Why if I bitch

Why if I bitch
Bab 3



Setelah pertemuannya dengan George tadi siang membuatnya ingin membunuh pria itu, bagaimana tidak pria itu sudah menghinanya.


"Bob, bukankah sudah aku katakan jangan pernah memberikan alamat apartemenku pada siapapun," ujar Cintya pada big bosnya.


"Untuk apa aku memberitahu Apartemenmu," Balas Bobby, "Dan keluarlah ada tamu untuk mu!"perintah Bobby pada Cintya.


"Iya aku akan keluar, tapi katakan pada pria kaya itu agar jangan menyuruh anak buahnya datang ke apartemenku." Cintya pun pergi meninggalkan ruangan Bobby.


Malam ini Cintya hanya merias wajahnya dengan sederhana, dan pakaiannya pun hanya dress coklat yang sederhana dan memiliki belahan dada yang rendah, Membuat Cintya semakin cantik dan terlihat sangat seksi.


"Soni, dimana tamu untukku?"


Soni adalah salah satu pelayan clab yang dekat dengannya selain Dian.


"Seperti nya kau akan mendapatkan mangsa yang besar, dia di ruangan VVIP, puaskan dia Ci." Soni menunjuk kearah ruangan untuk orang-orang kalangan elit dan berduit.


"Pasti akan aku memuaskan nya, karena aku ingin memiliki uang yang banyak honey." Cintya mengedipkan matanya pada soni.


"Cih, dasar kau memang wanita nakal. Cin," ujar Soni. "Hahaha.." Cintya hanya tertawa geli, dia sangat senang menjahili Soni karena pria itu penyuka sesama jenis. Cintya pergi meninggalkan Soni dan berjalan menuju ruangan VVIP, sepanjang perjalanan dia merasa sangat gugup, Baru kali ini dia melayani tamu VVIP/karena biasanya Angel yang melayani nya.


Tok...tok...tok...


Cintya sudah mengetuk pintu nya tiga kali, namun tak ada jawaban sedikit pun dari dalam ruangan itu. Hingga dia memutuskan untuk masuk ke dalam.


Ceklek.


Dia hanya bisa melihat punggung pria itu, sangat misterius, bahkan lampunya saja di matikan ini sangat menyeramkan membuat jantungnya berdegup kencang, dia takut jika nantinya pria yang akan dia layani mempunyai kelainan seksual.


Cintya menggigit bibir bawahnya, dan dia mendekati pria itu dengan langkah yang sangat hati-hati.


"Maaf Tuan, saya Cici yang akan melayani anda," Cintya memang memakai nama Cici jika sedang bekerja menjadi wanita malam.


Hening, hanya itu yang tercipta di ruangan ini, pria itu tak juga mau berbalik melihat dari punggungnya saja sudah membuat Cintya brigidig ngeri, apa lagi nanti jika dia harus melayaninya. Tapi dia tak bisa menahan diri karena waktunya untuk melayani tamu hanya tiga jam, dan dia harus mencari tamu lain agar pundi-pundi uang nya cepat terkumpul.


"Tuan, apa kita bisa memulainya? Aku masih memiliki tamu lain," ujar Cintya. Cintya menutup kedua matanya takut jika pria itu akan marah. Pria itu berbalik dan berjalan ke arah di mana Cintya berdiri, di dalam kegelapan Cintya tak bisa melihat jelas wajahnya dia hanya mendengar langkah kaki pria itu.


Dengan tiba-tiba pria itu mencium bibirnya dengan lembut, melumatnya


Semakin dalam dan semakin liar , Cintya sangat menikmati ciuman itu sampai dia ikut terlena.


"Akhh." jeritan kenikmatan keluar dari bibir Cintya, gila baru kali ini dia menginginkan lebih. Cintya sangat agresif dia menyetuh bagian sensitif pria itu, dibuka kancing celana nya Cintya ingin menikmati menyentuh milik pria itu dengan tangannya, benar-benar gila ada apa dengan dirinya.


Pria itu masih mencium bibir Cintya, walau dia sempat menggeram kecil karena tak tahan dengan sentuhan tangan Cintya di miliknya. Kini tangan pria itu membuka pakaian Cintya, membuka kaitan bra milik Cintya dan tangannya sudah meremas payudara Cintya. Lembut ya pria ini begitu lembut setiap sentuhannya mampu membuat Cintya merasakan kenikmatan luar biasa, bahkan ternyata Cintya juga memiliki sisi agresif "Akh, Tuan aku ingin. Tolong Tuan jangan siksa aku masukkan sekarang." Cintya terus saja meracau tak jelas.


Tak ada suara apapun yang keluar dari mulut pria itu dia hanya sesekali menggeram, oh tuhan ada apa ini? kenapa rasanya sangat nyaman bercinta dengan pria ini mampu membuat nya hilang kendali. Selama ini dia yang berpura-pura terpuaskan setiap melayani tamu tapi sekaran dia benar-benar terpuaskan.


"Terima kasih untuk malam ini, sayang. Tak akan aku lupakan rasanya bercinta denganmu, tidurlah karena setelah kau bangun esok hari. Maka kau akan jadi malam." bisik George di telinga Cintya yang sudah tertidur pulas dalam pelukkannya.


George pov.


"Bobby, berapa aku harus membelinya?" tanya George pada Bobby, "Apa kau ingin menjadikannya budak sex mu? hah."Bobby menertawakan George.


" Diam dan katakan padaku, berapa?"ucap George dingin.


"Kau harus membayarku mahal untuk wanita itu, karena dia penyumbang terbesar ke dua untuk kantongku." ujar Bobby.


"Baik akan aku bayar, dan setelah itu dia milikku." Jawab George.


George mengeluarkan sebuah cek dan menuluskan sejumlah uang agar Cintya terbebas dari clab ini.


George sangat ingin bertemu dengan Cintya, dia berharap pertemuannya malam ini bisa sedikit mengobati hatinya dan pikirannya.


"Aku kira kau akan membeli Angel, ternyata kau membeli jalang yang salah." setelah mengatakan itu Bobby pergi meninggalkan George sendiri di ruangan VVIP.


Pov end.


* * *


Matahari bersinar terlalu tinggi hingga membuat Cintya terbangun, dia merasa hampir semua bagian tubuhnya akan Patah. Dia membuka matanya perlahan-lahan dan 'gotcha'


"Selamat pagi, Cintya Amanda," si pria tersenyum penuh kemenangan, Ya akhirnya dia merasa menang karen bisa mencicipi kembali tubuh gemuk itu. "Apa tidurmu nyenyak?"


Cintya masih mencoba memahami situasi ini, berkali-kali dia mengerjapkan kedua matanya. dan, oh Tuhan dia menyadari betapa bodohnya ternyata pria yang semalam bercinta dengannya adalah 'Geoge' Cintya memukul kepalanya merutukki dirinya sendiri karena tak mengenali tamunya dahulu, dan lebih parahnya lagi dia menikmatinya hingga berkali-kali.


"Bajingan."


Ya pria itu adalah George, dia hanya tertawa kecil melihat kepanikan di wajah wanita itu, dia menyukai segala ekpresi dari Cintya.


"Bodoh..bodoh..bodoh.." Cintya terus saja marah-marah, tak seharusnya dia bertemu dua kali dengan pria itu di ranjang.


Cintya merasa lebih baik, sudah satu jam dia di kamar mandi, dan hampir semalaman dia meninggalkan Yana puterinya di rumah.


Ceklek.


"Bagaimana rasanya?apa begitu nikmat bercinta denganku? Hem," George mengedipkan sebelah matannya. Cintya yang baru saja keluar pun mengepalkan kedua tangannya.


"You Bastrad,"


Cintya meninggalkan George sendiri di dalam kamar VVIP.


* * *


Cintya pulang dengan keadaan terburu-buru, dia tak memperdulikan masalah berat badannya yang penuh lamak. Rasa lelah yang dia rasakan hilang ketika dia membaca pesan singkat di telpone miliknya.


Pesan yang mengatakan jika pengasuhnya akan pulang lebih cepet dan meninggalkan Yuna sendiri di apartemen, Cintya berharap dia segera sampai di apartemen miliknya karena hatinya sangat gelisah takut terjadi sesuatu pada putrinya.


"Yuna, Yuna, Yuna." Cintya terus mencari keberadaan puterinya, di kamar tak ada, hampir di semua sudut apartemen tak ada. Cintya semakin gila tak menemukan puterinya.


"Yunaaaaaaa." teriak Cintya kencang. Tubuhnya luruh di lantai menyesali diri. Disana dia bersenang-senang dengan pria, sedangkan Yuna sendiri dan pasti ketakutan.


"Yuna, di mana kamu nak. Maafkan ibi tak bisa menjagamu." Cintya terus saja menangis.


"Mamah,"


"Mamah,"


Mendengar dirinya di panggil, tubuhnya pun berbalik mencari arah suara itu, kali ini tangisannya semakin kencang Dia semakin lega melihat putrinya baik-baik saja.


"Yuna,"


Cintya memeluk tubuh mungil putrinya dan menciuminya, dia takut akan kehilangan Yuna karena pusat kehidupannya adalah Yuna. "Sayang, kamu dari mana? Hem, mamah mencarimu," Cintya menatap lembut wajah putrinya.


"Aku dari cafe di bawah mah, Yuna lapar jadi pergi ke cafe," Yuna menjawab dengan polosnya, di tak tahu jika Cintya mencarinya seperti orang Gila. "Maafkan, mamah sayang." Cintya menciumi pipi Yuna.


"Dan jangan pernah keluar rumah sendiri, huh." sambung Cintya.


"Hem, baik mah. Maafkan Yuna membuat mamah khawatir." Yuna menghapus air mata jatuh di kedua pipi Cintya. "Mah aku tak akan memgulanginya lagi." sambung Yuna.


"Ayo, sekarang mandi dan kita sarapan,"


"Gendong aku mah." Cintya mengacak-acak rambuy putrinya, dia gemas melihat tingkah putri kecilnya ini.


"Ma, kita akan masak apa hari ini?"


Yuna membantu mamahnya memasak, "hari ini kita masak sayur asem dan ayam goreng, apa Yuna setuju."ujar Cintya.


" Setuju mah, pasti enak ya mah!"


Ting.


1 masage.


Aku menyimpan sebuah surat di depan pintu apartemen mu, baca baik-baik surat itu.


Cintya mengernyitkan dahinya, dia merasa heran dengan si pengirim pesan singkat. Karena rasa penasarannya Cintya memilih untuk melihatnya.


"Tunggu mama di sini ya sayang, jangan pegang-pegang kompor ini. Oke,"


"Baik mah."


"Anak pintar." Cintya mengacak rambut Yuna,dan menciumnya.


Cintya segera berjalan menuju ke depan pintu, dia ingin segera melohat surat apa itu.


Cintya berjalan hati-hati, dan membuka  isi surat itu. tapi dia dibuat terkejut dengan apa isi surat itu, tangannya meremas kertas surat itu, dan wajahnya memerah seperti menahan amarah..


Kira-kira apa ya isi surat nya? Dan siapa yangengirimnya ya?


Hai maaf ya telat banget lagi agak sibuk nieh, maaf juka jika ceritanya tak menarik, minta vote, comen dan sarannya ya .


Terima kasih , maaf jika banyak kekurangannya.