Why if I bitch

Why if I bitch
Bab 30



Max terus saja uring-uringan semua karena ulah Jeni yang selalu memberi nya pekerjaan, dan membuatnya harusi memeriksa semua berkas lima tahun lalu.


Lihat saja bertumpuk-tumpuk dokumen yang dihadapannya belum juga selesai, "Jen...bisa tidak si kau membantuku, kau itu kan sekeratarisku harusnya ini pekerjaanmu."


"Maaf sir, kau harus jadi orang  pertama yang mengetahui kondisi perusahaanmu dahulu. Seprti keuangan dan kelayakan pimpinan para pegawai lainya yang bekerja denganmu." Sebenarnya itu hanya alasan Jeni saja untuk mengerjainya.


"Lalu apa pekerjaanmu, sejak tadi kau selalu saja duduk dan bermain ponsel?" Tanya nya.


"Oh aku sedang mengecek laba perusahaanku, ada yang salah. Sir?" Jeni bertanya bali.


"Sial wanita ini benar-benar membuatku marah, dia menyuruhku bekerja sedangkan dirinya asik mengecek perusahaannya sendiri. Lihat saja nanti Nona akan aku balas," ucap Max dengan nada sinis.


Seketika Max pun menghentikan aktifitasnya, dia ingin memberi wanita itu pelajaran, dengan langkah yang penuh hati-hati dia berjalan menghampiri Jeni.


Pelan-pelan sambil berjinjit dia berada di belakang tempat duduk Jeni, dan.."sinikan ponselmu," hal lain pun tak terduga ketika Max mengambil ponsel milik Jeni, justru bibir mereka saling beradu saat Jeni menoleh ke arah Max.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Hingga suasana menjadi sedikit canggung, Max yang tadinya ingin menjahili Jeni malahan menjadi salah tingkah karena kecupan di bibir Jeni.


"Ehem...ehem...maaf tadi aku tidak sengaja, jadi kamu jangan salah paham." Max berusaha menjelaskan.


Nanum berbeda dengan Max, Jeni menganggapnya biasa saja dia sebebarnya tahu jika Max mendekatinya diam-diam. Jeni ingin tertawa kencang saat melihat ekspresi wajah Max yang mendadak gugup, dia sengaja kenempelkan bibirnya tepat di bibir Max.


"Rasain kamu pembalasanku,"bisiknya lirih.


"Shit...shit...shit.." Max terus saja mengumpat di dalam kamar mandi, dia terus mencuci muka dan bibirnya dia tak menyangka


Jika sentuhan antara bibirnya da bibir Jeni membuat hatinya bergetar Dan dia sangat benci jika ada yang menyentuh bibirnya.


Niat ingin mengerjainya dia yang kena batunya sehingga  membuat hatinya tak karuan, dia terus saja mengusap-usap wajahnya merasa sedikit gelisah.


Tok..


Tok..


Tok..


"Sir, are you okey?"


" yes, iam okey."


"Jen..pesankan aku makanan aku sangat kelaparan,"lanjutnya lagi.


"Okey, sir."


Jeni tertawa cekikikan dia berhasil mengerjai Max, sebenarnya ini semua karena kak jessica yang memberinya sedikit info tentang Max.


Flash back.


"Jen..apa kau serius ingin menikah dengan Max?" Tanya Jessica. 


"Hm...tentu saja kenapa? Bukankah kakak menginginkannya? Aku hanya tak ingin kakak menjagaku terus karena ada wanita yang lebih layak dijaga dariku." Jeni pun mengedipkan sebelah matanya.


"Bisa saja, kau tahu kakakmu sangat mengkhawatirkan dirimu. Jen," ucap Jessica.


"Iya, karena itu aku menyutujui perjodohan ini. Katakan pada kakakku, iam okey wit him."


Jeni pun memeluk tubuh kecil Jessi, dia merasa jessi seperti kakak kandungnya sendiri. Jeni bersyukur bisa berada di lingkungan orang-orang yang menyayanginya.


"Baiklah satu hal yang akan aku katakan tentang Max, dia memang playboy dan suka dengan sex bebas. Tapi dia benci jika ada wanita yang mencium bibirnya."


Mendengar ucapan itu Jeni memiliki ide untuk membalasnya, iya dia ingin mengerjai pria itu hingga senyum licik di wajahnya tersungging.


Flashback and.


Jeni menyiapkan makanan untuk Max, "Sir, ini makanan anda sudah saya siapkan."


"Iya aku akan memakannya dahulu, tolong kau selesaikan pekerjaanku itu jangan hanya makan gaji buta." Max masih saja kesal dengan kejadian tadi dia merasa dirinya sudah ternoda, Dia memang gemar sex bebas tapi dia sangat tak suka wanita-wanita itu mencium bibirnya.


"Ok sir, akan aku kerjakan."


Jeni meneruskan pekerjaannya, sebenrnya dia kasihan karena membiarkan bosnya itu mengerjakan semua nya.


Tapi Max harus belajar bagaimana caranya mempertahankan apa yang sudah dimilikinya, dan agar dia bisa memimpin perusahaannya dengan baik.


Namun tiba-tiba saat dia ingin memakan suapan terakhir sebuah tangan sudah mengusap sudut bibirnya, dan Max pun menoleh ke arah simpunya   tangan itu. "Shit, kenapa eanita itu selalu menyentuhku tepat di bagian yang paling aku jaga." Max terus mengumpat dalam hati.


"Emm...maaf Sir, tadi ada nasi di bibir anda." Jeni menunjuk kearah bibir Max.


"Jangan pernah melakukan kontak fisik dengan ku lagi, atau aku akan memecatmu." Max terlihat sangat kesal.


"Oh, iam sorry sir, apa maksud anda kontak fisik aku hanya membersihkan bibir anda dari noda." Lagi-lagi Jeni pun berpura -pura


* * *


"Bagaimana hasilnya?"


"Nn. Cintya mengalami kecelakaan lima tahun lalu, dan Nn. Cintya pun kehilangan ingatan sehingga Mr. Jordy mengganti namanya menjadi Jeni."


George sempat mengepalkan kedua tangannya, dia sangat kesal karena mendengar apa yang Cintya alami


"Lalu, Apa hubungannya Cintya dengan Jordy?" Tanya Geoge kembali.


"Mr. Jordy adalah kakak kandung dari Nn. Cintya, itu kenapa Nn. Cintya menjadi Jeni."


Setelah mendengar kata-kata itu hatinya menjadi tenang karena status hanya sebagai kakak dan adik, dan di pastikan dia akan segera mencarinya.


"Lalu ada lagi?" Tanya George kembali.


"Iya Tn. George, Nn. Cintya akan menikah dengan Mr. Max putra dari Tn. Prabowo pemilik perusahaan bergerak di bidang pembangunan real estat."


"Tidak, tidak itu tidak akan terjadi. Dan bukankah perusahaan itu hampir bangkrut?"


"Iya, tapi kini putranya yang memimpin dan di bantu oleh Nn. Cintya." Penjelasan orang kepercayaan George.


"Awasi terus Cintya, aku akan menyelesaikan semua pekerjaan di sini dahulu baru memikirkannya."


"Baik Tuan,"


George mengerutkan keningnya, dia sedang merasa kesal dengan informasi yang dia dapatkan. Iya dia harus segera menggagalkan perjodohan mereka dan mendapatkan hati Cintya  kembali, sudah lama dia menantikan momen ini untuk bertemu dengan Cintya dan meminta maaf padanya.


George menutup semua lembar pekerjaannya, dia menyambar jas dan kunci mobil di laci.


"Antar saya kepemakaman sekarang!


George berjalan menyusuri setiap gundukan tanah di pemakaman, dan dia pun berdiri tepat di makam Yuna, "Yuna iam here, iam sorry because late to help you." George sudah berlutut di makam Yuna dan menyirami dwngan air dan bunga-bunga.


"Iam promis with you Yuna, aku akan menjaga ibumu sampai akhir hidupku, maka dari itu  kini izinkan aku untuk menjaga dan memilikinya." Lanjutnya.


Georga mengusap-usap papan nama Yuna, seakan mengusap kelpala Yuna dan tersenyum padanya terlihat ada perasaan bahagia dari wajahnya.


"Cintya tunggu aku disana, kita akan segera bertemu dan aku akan selalu mencintaimu." Pria itu selalu berbisik dalam hati.


"Tolong cari tahu bagaimana aku bisa bekerja sama dengan perusahaan milik Prabowo," ucapnya.


* * *


Jeni masih membantu pekerjaan Max, dia hampir menyelesaikan nya Jeni ingin segera pulang dan bercerita pada Jessi dengan apa yang terjadi hari ini.


Karena dia berhasil membuat Max uring-uringan, dan Jeni yakin Max akan segera ingin mengakhiri hubunga perjodohan ini.


Dia pun berencana akan memberikan seauatu sebelum dia pulang nanti.


"Hm.. akhirnya selesa," Jeni pun melihat jam tangannya yang menunjukkan sudah pukul 7 malam dan sudah waktunya dia pulang.


Setelah merapihkan semua berkas-berkas, Jeni melihat Max tertidur dengsn masih menggunakan kaca matanya membuatnya semakin tampan.


Diam-diam Jeni mendekati Max, dia memperhatikan wajah Max dengan teliti. "Lihatlah jika kau sedang tidur, kau sangat tampan." Bisiknya dalam hati.


Saat sedang asik memperhatikan wajah milik Max, Max membuka kedua matanya sehingga membuat Jeni kaget. Namun dengan gerakan spontan dia mencium bibir milik Max membuat Max membulatkan matanya, dia terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu hingga dia mendorong tubuh Jeni kasar.


"Owh...Max ini sskit." Rintih Jeni.


"Sudah aku katakan jangan melakukan kontak fisik denganku, apa kau tak mendengarku? Tak kusangka kelakuanmu seperti bitch."


Plak .


Sebuah tamparan mendarat dipipi Max, Jeni yang mendengar kata-kata Max seakan ingin menangis.


"Jangan menangis di depanku karena aku tak akan pernah menyukaimu."


Maaf kalo tak sesuai  harapan, vite and coment please.