Why if I bitch

Why if I bitch
Bab10



"Tidakkkkk."


Lengkingan suara Cintya seakan masih menggema di apartemen miliknya, bahkan dia hanya menangis dan mengurung diri di kamar.


Seakan dia lupa akan kehadiran Yuna, pertemuannya kembali dengan Jojo membuat suasana hatinya tak menentu, bayangan-bayangan dulu terngiang di otaknya hingga dia tak bisa tidur.


"Setelah sekian lama, kenapa aku harus bertemu denganmu lagi," isak Cintya, rintihan tangisnya seakan membuat Diana merasakan perasaan Cintya.


"Ci, ceritakan padaku, ada apa sebenarnya denganmu?" tanya Diana mencoba menenangkan Cintya.


"Jojo, Di. Jojo,"


"Iya, ada apa dengan Jojo. Ci?"


"Aku bertemu dengannya, dan dia meminta maaf padaku?"


Hiksss...hikssss...


"Lalu masalahnya apa?"tanya Dian dengan raut wajah yang tak bisa di artikan.


"Dia meminta maaf atas perbuatannya dulu, dan dia menanyakan kehamilanku dan menanyakan anak yang aku kandung."


"Maafkan dia Cici, lapangkan hatimu. Dan lupakan masa lalu,"ujar Dian dengan bijak.


"Tidak, aku tidak mau."


"Tidak semudah itu, Di. Setelah dia menghancurkn hidupku dan ingin membunuh darah dagingnya." sambung Cintya dengan nada yang menggebu-gebu.


"Aku tahu Ci, tapi lihatlah putrimu bagaimana pun suatu saat dia ingin tahu ayahnya. Jadi berdamailah dengan masa lalumu, Ci."


Cintya melihat wajah putrinya, seharian ini karena Jojo dia mengabaikan putrinya. Dia melihat hampir semua wajahnya Yuna mirip dengan Jojo, benar kata Dian Yuna sudah mulai besar dan pasti akan menanyakan keberadaan ayahnya.


Cintya menghapus air matanya dan meyakinkan dirinya untuk mencoba memaafkan pria itu.


"Akan aku coba, Di." Cintya memeluk Dian, sahabatnya ini memang sangat bisa di andalkan setiap saat.


Ting.


1 massage.


Tn. George.


Bersiap-siaplah, aku akan menunggumu di lobi Kita berangkat sekarang, Lima menit lagi aku sampai.


"Shit, pria aneh." umpat Cintya.


"Siapa?"


"Tn. George terhormat, dia akan sampai lima menit lagi, dan kita akan pergi malam ini juga."


"Iya sudah bersiap-siaplah, anggap ini liburan untukmu sebdiri."Cintya menepuk bahu Cintya untuk memberi dukungan.


"Iya, terimakasih Di. Untuk semua,"


Cintya mengemas barang-barang miliknya.


Kring..kring..


"Iya, hallo."


"Cepat turun, aku sudag di lobbi."


"Klikk."


Cintya sangat kesal, pria di seberang sana mematikkan telp nya secara sepihak. Dia bisa gila jika tiga hari bersama pria itu pasti waktu akan terasa sangat lama. Cintya mengambil kopernya dan bersiap turun, tapi ke dua matanya terkunci menatap putrinya. Rasa bersalah pada putrinya selama karena sudah mengabaikannya membuat hatinya sakit.


"Dian, aku titip Yuna. Tolong jaga putriku, sepertinya pria itu sudah di lobi." ujar Cintya dengan air mata yang sudah mengalir deras.


"Hai kau hanya pergi Tiga hari, dan jangan lebay. Ok," mereka pun tertawa bersama.


* * *


Cintya turun menuju lobi, dia mengedarkan pandangannya mencari sosok pria yang menunggunya. Hingga matannya menangkap sosok pria itu, "Tampan,". Bagaimana tidak tampan pria itu, mengenakan pakaian santai dengan kaos polo berwarna putih, dan celana jeans biru yang dipakai, Membuatnya semakin terlihat tampan dan fresh.


Apa lagi rambut-rambut halus yang tumbuh di sekitar dagu terlihat sangan gagah.


"Kenapa kau lama sekali, huh."


"Maaf,"


"Ayo, kita sudah terlambat."


George menggandeng tangan Cintya, seolah tak perduli dengan pandangan orang yang tertuju pada mereka, walaupun Cintya mencoba melepaskan genggaman tangan itu tetapi George menggenggam sangat erat.


"Diam dan ikuti saja aku, ok." lanjut George.


Cintya hanya mengikutinya tanpa mengatakan apa-apa, karena kali ini dia tidak ingin banyak bicara. Cintya menikmati sedikit perhatian George karena selama ini baru ada pria yang menggandeng tangannya dengan erat.


Biarlah kepergiannya dengan George dia anggap sebagai liburan untuknya, Cintya ingin merasakan bagaimana memiliki seorang pasangan, walau bagi George dia hanya budaknya.


"Sepertinya kita akan tidur satu kamar, "ujar George yang sesekali menciumi tangan Cintya


"Sepertinya bukan ide yang buruk, pasti menyenangkan, " balas Cintya sengan santainya.


George mencium tangan Cintya, seperti nya kali ini bukan seperti dirinya. Karena dulu seorang George tak pernah bercinta hanya dengan satu wanita, dan dia juga tak pernah memperlakukan wanita yang dia bayar seperti ini. Tapi Cintya tetap bersikap acuh, karena dia tak ingin main hati dengan pria macam George.


* * *


"Whoaahh, rasanya badanku pegal semua, dan Kau harus memijatku nanti. Sayang," ujar George dengan mengedipkan sebelah matanya.


Tingkah Cintya memancing George hingga hasratnya begitu menggebu-gebu, "Gadis nakal, aku menginginkanmu." George membisikkanya di telinga Cintya.


"Sebaiknya kau pulihkan dahulu stamina mu, agar tak kalah di ranjangku!" balas Cintya dengan sedikit nakal, dia tak perduli jika di cap wanita murahan. Toh memang kenyataannya dia hanya wanita bayaran da pemuas nafsu bagi George, bagi Cintya kali ini dia ingin menikmati liburan nya. Dan dia ingin bersenang-senang sesaat tanpa memikirkan banyak beban dalam hidupnya.


"Ayo, aku sudah tak tahan. Sayang," George memeluk tubuh Cintya dengan erat, dan berjalan cepat menuju kamar hotel mereka.


"Sabar sayang, kendalikan dirimu agar semua nikmat." bisik Cintya.


Hingga mereka masuk ke dalam kamar.


Cintya Pov.


Aku tak mengerti dengan pria ini, bukannya aku acuh dengan sikapnya tapi sejak kami berangkat dari apartemen hingga tiba di Bali. Pria itu terus saja menggenggam erat tanganku, apa kalian tahu jika sebenarnya aku berpura- pura acuh. karena hatikku berdebar sangat kencang, dan seakan tubuhku terasa lemas hingga aku tak sanggup mengatakan apa pun.


Mungkin di sini aku akan menikmati liburan ini, aku akan mengikuti saran Dian untuk bisa bersenang-senang untik diriku sendir. Karena hampir selama hidupku hanya bekerja dan bekerja sehingga lupa bagaimana caranya, dan rasanya bersenang-senang.


George terus saja menghujaniku dengan ciuman di bibir, dia begitu mahir dalam berciuman sehingga membuatku ketagihan.


Tangannya pun meremas payudara milikku, terasa lembut dan nikmat. Oh Tuhan, apa ini? Kenapa senikmat ini? Selama aku melayani tamuku tak seperti ini.


"Kau tau sayang, kau begitu indah, dan aku selalu ingin memasukimu." George terlihat masih bisa menguasai dirinya, berbeda denganku yang sudah basah sejak tadi. Aku benar-benar menikmati setiap sentuhan George.


"George, apa kau hanya akan menyiksaku seperti ini?" tanyaku dengan lembut.


"Tenang sayang, aku akan melakukannya perlahan. karena aku sangat mengagumi tubuh indahmu." George kembali melimat habis payudaraku."achhh.."


"Masukkan milik mu Geo, aku sudah tak tahan," rengekku pada George.


"Bersiaplah sayang, aku akan membuatmu menikmati setiap permainan kita."


"Oh Tuhan, pasti malam ini akan melelahkan bagiku. Karena aku akui permainannya begitu memuaskanku,"


* * *


Aku masih berbaring di samping pria ini, Pria yang sudah membayarku. Wajahnya terlihat sangat tampan, dengan rambut halus yang tumbuh di dagunya. Aku tak mengerti kenapa tangan ini ingin mengusap lembut wajah itu, selama aku menjadi wanita malam baru kali ini aku memperhatikan setiap detail wajah seseorang yang bercinta denganku.


Entahlah dengan pria ini, aku ingin melakukan hal-hal kecil bersamanya.


"Selamat pagi, Sayang." sapaan nya seketika membuatku berdebar tak karuan, aku ketahuan memperhatikan George. Membuatku malu, sungguh malu dengannya.


"Apa kau akan tetap seperti ini, jangan salahkan jika aku menginginkanmu lagi." sontak saja ucapan George membuyarkan lamunanku, aku sadar jika kami tak memakai selembar pakainpun hanya selimut yang menitupi tubuh kami.


"Hm, tidak aku akan mandi dan sarapan." aku pun segera meninggalkan George dan menuju kamar mandi, lebih baik aku mandi dan sarapan. Dari pada aku harus bercinta lagi rasannya badanku masih terasa linu karena permainan kami yang sampai larut.


"Shitt, bagaimana bisa pria itu meninggalkan Kiss mark sebanyak ini." aku hanya menggerutu keasal George memenuhi sekitar leherku dengan tanda kiss mark.


"George, terimakasih untuk malam ini aku menikmatinya." lirihku dalam hati.


Tok...Tok...Tok...


"Kenapa kau lama sekali, apa perlu kita mandi bersama. Aku akan membantu menggosokkan punggungmu," ujar George dari luar pintu kamar mandi.


"Aishh, gila pria ini menyebalkan."


"Sebentar lagi aku keluar,"


Aku pun bergegas memakai pakaian, dan segera keluar lagi pula perutku sudah berdemo meminta di isi.


"Cepatlah."


"Iya."


Pov end.


* * *


Cintya dan George pun turun menuju Restoran yang ada di dekat loby hotel tempat mereka menginap, George masih tampak sama dia terus menggandeng Cintya dengan mesra sehingga membuat orang-orang melihatnya menjadi iri.


"Bisakah kau lepaskan tanganku, kau lihat mereka memperhatikan kita."


"Tidak akan, sayangku." George selalu menekankan kata sayang, seakan mereka adalah sepasang kekasih.


"Tuan George, lepaskan." Cintya melepaskan tangan nya, namun George menggenggamnya kembali dan tersenyum nakal pada Cintya.


"Call me Geo, sayang." bisiknya di telinga Cintya.


Mereka memilih duduk di pojok, tempat yang tak banyak menyita perhahatian, "kau mau makan apa?" tanya George.


"Sepertinya aku akan makan banyak hari ini, karena kau aku kehilangan banyak enargi."


"Hahaa, tapi bukankah kau menikmati." Georgeengedipkan sebelah matannya bermaksud menggoda Cintya, Cintya menjadi wanita pemalu, dengan George wajahnya selalu memerah karena malu.


"Baiklah, aku yang akanemesankan untukmu." George manggil salah satu karyawan dan memesan makanan.


"Bawakan kami semua makanan yang menjadi refrensi kalian di restoran ini," ucap George dengan lantang.


"Baik Tuan, mohon di tunggu."


"Whoa, kau memang tahu keinginanku. Ini pasti menyenangkan." Cintya tersenyum dan menatap George dengan tatapan yang dia sendiri tak bisa di artikan.


"Iya, itu kenapa kau terlihat gendut. Tapi seksi," ujar George meledek Cintya. Sekali lagi Cintya di buat merona oleh ucapan George, benar-benar pria ini bisa membuat hatinya berdetak kencang.


Tapi di sisi lain ada dua pasang mata yang memperhatikan keakraban mereka, bahkan kedua mata itu menatap dengan penuh kebencian dan amarah yang membara.


Hingga rasanya mereka ingin memukul mereka.


Maaf ya kalo part ini mengecewakan kalian, jangan lupa vote dan comentnya. Hehehe.... Aku usahakan bisa update 2x tiap satu minggu.