
Jojo berlari kesana kemari, bahkan kakinya sudah terasa lemas karena berputar-putar mencari Yuna. Kemana lagi dia harus mencari Yuna semua sudut rumah, halaman tak luput dari nya. Jojo hanya bisa terduduk diam di ruang tamu, bagaimana bisa dia kehilangan Yuna dirumahnya sendiri.
"Tuan, apa mungkin Nn. Yuna di bawa Ny. Laurent." salah satu pelayan itu mengatakannya dengan hati-hati, karena bila salah bicara Tuannya itu bisa saja memecatnya.
Jojo masih saja terdiam dan iya kenapa tak terfikir olehnya, bisa saja Yuna di bawa oleh Laurent.
Dia berlari menuju kamar Laurent, kali ini harapannya sangat besar ,
Dia bahkan lupa belum melihat kamar Laurent, dia berlari ke atas dan mengetuk pelan pintu kamar kakaknya, namun tak ada jawaban perlahan dia membukak pintu itu agar si pemilik kamar tak terganggu dan-. "Bumm,"
Jojo menghembuskan nafasnya pelan rasa sesak sejak tadi menghampirinya hilang, shit. Seharusnya dia tak sepanik itu mencari Yuna yang ternyata sedang tertidur pulas di samping kakaknya, Jojo menghampiri putrinya dan menciumnya ada rasa lega di hati yang menghampirinya dan air matanya lolos begitu saja.
"Jangan seperti ini lagi sayang, Daddy takut kehilanganmu."
"Hm..Jo, kau disini?" tanya Laurent yang mulai membuka matanya.
"Iya kak, aku mencari Yuna."
"Dia tertidur dikamarku saat menangis mencarimu,"
"Hm, syukurlah kak."
Laurent pun mengernyitkan dahinya saat mendengar jawaban adiknya itu.
"Sebaiknya aku keluar dulu kak, aku tak mau mengganggu putriku ini." Jojo bangun dari duduknya dia berjalan keluar dari kamar dengan hati yang tenang.
* * *
Laurent berjalan mengendap-endap ke kamar Jojo, dia membuka perlahan pintunya dan tersenyum licik "Itu dia kartu As ku," bisik Laurent.
Dia semakin mendekati kasur Jojo, iya dia ingin membawa Yuna pergi dari rumah ini, dia ingin Cintya berpisah dari George nya dan menghilang dari hadapannya.
Laurent membopong tubuh kecil Yuna dan berjalan keluar rumah, dia memang merencanakannya dengan matang karena ingin membalasnya pada Cintya.
Tapi dia masih mengurungkan niatnya ketika mengingat Jojo adiknya, selama ini Jojo lah yang selalu disampingnya saat dia sedih.
Saat semua orang mencari Yuna, dia tahu jika adiknya sangat panik mencari putri semata wayangnya, dia hanya bisa tertawa mendengar kegaduhan dari dalam kamarnya, Dia berfikir jika Jojo bisa sepanik itu pasti Cintya akan lebih tersakiti lagi dan akan memebuatnya menjauh dari George.
* * *
"Jo, bagaimana keadaan Yuna?"
"Dia baik, dan sedang tidur bersama kak Laurent." Jojo mengusap-usap keningnya yang terasa pusing.
"Hm, bisakah aku menjemputnya malam ini. Jo?" Cintya semakin panik dia mencoba menggigit bibir bawahnya.
"Biarkan di sini malam ini, Cin. Kakakku sedang dengan kehadirannya!"
"Hm.. baiklah, Jo maafkan aku!" ucap Cintya lalu menutup telponnya.
"Ada apa?" tanya Jordy.
"Tidak ada apa-apa,"
"Terima kasih sudah mengantarku pulang," ucap Cintya pada Jordy, Jordy tak mengatakan apapun tapi dia hanya mencium kening Cintya, iya itu adalah Ciuman yang manis dan penuh kasih sayang.
Bukan, jangan berfikir Jordy mencintai Cintya, tapi dia menyayanginya sebagai layaknya teman.
"Jangan cemaskan Yuna karena dia bersama Daddy nya, percaya kan pada Jojo." Jordy berusaha menenangkan hati Cintya, agar tidak terlalu resah.
Cintya menganggukan kepalanya dan keluar dari mobil Jordy, ada perasaan tenang jika dia bersama Jordy, perasaan hangat dan nyaman. dia menunggu hingga mobil Jordy benar-benar melesat jauh.
"Jadi seperti ini dirimu?"
Deg.
Mendengar suara nya, Cintya berbalik
Dan menemukan prianya yang menatap tajam padanya, dia berdiri di depan apartemen Cintya dengan membawa satu koper pakaian.
Apa yang akan terjadi dengannya kali ini, tatapannya sangat membunuh Cintya takut jika pria ini akan membawanya ke ranjang dengan kasar lagi.
"Apa yang kau lakukan, hah. Bukankah sudah katakan kau milikku! Apa uang yang aku berikan kurang hah, sampai kau kembali menjadi bitch dan bercinta dengan dia." George mencekik leher Cintya, amarahnya sangat menakutkan membuat Cintya ketakutan setengah mati.
"A-aku hanya bertemu sebentar Geo," jawab Cintya dengan takut-takut.
"Aku menceraikan Laurent demi wanita jalang sepertimu kau tahu, jadi jaga sikapmu! Malam ini aku menginginkan mu didalam ku sayang."
"George sadarlah, ada apa denganmu?" Tanya Cintya dengan suara yang bergetar.
"Ada apa kau bilang? Aku menunggumu disini dan kau malah asik pergi dengan pria itu." George semakin keras membentaknya dan membuat nyali Cintya semakin menciut.
"Dasar jalang, wanita brengsek Apa kau belum puas juga denganku? Akan aku puaskan kau malam ini," George menatap Cintya dengan mata yang penuh dengan kilat amarah.
Hatinya hancur, air matanya seolah tak ada artinya bagi pria ini, dan bodohnya mencintai pria nya dengan seluruh hatinya, Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi Cintya untuk di lewatinya.
* * *
Cintya memilih memasak di dapur dan berusaha mengacuhkan rasa sakit di sekujur tubuhnya, percintaan yang George lakukan semalam sangat kasar, sangat menyakiti hati dan tubuhnya. Anggap saja dia bodoh karena masih ada bersama George, tapi sesungguhnya Hati George sangat lembut, dan dia pria yang kesepian.
Dia akan membiarkan perlakuan George padanya, karena Cintya tahu jika apa yang George lakukan karena rasa cemburunya yang berlebih.
Berpura-pura tidak terjadi apa-apa mungkin hal yang terbaik baginya, Cintya tak ingin memancing emosi George lagi.
Di dalam kamar Mentari mulai masuk melewati celah-celah jendela kamar Cintya, dia masih takut untuk beranjak dari kasur itu.
George sangat takut saat pertama dia membuka kedua matanya, dia tak melihat Cintya di sampingnya, Dia sangat takut jika Cintya juga akan meninggalkannya dan tak kembali.
Perbuatannya semalam memang tak pantas untuk wanita itu, tapibapi cemburu di hatinya menggelapkan mata dan hatinya.
Dia tak suka jika Cintya tersenyum untuk pria lain, apa lagi semalam Jojo mengantarkannya pulang, dan mencium kening wanitannya hingga membuat sangat marah.
"Oh sial, kenapa pria itu terus berada di dekat Cintya. Seperti nya aku memang harus memperingatinya," ucap George lirih.
"Arghhh, aku harus bagaimana pada Cintya? Dia pasti akan membenciku, dan marah padaku." George mengacak-acak rambutnya frustasi.
Namun saat hidungnya mencium bau wangi masakakan, dia merasa sedikit tenang karena George tahu siapa yang sedang memasak.
George segera beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi, dia butuh menyegarkan dirinya saat ini.
Setelah mandi George mencari-cari pakaiannya, dia tak tahu jika kopernya sudah ada di dalam kamar Cintya, bahkan Cintya sudah menyiapkan pakaian kantor untuknya.
Kini senyum dibibirnya merekah, seakan ada rasa bahagia karena diperhatikan seperti ini, Nanti saat bertemu Cintya dia akan meminta maaf pada wanitanya karena kesalahannya semalam.
Dengan percaya diri dan senyum yang terus mengbang di wajahnya George keluar dari kamar Cintya, dia mengedarkan pandangannya mencari sosok wanitanya itu hingga, "ketemu, di situ rupanya kau." George berjalan kembali menghpori Cintya, ini lah dia suka saat memeluk Cintya dari belakang. Dia bisa meletakkan wajahnya di antara leher Cintya, dan mencium aroma farfum bubble gum dilekuk leher Cintya. Iya farfum yang beberapa hari ini dia belikan untuk Cintya.
"Morning sayang," sapa George di telinga Cintya, jika dia sedang dalam keadaan yang memungkinkan, pasti Cintya sudah berbalik kearah George dan menciumnya.
"Mo-morning to George," jawab Cintya dengan ragu-agu, bahkan suaranya yang selalu lantang terdengar kini terdengar gagap dan lirih.
"Berbaliklah sayang, aku ingin menciummu." Cintya menghentikan aktifitas memasaknya, dan menuruti kata-kata George.
Cintya sangat deg-degan hingga serasa jantungnya akam copot, dia takut George perlakukannya seperti kemarin namun dengan penuh keberanian dia pun berbalik.
"Oh my god, shitt.. Iam sorry honey... Iam sorry. Ini pasti sakit sekali," ucap George yang melihat wajah memar Cintya, dan memar-memar ditubuh yang lainnya.
"It's okay George, no problem for me because I love you." Setelah mengatakan itu dia pun menangis tersedu-sedu, George merasa sangat bersalah dia tak menyangka menyakiti Cintya separah ini.
"Bodoh...bodoh... Bodoh," George terua saja memukul dirinya sendiri, dia sangat bersalah pada Cintya.
"Iam sorry Sayang, iam so sorry, dan Jangan tinggalkan aku karena ini mengertilah, aku melakukannya karena aku sangat mencintaimu."
George terus saja memohon ampun pada Cintya, dia ikut menangis.
Cintya belum pernah melihat seorang pria menangis untuknya pun memjadi tersentuh, dia hanya menganggukan kepalannya dan tersenyum manis. Lagi dia membalas pelukan George dangan erat.
"Tenangkan hatimu dan aku tak akan meninggalkanmu, aku di sini dispingmu."Cintya mencoba menenangkan pria dihadapannya.
" Tok...tok...tokk.."
"Mamah, "
"Mamah,"
Suara ketukan pintu itu membuat Cintya melepaskan pelukannya pada George, dia segera berlari menghampiri arah suara itu, iya itu adalah suara putri nya yang sangat dia rindukan.
"Ceklek,"
"Yunaaa, mam willy miss you." Cintya memeluk dan menggendong gadis kecil itu.
"Aku juga mam,"
"Mam, kenapa dengan wajah mamah? Mamah sakit?" tanya Yuna.
Mendengar putrinya berkata seperti itu Jojo, mengangkat wajah Cintya tangannya mengepal kuat saat melit luka lebam di wajah Yuna yang mulai membiru.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Jojo dengan mencengkram erat tangan Cintya, hingga membuat Cintya sedikit meringis merasakan sakit.
"Siapa katakan Cintya?"
"Is not your bisnis, sebaiknya kau pergi dan jangan ikut campur!"
Halooooo lama tak jumpa maaf lama, dan maaf juga kalo ga bagus selamat membaja, jangan lupa vote and comentnya.