Why if I bitch

Why if I bitch
Bab 31



Jeni berlari keluar dari ruangan Max, hatinya sakit mendengar ucapan Max sebenarnya dia hanya ingin mempermainkan Max. Tetapi sepertinya Max marah besar.


Tapi Jeni tak berfikir kenapa di harus berlari bukan kah bagus jika pria itu marah, dia tak perlu susah-susah menjalankan rencananya.


From : Max


Jen iam sorry, aku tak bermaksud mengatakan hal itu hanya saja itu mengejutkanku.


Please kita harus tetap bertunangan.


Jeni tersenyum miris, setelah menghinanya dia mengatakan itu seakan tak bersalah, Tapi mungkin ini juga salahnya yang keterlaluan saat bercanda.


Dia mengabaikan rasa laparnya dan memilih pulang, Jeni langsung masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuh besarnya.


Rasanya pekerjaan hari ini sangat melelahkan sekali, hingga akhirnya dia terlelap dialam mimpi.


"Hai sayang, kau memang bitch yang menggairahkan.


"Sayang aku ingin memasukimu,"


"Owh sayang. ..milikmu sangat sempit dan nikmat,"


Jeni terus memegangi kepalanya yang berdenyut kencang, dia tak habis fikir kenapa ada kilasan-kilasan memori yang menjijikan. Iya kakaknya memang pernah mengatakan jika dia sedang hilang ingatan, tapi dia tak menyangka ada hal sepele.


"Hai sayang, kau memang bitch yang menggairahkan.


"Sayang aku ingin memasukimu,"


"Owh sayang. ..milikmu sangat sempit dan nikmat,"


"Mamah, aku sayang mamah."


"Dorrr..."


"Dorr..."


"Tidakkkkk..."


"Tidakkkkk..."


Jeni terbangun dengan keringat yang bercucuran, ada apa ini? Kenapa dia bisa bermimpi seperti ini? Apa maksudnya? Banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan. Tapi pada siapa?


Apakah anak kecil itu dia? Lalu siapa yang menyuarakan suara menjijikan itu.


Jeni ingin mengetahuinya tetapi


Kakaknya jelas sudah tak ingin mengingat masa lalu, sepertinya memang dia sendiri yang harus mencari jawabannya.


Jeni pergi untuk membasuh wajahnya, baginya mimpi itu sangat menjijikan dan mnyeramkan. Dia menghembuskan nafasnya kasar beberapa kali hingga sedikit tenang.


Tok...


Tok...


Tok...


"Jen, ada apa kenapa kau berteriak?" Panggil suara yang ada di balik pintu kamar mandinya.


"Ehm...gak apa-apa kak aku hanya bermimpi,"


"Dasar pemalas masih jam segini sudah tidur, turun dan makanlah kakak memasak ayam bakar."


"Iya kak, aku akan mandi dulu lalu makan."


* * *


"Hm...wanginya harum sekali kak," ucap Jeni.


Jordy hanya membalas nya dengan senyuman.


"Duduklah dan makan yang banyak!"


"Kakak, tidak di tawari aku pasti makan banyak. Kan kakak tahu ini kesukaanku," setelah bermimpi dia merasa sangat lapar seperti menguras tenaga hingga membasahi sekuruh tubuhnya, Sepertinya ingatannya akan segera pulih.


"Bagaimana hari pertamamu di kantor Max?" Tanya Jordy.


"Ya begitulah kak, dia dan aku memeriksa pembukuan keuangan, dan data karyawan selama lima tahu terakhit ini."


Setelah menjelaskannya pun Jeni melanjutkan makannya.


"Apa menyenangkan di sana? Dan apa Max baik denganmu?" Jordy kembali bertanya.


"Belum tahu kak, aku baru bekerja dengannya satu hari."


"Sebenarnya apa yang akan kakak tanyakan? Tentang Max?"


Jeni menghentikan makannya dan menatap tajam kearah Jordy.


Jordy masih terdiam tanpa kata, dia masih menyantap makanannya


"Kakak masih ragu melepaskan mu, meski kakak yang memilih pria itu untuk mu."


"Kak, aku percaya pada pilihanmu. Jika kau sudah memilih aku yskin pasti pria itu pantas untukku." jawab Jeni.


Jeni berdiri dari kursinya dan berjalan kearah kakaknya, dia mencium kening kakaknya dan berpamitan.


"Kak, aku harus pergi ke kamar dulu sebelum calon suamiku menelepon ku."


Jeni pergi dengan terburu-buru menuju kamarnya, dia hanya ingin menunjukan jika dia bisa mengatasi semua nya sendiri, dan menjadukan Max alasan agar bisa menghindari Jordy.


Di kediaman keluarga George, seorang pria terlihat gelisah karena dia sangat khawatir, jika kerja sama yang di tawarkan olehnya tak diterima perusahaan


Milik Prabowo.


"Bagaimana? apa sudah ada konfirmasi atas kerjasama yang kita ajukan pada mereka?" Tanya pria itu.


"Belum, Tuan."


"Apa Maksudmu? Cepat pastikan kita bisa bekerja sama dengan mereka!" perintah George dengan tegas.


"Baik Tuan, saya akan mengurusnya."


"Baik keluar sekarang, aku ingin istirahat dahulu."


"Baik Tuan,"


"Sial kenapa perusahaan itu belum juga menyetujuinya," umpat George dengan mengepalkan kedua tangannya di atas meja.


"Tapi aku pastikan kau akan menerima kerja sama ini, karena perusahaanmu diambang kehancuran." lagi, lagi, lagi George tersenyum penuk kelicikkan.


* * *


Max melempar semua laporan keuangan selama lima tahun terakhir perusahaan milik papanya, dia sangat marah karena semua laporannya terlalu banyak ketidakcocokkan.


Apa ini? Dia mengacak rambutnya frustasi, bagaimana cara papanya menjalankan perusahaannya selama ini. Sampai dia bisa kecolongan keuangan perusahaan sampai sebanyak ini, pantas saja perusahaannya diambang kebangkrutan.


Ceklek.


"Max kenapa pagi sekali kau datang?" tanya Jeni.


"Astaga Max kenapa berantakan, apa yang kau lakukan sebenarnya Max? Sambung Jeni lagi.


Namun Max tak mengatakan apapun, dia hanya melihat ke satu arah iya. Dia melihat tumpukkan map yang sudah masuk ke mejanya kemarin, map dari sebuah perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaannya. Dan pastinya hanya ini sati-satunya menyelamatkan perusahaan papanya.


" Max, ada apa denganmu?" pertanyaan Jeni kali ini menyadarkan Max dari lamunannya, lalu melempar beberapa berkas yang masih diatas mejanya.


"Lihat itu, itu semua catatan keuangan perusahaan dalam limatahun terakhir!"


Jeni mengambil map yang berserakan di lantai, dengan tenang dia membaca satu, persatu map itu. Dan,


"Apa ini gila Max, bagaimana bisa perusahaan merugi sebesar ini, bahkan pemasukan dan pengeluaran lebih besar pengeluaran dan, tunggu - tunggu lihat ini ada satu rekening yang menerima banyak transferan uang dari perusahaan ini."


"Sudah aku duga, kau pasti akan berfikir sama denganku. Ini tak bisa di biarkan selama ini yang mengawasi perusahaan adalah pamanku, dan aku yakin dia melakukannya."


"Iya jika seperti ini satu-satunya jalan, iya kita harus secepatnya mencari sokongan dana." Jeni kembali berbicara dengan lugas.


"Iya itu harus aku lakukan dalam waktu dekat ini," jawab Max.


"Bagaimana jika perusahaan kak Jordy, dan perusahaanku bergabung di sini." ucap Jeni .


Namun Max hanya menatapnya dengan tajam, seolah dia merasa terhina dengan ucapan yang Jeni keluarkan. "Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Jeni lagi.


"Iya aku memang akan melakukan itu, tapi tidak dengan perusahaan kak Jordy atau pun bergabung dengan perusahaanmu!" ucapnya sedikit meninggi.


"Kenapa tidak? Bukankah kak Jordy rekan bisnis papa, dan aku calon istrimu." jawabnya lagi.


"Calon istri pura-pura tepatnya," Max menekankan kata-katanya.


"Iya baiklah terserah kamu saja." Jeni hanya bisa mengedikkan kedua bahunya.


Jeni merapihkan map-map yang diberantaki oleh Max, dia menatap acuh pada pria itu. Jeni tak tahu apa isi otak pria yang menyebalkan itu, diberi solusi tetapi menolaknya mentah-mentah.


"Jeni tolong hubungi perusahaan ini, kita akan menerima kerja sama dengan mereka!" perintah Max dengan menunjukkan map itu.


* * *


Jeni merasa tak asing dengan nama perusahaannya, iya 'Hardvas Company'.


Namun Jeni hanya menaikkan alisnya menurutnya banyak perusahaan di indonesia yang pasti terkenal, Jeni harus secepatnya menyelesaikan surat ini dan menyerahkannya agar perusahaan Max bisa selamat.


"Hallo, selamat siang apa benar ini perusahaan Hardvas Company?."


"Iya benar ini Hardvas Company, ini dengan siapa?" tanya Rendi.


"Maaf sebelumnya Tuan, saya dari perusahaan Prabowo Grop. Saya ingin membuat janji dengan CEO dari perusahaan Hardvas.!"


"Hmm, Nona dari Prabowo Grop. Baik saya lihat dahulu jadwal CEO kami, tolong tunggu sebentar."Rendi yang menerima telp itu segera masuk kedalam ruangan George, dia masuk tanpa mengetuk pintu hingga membuat si pemilik ruang geram


" rendiii.."


"Stttt.."


"Tuan, kapan anda punya waktu sepertinya mereka menerima kerja sama kita."


"Siapa?" George menaikkan alisnya.


"Prabowo Grop."


Mendengar nama itu George menyunggingkan senyumnya, rencananya berhasil sebentar lagi dia akan bertemu dengan Cintya. Dia bisa melihat wanita itu dari dekat.


"Tuan, jadi kapan kita bertemu.?" tanya Rendi lagi.


"Besok, iya katakan padanya besok siang kita bertemu." ucap George dengan semangat.


"Baik,"


Di seberang sana Jeni menunggu jawaban dari perusahaan itu, "Huff..lama sekali mereka melihat jadwal saja berjam-jam." Jeni memajukkan bibirnya, dia merasa geram sekali.


"Hallo, Nona sepertinya besok siang kita bisa bertemu di salah satu hotel di jakarta. Nanti saya akan sms tempatnya!" ucap Rendi.


"Baiklah Tuan, saya tunggu konfirmasinya."


Klikk...


"Yes, yes akhirnya, Rendi akhirnya aku bisa bertemu dengannya lagi, tahukah kamu Ren. Aku sangat merindukan Cintya, aku ingin selalu di dekatnya." Ucap George dengan wajah yang berseri-seri.


"Tapi Ren, aku takut jika dia menolak ku." Lanjut George dengan wajah berubah murung.


"Tn. George, percayalah jika cinta kalian. Abadi."


* * *


Setelah menyelesaikan tugas nya Jeni kembali ke ruangan Max, dia menggeleng kan kepalanya bagaimana tidak, Max terlihat sangat berantakan sekali apa lagi dengan tumpukkan berkas di depan mejanya.


"Aku sudah menghubungi perusahaan itu, dan mereka ingin kita bertemu besok siang di hotel."


Max hanya mengangguk kan kepalanya tanpa menoleh ke arah Jeni, dia masih saja fokus dengan berkas yang di bacanya.


"Ada apa?" Tanya Jeni sembari mendekat ke arah Max.


"Lihatlah bagaimana bisa, Daddy menjalankan perusahaan dengan struktur seperti ini, semua kacau." Max memperlihatkan berkas yang di baca pada Jeni


"Tentu saja bisa, dia mempercayai semua pada karyawan nya karena putranya saja tak mau meneruskan perusahaan nya." Ucap Jeni dengan sinisnya.


"Jangan menceramahiku, lebih baik kau menghibur ku!"perintah Max .


Maaf baru bisa update, maaf juga iya kalo mengecewakan dan kurang menarik,