
Warning untuk 18+ , baca sesuai usiamu ya.
Think happy, be happy.
"Akhh."
Suara desahan yang sengaja ditahannya pun akhirnya keluar, dia berusaha untuk tak mengikuti permainan ini tapi semu sia-sia. Tubuhnya berkata lain sentuhan pria ini membuatnya klimaks.
"Sayang milikmu benar nikmat, menjepit hingga milikku tak tahan ingin keluar." pria itu terus saja meracau kenikmatan .
"Akhhh..akghh..." tak butuh waktu lama pria itu mencapai klimaks.
Dan Cintya pun menikmati nya walaupun hatinya menolak.
"Kau memang, Jalang yang bisa memuaskanku walau tubuhmu besar." pria itu pun tersenyum puas dengan service yang di berikan Cintya. Dia melempar uang ratusan ribu ke tubuh bugil Cintya.
Hatinya sakit di perlakukan seperti itu, dia ingin menangis setiap kali harus menjalani kewajibannya.
"Next time, jangan pernah memilihku lagi permainanmu sangat payah." Cintya pergi dan segera mengambil uang miliknya, dia tak memperdulikan umpatan yang keluar dari mulut pria itu, bukan karena dia sombong dan sok cantik. Tetapi memang dia tak ingin melakukannya dengan pria yang sama lebih dari tiga kali.
"Apa dia bilang! Aku memang bisa memuaskannya, tentu saja walau tubuhku subur tapi aku bisa melakukan dengan baik." gerutu Cintya.
Cintya memasuki Club malam tempatnya bekerja, dia menjatuhkan pantatnya dan duduk di sebelah Dian. dia memang memilki tubuh yang subur namun banyak pria yang sudah mengakui keahliannya di ranjang, bahkan dia tak kalah tenar dengan primadona di klub tempatnya bekerja.
"Kau sudah pulang Ci, bagaimana apakah pria itu bisa memuaskanmu?" tanya Dian, Dian adalah sahabatnya mereka bertemu ketika mereka sama-sama dijual ke klub milik Bobby.
"Kau tau Dian, seperti biasa aku tak pernah terpuaskan ini hanya pekerjaanku saja, pria itu sangat payah di ranjang. dan aku menikmatinya hanya sebatas di atas ranjang,"jawab Cintya dingin. Dia memang melakukannya tetapi semua itu hanya sebuah kewajiban baginya, kewajiban atas pekerjaannya.
"Whoaaahaahaha, iya nona aku tahu itu, kau tak terkalahkan." Dian pun hanya tertawa menanggapi ucapan Cintya.
"Terserah kamu saja Di, aku capek Di, harusnya malam ini aku bisa istirahat tapi kau tau bos kita pasti akan ngamuk." Cintya menidurkan kepalanya di atas meja, dia sangat letih karena harus melayani tamu beberapa kali.
"Pergi lah istirahat di mess, aku akan mamanggilmu jika ada tamu lagi"
"Tidak, aku akan tidur disini. Bobby akan membunuhku jika tahu aku pergi bersenang-senang di kasurku."
Dian memgusap-usap punggung besar milik Cintya hingga dia tertidur di atas meja bar.
* * *
Seorang pria tampan dengan memakai jas bermerek serta memiliki tubuh yang sempurna sebagai seorang pria macho, pria itu memasukki Club tersebut hampir setiap malam dia datang ke Club ini. hanya untuk sekedar menikmati tubuh para pelacur yang di suguhkan di klub ini. Setiap berada di Indonesia George akan selalu datang ke Club ini. Dan Malam ini George datang dengan keadaan yang sedikit kacau pikirannya seperti ingin pecah setelah pertengkarannya dengan istrinya di kantor.
Dia milih duduk di meja bar berada di sudut ruangan itu, malam ini dia tak berniat untuk melakukan. Dia hanya ingin minum, dan minum menghilangkan perasaan nya yang kacau.
"Hai honey, apa malam ini kita akan bercinta lagi." wanita itu adalah Angel primadona di club ini, Angel mulai menciumi pipi pria itu.
Namun dengan cepat pria itu menyingkirkan tubuh Anggel yang sudah bergelayut mesra di sampingnya. "Jangan menyentuhku jika aku tak meminta, pergi sekarang juga atau kau akan menyesal."
"Baiklah aku pergi, dan jangan mencariku." Angel pun pergi dengan wajah yang kesal. Karena baru kali ini pria itu kasar padanya.
Cintya yang mendengar suara pria membentak Anggel pun segera membuka matanya dan menyaksikan tontonan itu, bagaimana bisa pria yang hampir setiap malam tidur dengan Angel kini menolaknya. Cintya tersenyum puas melihat Angel di permalukan, Cintya sangat ingin membalas hinaan Angel, namun ketika Angel sudah pergi justru kedua mata mereka saling bertemu dan cukup lama untuk saling menatap. Melihat mata pria itu Cintya seperti merasakan sebuah sengatan listik maka dia segera memutuskan kontak mata dengan pria itu.
Tapi tidak dengan pria itu, dia masih setia menatap Cintya dan memperhatikan wajah dan lekuk tubuh gadis itu. Memang tubuhnya gemuk tetapi terlihat seksi dan wajahnya terlihat sangat cantik, hingga membuat miliknya yang tertidur pun ikut mengeras.
Dia tak tau kenapa wanita itu terlihat seksi di matanya malam ini, dia memang sering melihat wanita itu tapi tak pernah berniat mencicipi tubuh gemuk itu. Namun malam ini miliknya mengeras hanya karena melihat tubuh wanita itu.
"Rendi, katakan pada Bobby aku ingin wanita itu menemaniku malam ini." ujar George.
"Baik Tuan George, akan aku sampaikan." Rendi pun pergi menemui Bobby.
* * *
"Cintya malam ini Tuan George ingin kau temani,"
"Apa kau bilang, Tuan George bukankah dia pelanggan setia Angel?" Cintya mengernyitkan dahinya, karena dia tahu George pria pecinta tubuh seksi dan indah seperti milik Angel.
"Sudah jangan terlalu banyak bicara tugasmu hanya memuaskannya, karena kau hanya seorang jalang di sini." jujur saja kata-kata Bobby sangat membuat hatinya tercabik-cabik, memang Cintya hanya seorang pemuas nafsu di club ini, tapi setidaknya dia tak perlu di ingatkan dengan statusnya di club ini.
"Iya, iya, iya, Tuan Bobby yang terhormat aku akan melayaninya." Cintya pergi meninggalkan Bobby, dia terus berjalan menuju meja yang di tempati pria itu. Tuan George Harvads pria yang bertangan dingin dan memiliki bidang usaha di berbagai macam usaha di Asia dan Eropa.
"Ah, sial kenapa otakku bisa seperti ini," gerutu George merutukki dirinya sendiri karena baru kali ini dia merasakan seperti ingin menerkam mangsanya.
"Selamat malam Tuan. George." Cintya membukkukan kepalanya untuk menghormati pria itu.
"Apa kau lelah malam ini, jika tidak aku ingin tidur denganmu. cantik," ujar George datar.
"Tidak ada kata lelah bagi wanita pemuas nafsu seperti saya, tuan." balas Cintya.
"Hahahaha..ternyata ucapanmu sangat kasar, nona." George pun menarik tangan Cintya, hingga dia terjatuh di samping George.
Bahkan tanpa permisi George mencium bibir Cintya yang sejak tadi sudah dia ingin kan, terdengar lenguhan kecil membuat Cintya mengerang nikmat. Cintya tak mengerti dengan pria ini tubuh dan pikirannya merespon dengan baik, George pun tak menyangka jika rasanya semanis ini bibirnya begitu nikmat, dia menciumnya dengan lembut, lidahnya bermain-main di dalam mulut wanita itu, George menekan tengkuk leher Cintya agar semakin dalam ciumannya.
Tapi George merasa semakin gila, mencium wanita ini sajaenimbulkan sensasi yang dia sendiri tak mengerti. George menggeram mengertakkan giginya karena Cintya melepaskan ciumannya. "Sebaiknya kita lakukan secepatnya, aku menginginkan milikmu," Cintya membisikkan di telinga George, membuat George seperti hilang kendali.
George benar hilang kendali dia memesan ruangan VIP, dia sudah tak tahan karena ada sesuatu di bawah sana yang ingin di puaskan.
George menciumi Cintya dengan kasar, dia sudah meracau tak jelas. Tanngannya meremas payudara milik Cintya, hingga membuat Cintya mengerang kenikmatan "Oh, Tuan aku mengunginkan mu sekarang di dalam sini" Cintya terus saja meracau kali ini dia kalah dan dia yang terbakar gairah panas ini.
"Aku akan mengabulkan permintaanmu, cantik."
"Ayo sayang puaskan aku malam ini,"
Di ruangan VIP mereka saling menyerang entah siapa yang memulai yang jelas mereka menikmati malam itu, malam yang tak bisa di lupakan bagi Cintya karena malam itu dia baru merasakan klimaks secara utuh tanpa rasa beban dan jijik.

* * *
Matahari sudah menyinari dunia, tetapi George masih saja tertidur lelap pertempuran semalam dengan Cintya sangat panas.
Tok..Tok..Tok..
"Maaf Tuan. George kita harus segera pergi."
Suara ketukkan pintu membangunkannya, tak biasanya dia seperti ini tertidur hingg siang. George mengerjabkan matanya mencoba menyesuaikan diri dengan silau mentari, dia berbalik berharap bisa melihat wajah cantik wanita yang semalaman memuaskan nafsunya.
George meremas selimut yang dia pakai, karena wanita itu tak lagi berada di sampingnya. Tak mengerti kenapa George tak senang mengetehui wanita itu pergi lebih dahulu.
"Shitt, aku bisa gila seperti ini,"
Dia segera mengambil pakaiannya dan mengenakannya, dia harus bergerak cepat karena hari ini akan ada rapat di kantor nya.
Saat kakinya melangkah ke depan tiba-tiba terhenti, di samping nakas terlihat secarik kertas, dia pun mengernyitkan alisnya .
Maaf Tuan George aku harus segera pergi, Untuk pembayaranku malam tadi silahkan kau bayarkan pada Bobby.
Dan aku harap ini percintaan pertama dan terakhir kita, jangan lagi memintaku pada Bobby.
Terimakasih.
"Cih, wanita jalang dia pikir siapa dia memerintahku seperti ini."
George semakin kesal karena sebelumnya tak ada satu wanita yang berani meninggalkannya di pagi hari setelah bercinta, karena selalu dia dahulu yang meninggalkannya.
Tapi wanita gendut ini terlalu berani memerintah dirinya dan meninggalkannya, Aku pastikan kita bertemu lagi nona.
BRAKK.
George berlalu pergi dan meninggalkan club itu dengan sejuta rasa benci dan penasaran pada Cintya. Dia pun menyuruh Rendi untuk menyelidiki wanita itu, dia hanya ingin membalas perlakuan wanita itu.
Haiii datang lagi nih, masih cerita wanita bertubuh gendut, gak tau aku hanya ingin menulis tentang wanita bertubuh subur karena pasti mereka juga punya cerita kehidupan unik.
Maaf jika ceritaku tak menarik .
Happy reading.