pada Cintya." Jordan menatap Jessica dengan tajam, dia tak suka jika ada yang memanggil Jeni dengan Cintya.
"Kau tak akan tahu, berapa banyak lagi Cintya akan terluka jika kita terus merahasiakan cerita yang sebenarnya." Jordan menyandarkan kepalanya di bahu kecil milik Jessica, dia merasa nyaman berada di dekat Jessica dan memang Jordan tak salah pilih.
"Cintya, Cintya, Cintya dimana kau." Lagi-lagi George membuat keributan, dia berteriak di lobi rumah sakit membuat banyak orang memandangnya.
Gila ya si George dia kira rumah sakit punya nenek moyang nya kali ya😃😃pake teriak segala.
Jordan membawanya ke sebuah taman yang ada di Rumah Sakit, dia masih saja mencengkram erat kerah baju milik George.
" Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi hari itu, dan kenapa Yuna bisa terbunuh?" Kali ini Jordan lebih tenang tetapi tak dipungkiri jika amarahnya tertahan.
"Hari itu, Cintya mendapat Telpon entah dari siapa? Dia memang memintaku untuk membiarkannya pergi, tapi bodohnya aku disaat aku merasa jika nafsunya setanku sedang tinggi, aku tak menghiraukan permintaan nya dan aku tetap menuntaskan nafsuku." Matanya terlihat kosong, ada penyesalan yang Jordan lihat di manik mata George.
"Ketika pagi menjelang Cintya sudah menghilang dari apartemen ku, dan pergi tak tahu kemana, namun tiba-tiba saja aku mengetahui jika Yuna di culik Oleh Laurent aku segera melacak keadaan nya, namun aku terlambat sesampainya di sana suara tembakan sudah terdengar, ketika aku masuk Yuna dan Cintya sudah tak ada, setelah Rendy mencari tahu ternyata Laurent lah yang menembaknya." Lanjut George tanpa jeda.
"****, harusnya kau memang di kebiri, bughh...bughh... bughh...rasakan ini untuk Yuna, dan ini untuk Cintya."
"Jordan hentikan itu, jika kau membunuhnya bagaimana dengan Cintya." Jessica melerai pertikaian itu dia memeluk tubuh kekar Jordan, hingga membuat Jordan menghentikan itu. "Akhhhhh...kenapa ini terjadi padanya Cintya yang malang, maafkan kakak yang terlambat mengetahui nya." Melihat tubuh kekar Jordan yang berlutut dan menangis membuat sepasang mata yang melihatnya menggigit bibir bawahnya, rahasia yang selama ini dia ingin ketahui terpampang jelas sudah.
Membuat hatinya ikut tercabik-cabik, anak benarkah dia memiliki anak, kepalanya terasa sakit seperti di tusuk-tusuk, keringat dinginnya pun keluar, matanya pun mulai berkunang-kunang ketika air mata sudah membasahi pipinya, hingga di pingsan lagi.
Mark yang tadinya ingin menjenguk Jeni pun terkejut saat Jeni berlari menuju taman, lalu memutuskan untuk mengikutinya.
"Jeni, jeni, bangunlah Jen,"
George, Jordan, dan Jessica yang mendengar nama Jeni di panggil pun menoleh kearah suara itu, lalu bergegas berlari menghampiri nya.
"Mark ada apa?"tanya Jordan dengan penuh kekhawatiran, iya adiknya pasti sudah mendengar semuanya.
"Minggir, kalian semua bodoh menyakiti nya sangat dalam." Mark membawanya kembali ke ruangan nya. Dia tak tahu jika Cintya seterluka ini.
"Lebih baik kalian pulang dahulu, biar Jeni Aku yang jaga."
George tak mungkin pulang dia ingin menjelaskan semua pada Cintya agar semua tak salah paham, dan yang terpenting Cintya tak meninggalkan nya .
Maaf lama update cerita ini sudah mau tamat, maaf di part ini isinya tak menyangkan karena hanya ada konflik.😀😁😀.