Why if I bitch

Why if I bitch
Bab 6



Mohon bijak dalam membaca, maaf jika terlalu vulgar just 18+


George mendekati Cintya dia memang tergoda dengan gadis itu, Cintya mampu membuat sisi liar nya muncul begitu banyak sensasi yang membuatnya bergairah. Apa lagi milik Cintya begitu sempit dan nikmat, George sampai heran karena milik Cintya bisa menjepit miliknya di dalam sana.


Mungkin ini yang di katakan agar jangan melihat buku dari sampulnya, begitu juga Cintya memang body nya montok tapi permainan ranjangnya begitu dahsyat. Karena selama dia bercinta dengan banyak wanita tak ada yang seperti milik Cintya.


Mungkin dia tak akan melepaskan wanita itu sampai George merasa bosan,"wangi mu begitu menggoda, kau tahu dengan hanya melihat bokongmu sudah membuat milik ku tegang." bisik George di telinga Cintya.


Cintya yang merasakan hembusan nafas pria itu tepat di dekat telinganya, membuatnya tersipu malu baru kali ini dia merasa malu-malu karena di puji seorang pria.


George menciumi tengkuk leher Cintya, menggigit sesekali. Tangannya tak diam George meremas lembut payudara Cintya, membuat Cintya mengeluarkan suara erangan kecil,


"Cintya, aku menginginkan milikmu."


Tangannya turun ke bagian sensitif milik Cintya, diusap dan di raba sampai Cintya tak tak tahan hingga mencengkram tangan George.


"Akh, Tuan." hanya kata itu yang keluar dari bibirnya. "Nikmatilah sayang setiap sentuhanku akan membuat mu terlena,"


George membalik tubuh tambun itu, dan mencium lembut bibirnya, di hisap nya semakin dalam hingga membuat Cintya kehabisan nafasnya.


George membimbing tangan Cintya agar menyentuh miliknya, "rasakan lah milikku dan puaskanlah aku malam ini. Sayang,"lirih George,


Tapi Justru Cintya mendorong tubuh George. Cintya memang tak bisa lagi di katakan amatiran dalam hal ini, walau dia dulu hanya sebagai nomor dua wanita yang paling di cari di club milik Bobby.


"Tentu aku akan memuaskan sesuai harga yang kau berikan untuk ku, Tuan." Cintya membuka pakaiannya perlahan di hadapan George, membuka pakaian atas dan melepas bra nya dengan tatapan mata yang menggoda.


George hanya terdiam di sofa, dia ingin tahu apa yang akan Cintya lakukan untuk memuaskannya. Walaupun sebenarnya dia sudah ingin menerkam tubuh wanita itu tapi George mencoba menahannya,


Cintya mendekatkan tubuhnya yang nyaris telanjang mendekati George.


Cintya berjalan mendekatkan dirinya dengan George, Cintya mengecup bibir George, dan sesekali dia melumatnya mencoba memancing pria itu. Tapi George masih saja diam tanpa pergerakan apapun, Cintya menciumi bibir George perlahan lembut, dia memainkan lidahnya di dalam mulut George semakin intens dan dalam.


"Lebih baik kita bercinta di kamar, aku tak ingin ada tikus-tikus yang mengintip." George memeluk tubuh Cintya dan membawa ke kamar miliknya.


George yang mencoba menahan gairahnya pun sudah tak sanggup berdiam, kini George berbalik arah melawannya George menciumnya melumatnya dengan rakus seolah tak ada lagi esok hari. George memperdalam ciumannya dengan tangan kanannya menahan tengkuk lehernya, dan tangan kirinya memeluk pingganggnya.


"Kau sangat pintar membangkitkan gairahku, sayang." puji George dan membuat Cintya tersipu malu.


"Tentu karena ini pekerjaanku,"


George meneruskan aksinya, bibirnya pun turun ke bawah di tempat ke dua bukit kembar Cintya. Di remas, di hisap nya hingga membuat Cintya kenikmatan, "ughhh, Tuan ini sangat nikmat." bibir ranum itu terus saja meracau tak jelas, "Call me George, sayang."


"Akh..George, aku sangat menginginkanmu." Cintya terus saja meracau tak jelas, Cintya tak bisa menahannya setiap sentuhan George selalu membuat nya terlena.


"Aku juga sangat menginginkanmu, bersiaplah menerima yang lebih nikmat lagi. Sayang," lirih George.


Dan malam ini menjadi malam yang penuh gairah membakar, hanya ada desahan-desahan nikmat yang menghiasi ruangan Apartmen George.


Kring...kring...kring..


Alarm di Handphone milik Cintya berbunyi, menandakan sudah pukul 5 Wib dini hari, Cintya merasakan sebuah tangan yang memeluk tubuhnya. Bagian sensitif George menyentuh langsung tubuhnya membuat bulu kuduknya berdiri, tapi otaknya berpikir untuk segera pergi dari tempat ini, dia tak ingin Yuna tak melihatnya saat dia bangun tidur nanti.


Cintya bangun perlahan, memindahkan tangan kekar itu dari pelukkannya. Cintya memunguti pakaiannya yang berserakan di mana-mana, sebelum pergi Cintya meninggalkan sebuah notes di samping nakas milik George.


Cintya memandang wajah itu, wajah yang terlihat tampan dan damai saat mata nya tertutup,"aish, kenapa aku bisa berfikir seperti itu. Ingat Cintya kamu hanya pemuas nafsunya," Cintya menepuk-nepuk kepalannya dan memilih pergi meninggalkan George.


* * *


George terbangun ketika dia merasakan tak ada seseorang di sampingnya, seseorang yang semalaman memuaskannya. George melihat seluruh ruangan, tetap saja sepi, dan sunyi. Namun matanya terhenti di sebuah nakas di samping tempat tidurnya, dia mengambil secarik kertas itu, dan membacanya.


Maaf aku harus pergi lebih dahulu, tentang pekerjaan jika kau membutuhkanku lagi, hubungi saja aku.


"Sial, kenapa wanita ini senang sekali meninggalkanku sendiri sebelum aku terbangun." George terus saja menggerutu, karena ini sudah ke dua kalinya Cintya pergi dahulu dan hanya meninggalkan nya secarik kertas.


Akhirnya dia memutuskan untuk bersiap, karena hari ini George harus mengunjungi salah satu proyek miliknya.


"Hallo, Rendy dimana tempat proyek itu." George menghubungi Rendy, setelah dia melihat ada 10 panggilan tak terjawab dari asistennya itu.


"Iya Tuan, saya dan Tuan Bern sudah di lokasi. Di jalan Blok M," jawab Rendy.


"Baiklah, 30 menit aku akan sampai di sana. Sampaikan permintaan maafku pada Tuan Bern," ucap George.


George memakai pakaiannya dan mengambil berkas-berkas yang tergeletak di lantai, dia pergi dengan terburu-buru namun ketika melihat pemandangan di depan apartemennya yang berjarak hanya beberapa blok, Sepontan menghentikan langkahnya untuk melihat kedua wanita itu.


"Mam, jam berapa Mam pulang?" tanya Yuna puterinya, bukannya menjawab pertanyaan puterinya Cintya asik membenarkan ikatan rambut Yuna.


"Mam, kenapa diam Yuna ingin tahu." Yuna melipat ke dua tangannya dan wajahnya pun berubah cemberut.


Dengan wajah yang tanpa di lapisi bedak, dan alat kosmetik lainnya hanya perwarna bibir saja tetap membuat terlihat menarik.


"Iya sayang, Mamah pulang jam 5 pagi, Dan Mamah sangat mengantuk. Makanya ayo kita berangkat ke sekolahmu, sayang." Cintya mencubit pipi bakpao puterinya, hingga puterinya pun mengaduh kesakitan.


"Mam, aku sudah besar jangan cubit aku bagaimana kalo ada orang yang melihat." Yuna pergi meninggalkan Cintya, Cintya hanya tertawa kecil melihat puterinya yang sudah terlihat dewasa dari usiannya.


Cintya mengikuti langkah Yuna masuk ke dalam Lift, saat pintu lift akan tertutup sebuah tangan menahannya hingga pintu lift terbuka kembali. Cintya terkejut melihat siapa yang masuk dan berada di sampingnya, "Om Geo," panggil Yuna dengan wajah tampak berseri-seri.


"Hai cantik, kita bertemu lagi." sekilas George melirik ke arah Cintya, terlihat jelas jika Cintya sedang gugup dan pipinya merona merah membuat George tertawa geli.


"Om Geo dari mana?"


"Om tinggal di apartemen ini, dan jaraknya hanya beberapa blok dari rumahmu!"


"Benarkah, kalau begitu aku bolehkan main ke tempat Om Geo?" Yuna sangat senang senyum dibibir gadis kecil itu sangan manis.


"Tentu saja boleh, jika Mommy mu mengizinkan."


"Tidak sayang, Om Geo sibuk." jelas Cintya pada putrinya.


"Maaf Tuan George, putriku sudah lancang," ujar Cintya, dia tak ingin jika nanti Yuna akan bertanya macam-macam seperti tempo hari.


George yang menatap Cintya hanya mengedikkan bahunya, "Om duluan ya, Cantik." George berjalan mendahului mereka, dia sangat terburu-buru karena urusan kantor.


* * *


Di mobil George tak bisa mengalihkan fikirannya dari kedua wanita tadi, ibunya membuatnya tergula-gila dengan aksi ranjangnya, sedangkan putrinya sangat menggemaskan dan lucu. Dulu dia tak pernah membayangkan kehadiran seorang anak, tapi setelah melihat Yuna dia membayangkan bagaimana rupa anaknya nanti, hingga mampu membuatnya tersenyum sendiri karena dia membayangkan anaknya lahir dari Cintya.


Tapi dia menggeleng-gelengkan kepalanya, sangat konyol pastinya membayangkan memiliki anak dari wanita pelacur macam Cintya. "Aish, dia hanya wanita jalang. Tak mungkin keturunanku lahir dari rahimnya," ujar George lirih.


Akhirnya George memilih berkonsentrasi menyetir supaya cepet sampai di lokasi.


Setelah hampir satu jam terjebak macet  George sampai di lokasi di daerah Blok M tepatnya, kali ini dia akan membangun sebuah hotel bintang lima dan cafe untuk tempat muda-mudi berkumpul.


"Rendi,"


"Tuan Harvads, silahkan duduk."Rendi menarik kursi untuk mempersilahkan Tuannya duduk.


" Apakah seperti ini cara kerja seorang Tn. Harvads yang memiliki bisnis paling sukses, datang terlambat dan membiarkan partner menunggu lama." ujar Jordan sinis.


"Hm, maaf jika saya terlambat karena saya sedikit ada masalah." bohong George.


"Tempat ini lumayan, saya rasa bisnia ini akan berhasil. Berapa lama kira-kira pembangunannya selesai?" tanya Jordy.


"Tidak lebih dari 3 bulan," jawab George dengan angkuhnya.


"Bagus, lebih cepat lebih baik." Jordy  mengusap usap dagunya.


"Ya."


"Saya rasa sekarang saya harus pergi, karena masih banyak pekerjaan yang menunggu di kantor." Jordy bangkit dan menunduk hormat, dan pergi dari hadapan George.


"Whoahh pria itu, sungguh sangat sombong  Dia pikir siapa. dia,"


George berkecak pinggang, dia merasa gerah dengan tingkah Jordy yang merendahkan hanya karena keterlambatannya.


"Rendy, pekerjaan apa lagi yang harus aku kerjakan sebelum kita ke Bali?" tanya George.


"Seperti nya semua sudah selesai, lusa kita akan berangkat untuk menghadiri acara peresmian hotel 'Bali Beach Harvads'."


"Okey, berikan aku cottage memiliki Dua kamar. Karena aku akan mengajak wanita itu!" perintah George.


"Siap Tn. Harvads akan saya lakukan."


"Bagus kalau gitu aku ingin makan dahulu," pinta George.


"Ayo kita pergi sarapan dahulu, baru ke kantor," lanjut George.


George dan Rendy pergi menuju Plaza Blok M, jaraknya berdekatan dengan pembangunan Hotel miliknya.


George memilih sarapan dengan Dua potong Donut's dan secangkir coffe late, dia terbiasa sarapan dengan roti bukan makanan berat.


Namun  ketika dia ingin meminum coffe late miliknya, George melihat wanita itu. Dia merasa aneh kemanapun dirinya pergi selalu saja bertemu dengan wanita itu.


"Rendi bisa kau panggilkan dia, dan sebaiknya kau pindah tempat."


"Baik Tuan,"


Rendy beranjak dari tempat duduknya, dan menghampiri Cintya yang sedang menunggu pesanan Donut's. "Nona, Tuan George menunggu anda disana!" Rendy menunjuk ke arah kursi di mana George duduk.


"Aishh, kenapa di mana-mana ada pria itu." cibir Cintya. "Iya nanti aku kesana, aku sedang menunggu pesananku."


"Baik,"


* * *


Dengan langkah malas Cintya berjalan menghampiri pria itu, dia membawa satu kotak besar Donut's pesanan putrinya.


"Ada apa lagi, bukankah ini belum jam bekerjaku?" tanya Cintya.


"Siapkan pakaianmu, kita akan pergi ke Bali lusa." George menatap Cintya dengan tatapan penuh nafsu.


"Apa? Tapi itu tidak termasuk dalam perjanjian kita." Cintya mencoba untuk menolak.


"Ingat aku sudah membelimu, jadi aku berhak atas dirimu. Bahkan aku ingin selalu mendengar desahanmu itu, dan goyanganmu yang nikmat." bisik George dengan nada yang menggoda Cintya. "Bahkan kau tahu hanya melihat bokongmu yang seksi, milik ku sudah tegang." George tersenyum licik.


"Jam berapa kita pergi? Aku akan menunggu mu di lobby apartemen," ujar Cintya geram, dia merasa jengkel karena pria ini tidak tahu tempat, dengan berkata mesum seperti ini.


"Dan tolong jaga ucapan Tuan jika kita berada di tempat umum." ujar Cintya penuh amarah.


"Saya pamit dahulu, karena harus menjemput Putri saya." Cintya membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat pada Tuannya.


George yang melihat kepergian wanita itu hanya bisa mengumpat, karena wanita itu benar-benar tak bisa di ajak damai dan tak bisa di tebak.


Ok, seberapa lama kau akan bersikap seperti ini padaku. Lihatlah aku yang akan selalu mengendalikanmu sesuai keinginanku.


Hai...haii maaf ya lama, jangan bosen ya baca. Ceritaku yang amatiran minta coment and votenya ya.


Makasih ya untuk yang udah kasih coment dan vote nya, kalian udah bikin aku semangat walau ceritaku banyak kekurangannya. Maaf kalo aku jarang bales di rumahku sinyal jelek banget.


Sekali lagi terima kasih.