
"Tuan, akhirnya aku menemukan Nn. Cintya tapi---" ucapannya pria itu menggantung seakan ragu mengatakannya.
"Tapi, apa maksudmu dengan tapi? Katakan secepatnya!" perintah George.
"Maaf Tuan, ada yang aneh pada Nn. Cintya. Dandanannya berubah serta Saat saya berada dihadapannya Nn. Cintya tak mengenaliku dan--" potongnya lagi.
"Dan, Dan apa ? Yang jelas jika mengatakannya!"
"Dan dia bersama seorang pria saat itu, namanya pun bukan lagi Cintya tetapi Jeni. Tuan,"
George sempat melamun sebentar, mencoba memahami situasi dan apa yang ajudannya katakan, Cintya dengan seorang pria dan berganti nama? Ada apa ini sebenarnya? George mengernyit kan Keningnya. Dia berfikir inikah penyebabnya dia tak bisa menemukan keberadaan Cintya, iya karena wanita itu mengganti identitasnya.
Bodoh kenapa tak terfikir olehnya dahulu, "lalu dimana keberadaannya? Dan siapa pria yang bersamanya?"tanya George yang sudah mengepalkan kedua tangannya.
"Nn. Cintya ada di Bali, Tuan."
Apa sedekat itu, kenapa baru menemukannya sekarang? Bahkan aku sudah menyuruhmu mencarinya sejak tiga tahun lalu." George begitu murka pasalnya dia sangat bodoh sedekat itu dia tak tahu.
"Maaf Tuan, Tn. Jordy menutupi semuanya dengan rapi hingga kami sulit mencarinya, saat itu pun aku tak sengaja bertemu Nn. Cintya."
"Jordy?" Lirihnya, iya dia seperti pernah mengenal pria itu. "Jordy, bukankah dia pernah menjadi klien kita dulu."
"Iya Tuan, Jordy Hartono. Bahkan nama Nn. Cintya menjadi Jeni Hartono,"lanjut pria itu.
Mendengar penjelasan ajudannya George seakan membelalakan kedua matanya, bagaimana mungkin namanya menuadi Jeni Hartono Apa mungkin pria itu menikahi Cintya dengan paksa? Atau Cintya di sekap selama ini? Banyak pertanyaan di kepalanya yang ingin dia ketahui dan satu-satunya dia harus mencari informasi dan bertemu dengan Cintya secara langsung.
"Cari tahu apa status dari mereka!"perintah George yang sudah mengeraskan rahangnya, membayangkan Cintya memakai nama belakang pria lain membuatnya frustasi dan marah, karena hanya dia yang boleh memiliki Cintya.
"Baik Tuan,"
Cintya rasanya aku sudah tak tahan ingin bertenu denganmu. George pun segera duduk di kursi kebesarannya, kakinya sangat lemas karena mendengar kabar gembira, iya George sangat bahagia karena akan bertemu Cintya.
* * *
Jeni merapihkan kemeja putih yang ditutupi blazer hitam, dan rok span diatas lutut, tak lupa dengan rambut yang di ikat kuda serta kaca mata yang menghiasi matanya.
Hari ini dia akan mulai bekerja di perusahaan Max, setelah dia resmi mengundurkan diri dari perusahaan kakaknya itu.
Dia akan bertarung dengan Max, agar bisa menghentikan perjodohan ini jika Max tak bisa memimpin perusahaannya sendiri,
Karena Jeni meyakini jika Max hanya seorang pecundang yang suka foya-foya, main perempuan, dan selalu pergi ke club.
"Hm..selesai, Max lihat saja siapa yang akhirnya akan bergantung pada siapa."ucapnya dalam hati
"Jen, apa kau sudah siap? Turun dan makanlah. Kita berangkat bersama-sama,"teriak Jordy.
"Iya kak,"
"Whoaaa...adik kakak sekarang semakin cantik, tapi pasti akan lebih cantik lagi jika kau melepas kacamata mu itu Jen," ucap Jordy.
"Kak..diamlah tak usah mengkritik penampilanku aku nyaman seperti ini."
"Wah masakan kakak enak sekali,"ucap Jeni.
"Tentu saja enak, karena aku pandai menasak tak sepertimu hanya bisa menghabiskan semua makananku."
"Biarlah kak, yang terpenting 'I love you kak'."
"Cih, anak nakal." Mereka pun tertawa bersama di meja makan, dan juga sesekali di selingi dengan obrolan di pagi hari.
Jordy pov.
"Jordy , cepat aku di sini." Cintya membalas panggilan Jordy, Cintya masih saja duduk sembari memeluk tubuh kecil putrinya yang penuh dengan darah, dia tak sanggup berdiri karena tak punya tenaga.
"Cintya, Yuna." panggil ku, saat itu Cintya sudah duduk di depan ku.
"Apa yang terjadi?"
"Jordy, tolong bawa Yuna ke rumah sakit, dia hanya tertidur. Cepat Jordy!" perintah Cintya dengan nada yang tinggi.
Bukannya menuruti perintah Cintya, aku memilih lebih dulu memeriksa keadaan Yuna,
Aku memang curiga jika Yuna sudah tak ada.
"Hm, bagaimana Jordy tolong aku Bangunkan gadis kecil nakal ini dia sungguh menakutiku,"ucap Cintya.
"Hikss....hiks..hiks...anakku, kenapa harus pergi sayang mama di sini." tangis Cintya pecah.
Aku tak mengatakan apapun, menggendong tubuh kecil itu dan membawanya masuk ke mobil milikku, "Jangan cengeng Cintya, kuatlah untuk ketenangan jiwa anakmu."
Dengan sisa tenaga yang di milikinya Cintya mengikuti langkah aku, hingga ke mobil.
"Bersabarlah Cintya, kita harus segera memakamkan Yuna dengan segera." Cintya masuk ke dalam mobil, dia seperti patung yang tak bernyawa tatapannya menjadi kosong.
"Biarkan aku memangkunya Jo,"
Aku pun mengikuti permintaan Cintya, aku sangat merasa iba dengan keadaan Cintya, dan yang di alami Yuna. Aku berjanji akan menghabisi orang yang membuat Cintya seperti ini.
Ketika kami sampai di rumah sakit aku secepatnya membawa ke dokter, karena aku ingin tahu apakah benar Yuna masih ada harapan.
Cintya meletakkan Yuna diatas brankar, "Dokter tolong anakku, dokter...dokter..." cintya luruh dilantai, aku pun hanya bisa memeluknya dan menenangkan nya.
"Nyonya, maaf putri anda sudah tidak ada."
"Tidakkkk....tidakkk...."
"Jordy, tidak...tidak...bangunkan Yuna katakan aku menyayanginya."
"Cintya...Cintya sadar lah, jika kau seperti ini terus maka Yuna akan sedih."aku hanya bisa mencoba menenangkannya saja .
"Tidak...Yuna, bangun Yuna, bangun mama sayang Yuna." Cintya memeluk tubuh Yuna sangat erat.
"Tenangkan dirimu sebaiknya kita segera mengkremasi Yuna secepatnya, aku akan mengurusnya di rumah duka."
"Jordy terimakasih,"
* * *
Satu minggu setelah kepergian Yuna Cintya masih saja tak beranjak dari kamar, dia hanya menangis dan sesekali menyalahkan dirinya hingga menyakiti dirinya sendiri.
Aku melihatnya pun tak tahan, seakan aku pun ikut merasakan warna hitam pekat dalam hidupku, semakin hari semakin mengenaskan bahkan terasa hampir gila.
Sampai aku menutuskan untuk membawanya ke pskiater, agar dia bisa menjalani hidupnya dengan bahagia lagi.
Tapi ternyata aku salahb bukannya sembuh Cintya justru merampas kunci mobil , dia mengendarai mobil dengan kecepatan penuh sampaiaku pun tak bisa mengejarnya.
Hingga tepat saat dia sudah hampir sampai gudang itu, mobilnya.
Brukkkk...
Mobil Yuna menabrak truck yang melintas di hadapannya,
Aku pun berlari mencoba menyelamatkannya namun kindisinya sangat parah.
Hingga ketika dia terbangun pun tak mengingat siapa dirinya.
Pov end.
"Ayok berangkat nanti aku telat ke perusahaan Max," lanjutnya lagi.
"Okey tuan," ledek Jordy.
Jordy dan Jeni berada dalam satu mobil, "Jen, kakak pasti akan kesepian jika nanti kamu menikah dan pergi dari rumah kita," ucapnya.
Dia memang bahagia melihat Jeni yang sudah mau memulai membuka hatinya untuk seorang pria, tapi masalahnya dia yang masih ragu dengan pria itu. Jordy sangat takut adiknya kecewa lagi dan berakhir buruk padanya seperti saat sebelum dia lupa ingatan.
"Kakak, aku akan mengunjungi kakak setiap hari."
"Setuju."
* * *
"Apa ini, dia mengatakan jika dia akan menjadi sekertrisku tetapi sudah jam segini belun juga datang." Max terus saja menggerutu.
"Belum apa-apa saja udah terlambat, mana pantas wanita itu jadi sekertaris ku.
Hari ini dia sangat gugup karena harus mulai serius memimpin perusahaan milik Daddynya, selama ini dia tak pernah ikut campur denngan masalah perusahaan. Namunbkarena wanita itu dia akhirnya harus rela berjam-jam berada di kantor.
Tok...tok...tok...
"Masuk!"perintah Max
"Maaf aku datang terlambat"
"Bagaimana mungin, kau tahu bukan jika kau akan menjadi sejertarisku seharusnya kau datang lebih awal dariku."
"Iya bos saya minta maaf," ucapnya sambil menundukan setngah tubuhnya.
Jeni pun masuk kedalam ruangan Max untuk memulai pekerjaannya sebagai sekertaris,
"Jadi sir kita akan mulai untuk hari ini, aku akan membacakan tugas pertama anda."
"Tugas katamu Jen, secepat itukah ayolah Jen ini baru hari pertama aku bekerja apa aku tak boleh bersantai." Max terlihat sangat kesal sampai dia tak sadar jika Jeni sedang tersenyum devil padanya.
"Tentu saja kau bisa bersantai setelah mengerjakan semua tugasmu, sir."
"Apa? "
Maaf y g nyambung vote dan comen y