
Cintya masih saja meremas surat itu, dia terus saja berjalan mondar-mandir seperti setrikaan, bayangkan bagaimana dia tak resah jika surat itu mengatakan bahwa dirinya akan menjadi wanita simpanan pria itu.
Dan isi suratnya pun sangat mengejutkan,
Mulai hari ini pihak pertama Cintya/Cici, harus selalu datang ke apartemen milik George .
Cintya hanya akan bekerja pada George dan mendapatkan gaji setiap bulan, Cintya/Cici akan menjadi wanita simpanan dan harus selalu memuaskan terutama sex.
Jika pihak pertama tidak memenuhinya, maka wajib membayar 10x lipat dari harga beli pada Bobby.
Pihak pertam hanya akan selalu menuruti semua yang diminta George, jika tidak maka George akan menjualnya pada tempat pelacuran.
Cintya meradang melihat isi surat itu, dia sudah terang-terangan meminta agar pria itu tak menghubunginya lagi. Tapi sepertinya pria itu bukan lah pria gampang menyerah, terbukti dia membelinya dari Bobby dengan harga yang fantastis.
Di sisi lain Cintya bersyukur karena dirinya bisa terbebas dari tempat laknat itu, setelah Dua puluh tahun dia berusaha untuk terbebas dari Bobby.
"Hallo,"
"Hm, ada apa honey? Bagaimana apa pria kaya raya itu memanjakanmu dengan hartanya?" terdengar suara tertawa di seberang sana.
"Kenapa bisa pria itu membeliku, huh?tanya Cintya yang geram dengan pertannyaan Bobby.
" Bukankah itu keinginanmu, honey. Terbebas dari Clab milikku? Dan aku rasa pria itu bisa menjamin hidupmu!"Bobby tersenyum ketika mbayang kan, saldo di tabungannya bertambah Delapan kali lipat. Bobby merasa heran pria kaya raya tampan seperti George membeli Cintya dengan harga fantastis.
"Iya, tapi tidak dengan pria itu. Bukan kah dia sudah menikah. Apa kau ingin menjadikanku simpanannya?" Cintya tak bersungguh-sungguh dengan ucapannya, dia mengatakan ' tidak dengan pria itu' hanya untuk menguatkan hatinya. Karena dia memang merasakan suatu getaran yang aneh setiap bersama George, dan dia tak ingin merasakan perasaan itu lebih jauh lagi.
"Terserah kau saja, karena mulai hari ini kau sudah bukan wanita di clabku."
"Halo, halo." Cintya terus saja mengumpat Bobby menutup telp secara sepihak, sedangkan dia belum banyak bertanya.
Tok...tok...tok...
Belum hilang amarahnya, kini pintu rumahnya pun berbunyi. (Wkwk..kaya telp aja berbunyi).
Tok...tok... Tok...
"Iya sebentar, kenapa akhir-akhir ini pintu apartemenku selalu di ketuk, menyebalkan."
Ceklek.
"Aaaaa..." suara teriakan Cintya begitu melengking, ditelinga tamunya.
"Kecilkan suaramu, Nona." ujar pria itu.
"Mamah, ada apa?" Yuna berlari-lari dari dalam, dia merasa khawatir mendengar suara teriakan Mamahnya.
Namun belum juga Cintya tersadar dari keterkejutannya, Yuna sudah lebih dahulu menyapa tamu nya.
"Om temennya Mamah, yang di restoran itu?" tanya Yuna dengan polosnya.
"Hai Yuna, apa kabarmu Cantik? Panggil saja Om George," George menyapa balik putri kecil Cintya,
"Ayo masuk Om." Yuna menggandeng tangan George agar masuk ke dalam apartemen mereka.
Cintya yang sudah mulai menguasai dirinya pun, hanya mengikuti mereka dari belakang. Dia melihat putrinya tak canggung dengan orang baru, padahal sebelumnya Yuna sangat sensitif pada orang baru dikenal.
"Om duduk sini, om mau minum apa? Nanti biar Mamah yang buatin." Yuna terlihat sibuk sendiri bertanya ini dan itu, Yuna sangat merindukan hadirnya sosok ayah namun tak dimilikinya. "Hm, terserah Yuna saja." George tak mengerti dia dulu paling tidak menyukai anak-anak, tapi sengan Yuna dia terlihat lebih respack.
"Oke om, Mamah om Geo ingin minun syirup dingin." Yuna meminta agar Cintya sudi membuatkan minumannya.
Cintya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tak habis pikir putri kecilnya yang pendiam. Kini berubah sangat agresif di depan George. Cintya meninggalkan mereka berdua untuk membuat minuman dan sedikit camilan, biarlah dia redam rasa ingin tahunya atas kedatangan pria itu ke apartemennya.
* * *
"Om, apa om temen mamah?" putri kecil itu meremas ujung rambutnya, dia takut-takut bertanya tentang itu.
"Iya, om teman Mamah mu, ada apa gadis kecil?" George menjawab dengan ramah.
"Apa om tahu, siapa papah aku?" lagi-lagi Yuna menunduk dia takut, George akan marah seperti Mamah nya jika dia bertanya tentang papah nya.
"Hm, iya om tahu siapa papahmu,"
"Benarkah om, apa papahku tampan dan baik seperti om Geo?" tanya Yuna.
"Om, bisakah Yuna meminta tolong?"
"Bisa gadis kecil, apa yang bisa om bantu? hm." jawab George dengan wajah super ramahGeorge.
"Om bisa kan bawa papah Yuna kesini, Yuna sangat merindukannya dan Yuna kasihan karena mamah selalu pulang malam." George menatap lekat-lekat wajah Yuna, wajahnya sangat mirip dengan Cintya sangat manis.
"Ehem.." kali ini George tak bisa lagi mengatakan apa-apa, George hanya bisa tersenyum menanggapi pertanyaan Yuna.
* * *
Tanpa mereka tahu sejak tadi Cintya diam-diam mendengarkan percakapan mereka, Cintya tak menyangka jika Yuna akan meminta hal itu. Mungkin memang dia terlalu keras pada Yuna, jika putrinya bertanya tentang ayahnya. Usia sudah Enam tahun tentu saja dia akan semakin kritis bertanya tentang siapa ayahnya.
"Yuna ayo masuk ke kamarmu kerjakan PR mu! Mamah ingin bicara dengan Tuan George," perintah Cintya dengan tegas pada Yuna, untunglah putri nya itu bukan tipe anak pembangkang.
"Iya Mah, bye om."
"Bye Yuna," George membalas lambaian tangan Yuna.
"Ada perlu apa anda ke rumahku, Tuan?"
"Apa begini caramu menyambut kedatangan Tuanmu," George menaikan sebelah alisnya.
"To the point saja!" seru Cintya.
"Kau memang bitch yang sangat sombong, tapi aku suka setidaknya di ranjang kau sangat liar." George mengedipkan sebelah matanya, dalam hatinya George ingin tertawa melihat wajah Cintya yang berubah merah padam. Baginya itubadalah hiburan tersendiri melihat pipi bulat wanita dihadapannya.
"Jaga ucapanmu Tuan! Ini rumahku dan ada anak kecil." Cintya semakin geram karena ptia yang di hadapannya ini amat sangat menyebalkan.
"Oke, maafkan aku. Baiklah datang ke apartemenku malam ini no. 23 " ujar George.
"Apartemenku hanya beberapa blok dari sini," sambung George, seera pergi meninggalkan Cintya.
Sedangkan Cintya mengepalkan kedua tangannya, dia merasa seperti masuk ke lubang buaya.
* * *
"Rendy, di mana suamiku? Apa dia sedang bersenang-senang dengan jalang-jalangnya?"
"Maaf Nyonya, saya kurang tahu keberadaan Tuan George." Rendi pun berbohong menutupi keberadaan Tuannya.
"Kau memang pria setia pada majikanmu, pantas kau hanya menjadi seorang budak." wanita itu terus saja mengucapkan kata-kata pedas, karena dia kesal Rendi tak mau mengatakan di mana George. Dia merindukan George tapi pria itu terus saja menghindarinya dan selalu bersikap dingin.
"Maaf Nyonya Laurent bukankah anda istri dari Tuan George, kenapa anda harus bertanya pada saya ." Rendi menjawab ucapan wanita itu, dia juga tidak suka pada Laurent, karena dia wanita yang licik dan juga kejam.
"Cih, rupanya binatang peliharaan ingin mengajari majikannya, Ingat kau hanya kaum rendahan."
Laurent berbalik menghadap Rendi, namun dia terkejut setengah mati bahwa tidak hanya Rendi. Tapi suaminya George juga berdiri di sana.
"Sayang kapan kau datang?" Laurent berjalan menghampiri George, dia mendekat dan ingin mencium George. Tapi justru George menepisnya membuat Laurent pun marah.
"Pulanglah, sudah ku katakan jika pernikahan ini hanya untuk bisnis," ujar George dingin.
"Sayang,"
"Pulang Laurent, dan satu lagi Rendi bukanlah peliharaan tapi dia adalah saudaraku." sambung George dengan datar.
Laurent pun menghentakkan kakinya, dia merasa terhina dan terbuang bahkan suaminya tidak menganggap dirinya."Kau akan menyesal nantinya Tuan George, aku pastikan saat kau menginginkanku, aku akan membuangmu."Laurent pergi meninggalkan George.
Setelah kepergian Laurent, George menghembuskan nafasnya kasar dia tidak suka berhadapan dengan Laurent. Baginya Laurent hanya jalan nya untuk memuluskan rencana nya. Iya rencana untuk membangun perusahaan lebih besar dan luas di Indonesia, karena di Indonesia memiliki prospek yang bagus.
"Rendi, tolong cari info pria yang menjadi ayah dari putri Cintya." George menatap ke arah luar jendel dia tak tau apa yang di pikirannya, sehingga Kata-kata Yuna. membuatnya ingin mengetahui juga siapa pria yang membuat Cintya mau memiliki seorang anak.
"Baik Tuan," ujar Rendi membungkukkan badanya.
George duduk di kursi kebeasarannya dia sungguh tak sabar ingin agar hari berganti malam, dia ingin melihat Cintya dan menggoda nya.
To. Cintya.
Jangan lupa malam ini pukul 21.00
tepat, aku ingin kau memakai baju gadis SMA.
Setelah mengirim oesan singkat itu, George tersenyum bahagia. Dia sedang membayangkan bagaimana reaksi dari wanita itu, pasti akan sangat menyenangkan melihatnya marah.
* * *
From. George.
Jangan lupa malam ini pukul 21.00
tepat, aku ingin kau memakai baju gadis SMA.
Cintya yang mendapat pesan dari George hanya mengumpat saja, Cintya berpikir jika pria ini pasti benar-benar mesum dan gila, bagaimana mungkin pria itu memintannya menjadi anak SMA. Dia jengkel karena selama dia menjadi wanita malam tak ada satu pun tamunya yang meminta memakai baju anak SMA.
"ini sangat menyebalkan kemana aku harus mencari pakaian anak SMA," Gerutu Cintya.
Pria bodoh, menyebalkan, oh Tuhan kenapa aku harus bertemu pria aneh seperti George. Bisik Cintya dalam hati.
Selamat malam teman, maaf baru update kemarin sibuk banyak pekerjaan , jangan lupa vote dan comentnya ya.
Maaf kalo tulisannku selalu banyak typo.