
Cintya yang baru saja bangun dari tidurnya merasa ada yang sedikit janggal, suasana di ruangan ini sangat sepi tanpa ada suara terdengar. Cintya bangun dari tempat tidurnya dan membuka tirai jendela, sinar mentari mulai terlihat menyinari dunia hingga cahaya nya menyilaukan kedua matannya.
Inilah namanya surga dunia pantas saja jika banyak turis mengunjungi Bali, pantai nya sangat indah dan pemandangannya juga asri. Cintya berjanji suatu saat dia akan mengajak putrinya datang ke sini, "kriuk," Cintya mengelus perutnya yang kelaparan. Akhir - akhir ini dia selalu merasa lapar tepatnya sejak bertemu pria ini, Cintya bergegas mandi dan pergi mencari makanan sebelum dirinya pingsan karena kelaparan.
From: 0823 XXXX XXXX
Pagi Cantik, turunlah ke cafe aku memesankanmu banyak makanan pasti kamu lapar. Jordy
Cintya yang baru saja selesai mandi dan mendengar Hp nya berbunyi, dia hanya tersenyum sendiri membaca pesan singkat itu. Pria itu sangat tahu jika dia sedang kelaparan ini bagaika pucuk di cinta ulam pun tiba, Cintya berpikir ini bisa menghemat uangnya.
To : 0823 XXXX XXXX
Ok, Tuan tunggu aku disana Dan jangan biarkan makanan itu habis.
Cintya bergegas pergi ke Cafe dia berlari kecil layaknya seorang anak yang di beri mainan, dan itu tak cukup lama untuk Cintya tiba di cafe itu.
"Huff..huff...huff..."
"Tn. Jo, maaf aku sedikit telat."
"Hm, duduklah." Jordy menarik kursi disampingnya untuk Cintya duduk.
Cintya segera mendudukan dirinya, matanya sudah jelalatan ke mana- mana. "Kriuk," dia selalu merasa malu perutnya selalu berbunyi jika dia berhadapan dengan makanan.
"Hahaha, kau memang wanita unik."
"Ups, sorry Tn. Jordy sepertinya aku sudah kelaparan boleh aku menyantapnya?"
"Of course,"
Setelah Jordy mempersilahkan Cintya menyantap makanannya, Cintya memakan makanannya dengan lahap dia merasa energinya sudah terkuras habis. Dan dengan makanan ini dia bisa menghadapi Tuannya itu, pria yang gila akan sex.
"Pelan-pelan makanannya, nanti takut tersedak."
"Ah iya Tn. Jordy, maaf."
Walau sedang makan terkadang mereka terlibat dengan obrolan yang seru, dan menyenangkan sehingga tanpa mereka sadari. George sedang memperhatikan mereka dari kejauhan, George menggeram marah karena wanita itu tak menghiraukan ucapannya, dia terus saja bertemu dengan Jordy dan membuat George marah.
"Sepertinya kau memang menginginkan percintaan seperti semalam." George tersenyum dengan liciknya.
Ting.
1 massage
From Tn. George
Apa kau menjual dirimu di belakangku, sudah ku katakan jauhi pria itu.
Sesaat setelah Cintya menerima pesan singkat George, kedua matanya berkeliling memutar mencari si sososk pria yang membuatnya sakit hati dengan pesan singkatnya.
Cintya menemukannya, kedua mata mereka saling terkunci Cintya melihat jika tatapan pria itu sangat mengerikan hingga menusuk jiwanya. Seakan pria itu ingin menyantapnya hidup-hidup, namun lagi-lagi Cintya mencoba untuk menguasai dirinya rasanya dia memang perlu berbicara nanti di hotel.
"Ada apa? Kau seperti sedang kesal, siapa yang mengirimmu pesan?" tanya Jordy walau sebenarnya dia tahu jika yang mengirim pesan itu George, Tapi Jordy pura-pura tak tahu.
"Akh, tidak Tuan. Ini hanya putriku yang merindukanku," bohong Cintya pada Jordy.
Jordy hanya menganggukkan kepalanya, "Apa kau masing ingin makan yang lainnya? Hm,"
"Sepertinya tidak, perutku seperti nya ingin meledak."
"Oh iya, kupikir perutmu masih bisa menampung banyak makanan."
"Hahaahaha." tawa Jordy menggema di ruangan ini, sehingga membuat George tak melepaskan pandangannya sedikitpun dari mereka.
"Hai Tuan, kecilkan suaramu. Mereka melihat kita,"
"Iya, oke, oke."
"Ya sudah, aku pergi dulu Nn. Cantik. Aku ada meeting," Jordy pergi dengan mencium punggung tangan kanan Cintya, sehingga membuatnya salah tingkah.
* * *
Setelah acara makan pagi Cintya pergi berjalan-jalan di pantai, dia sangat menikmati hari ini tapi pasti akan lebih menyenangkan jika Putri kecilnya bersamanya, Cintya memilih untuk menghubungi Dian untuk menanyakan keadaan Yuna.
"Halo,"
"Halo Ci, ada apa menghubungiku? Bagaimana disana apa menyenangkan?" tanya wanita di seberang sana.
"Iya menyenangkan, bagaimana Yuna apa dia baik-baik saja?"
"Iya dia sedang istirahat, badannya sedikit demam mungkin karena merindukanmu."
"Apa aku harus pilang Di?" tanya Cintya panik.
"Tidak perlu aku sudah memberinya obat, dan sebentar lagi juga demamnya akan turun. Bersenang-senanglah Cintya," ujar Dian.
"Ok baiklah Di, terimakasih sudah mau menjaga putriku."
Cintya tak menyadari jika di belakannya sejak tadi berdiri seorang pria yang menguping pembicaraannya, "Yuna, apa dia anakku."
Cintya terdiam kembali, tubuhnya seakan membeku mendengar kembali suara itu, Suara pria itu lagi Jojo pria masa lalunya. Cintya tak menghiraukan pria itu dan pergi menjauhi nya, tapi pria itu dengan cepat menggenggam erat tangannya.
"Kau tak perlu menghindariku Cintya,"
"Lepas, lepaskan aku." Cintya mencoba melepaskan genggaman Jojo tapi tenaganya tak bisa menandingi Jojo.
"Apa maumu?" Cintya menatap tajam ke arah Jojo dan menatapnya dengan penuh kebencian.
"Aku ingin kamu," ujar Jojo.
"Apa maksudmu, hm."
"Aku ingin menikahimu Cintya, dan menjadi Daddy dari anak kita."
"Cintya," teriak Jojo.
"Apa? Apa yang kau katakan, Kenapa baru kau katakan sekarang. Huh," Cintya kali ini bisa melepaskan genggaman Jojo.
"Apa kau tahu bagaimana sulitnya kami menjalani hidup, kau pria brengsek." lanjut Cintya.
"Plak,"
"Plak,"
Cintya menampar Jojo dengan kekuatan penuh yang saat ini masih tersisa, amarah, benci, kecewa, dan dendam menghantui nya saat ini.
Tapi ketika dia hendak pergi meninggalkan Jojo, sungguh di luar dugaan ternyata George berada tepat di dekat mereka. Cintya sempat berhenti dan menatap kearah mata George, namun George memalingkan mukanya dan juga dia sedang bersama seorang wanita, wanita yang memiliki tubuh sempurna, cantik, langsing dan seksi tak seperti dirinya. sehingga membuat Cintya pergi meninggalkan mereka.
"Aku akan tetap menginginkanmu dan Yuna, jadi jangan menghindariku sayang." Jojo berteriak sangat kencang agar Cintya mendengar namun bukannya berhenti justru Cintya pergi menghilang.
"Jo, ada apa?"
"Cintya ka, dia wanita yang aku ceritakan ibu dari anakku Yuna."
"Jadi wanita itu, dia cantik kejarlah dia Jojo."
Tanpa di sadari sebenarnya sejak tadi ketika dia melihat Jojo dan Cintya bertengkar, dia ingin sekali membawa Cintya pergi jauh dan menenangkannya namun karena dia sedang bersama istri dan adik iparnya dia mengurungkan niatnya dan mencoba tak menghiraukan Cintya.
"Biarkan dia tenang dahulu baru kau mengejarnya."
Baru kali ini dia merutuki mulutnya sendiri karena mengatakan hal itu, seharusnya dia memgatakan 'jangan kejar dia, karena dia milikku'. Tapi kenyataanya mulut dan otaknya berbunyi berbeda.
"Sayang di mana kamarmu? Aku ingin menaruh barang-barangku."
"Tidak perlu, aku sedah memesan kamar yang baru. Jo bawa kakakmu ke kamar ini!" perintah George tak terbantahkan.
"Baik kak,"
* * *
Cintya menangis di kamarnya dan meringkuk seperti bayi, dia tak mengerti kenapa dia bisa bertemu lagi dengan Jojo. Dan apa maksud pria itu sebenarnya ingin menikahinya dan merawat Yuna, "pria kurang ajar, kau datang setelah semua baik-baik saja." lirih Cintya dalam tangisnya.
Dia sangat benci keadaan ini, seolah-olah tak ada tenaga untuknya menghadapi masalah ini.
Jika saja dia tak memiliki janji dengan Tuannya dia pasti sudah kabur dari tempat ini, dia teringat pertemuannya dengan George, dan seorang wanita yang bersam George. Apa wanita itu istrinya? Atau kekasih nya? Atau wanita jalangnya yang lain?
"Argggghh,"
Cintya mengerang frustasi, dia tak tahu kenapa pertanyaan itu muncul di benaknya. Ada apa dengan dirinya seakan dia adalah milik pria itu, Cintya menangis tanpa sedikit jeda pun sampai dia menerima pesan singkat.
1 massage
From : Tn. George.
Kemasi pakaianmu sekarang, aku akan ke kamar 5 menit lagi.
Cintya melihat kembali pesan singkat itu, miris sekali membacanya dia merasa seperti barang yang tak terpakai yang di perlakukan semaunya oleh pemiliknya.
Apalah daya nya dia hanya wanita yang di beli George, dia pun tak ingin banyak bertanya pada pria itu. Toh pria itu memang menganggapnya seperti itu.
Dan dalam hatinya pun dia merasa sedikit senang, jika dia di pulangkan malam ini dia akan bertemu dan mengurus Yuna yang sedang sakit.
Ceklek.
Cintya mendengar suara pintu terbuka, dia lebih memilih tetap diam tanpa kata karena sudah di pastikan pria itu akan banyak bertanya tentang Jojo.
"Apa benar Jojo ayah dari anakmu?" suara itu menggema di ruangannya pria itu bahkan hanya membuka sedikit pintu kamarnya dan berdiri tegak disana.
"Menurutmu?" jawab Cintya.
"Jawab pertanyaanku, bukan balik bertanya."
"Cih, tak ku sangka kau bahkan merayu Jojo dan memilikki anak darinya. Benar-benar wanita murahan," ujar George.
"Tuan, jaga ucapanmu! Jika kau tak tahu apa-apa jangan pernah berkomentar dengan kehidupanku."
Apapun ucapan yang keluar dari mulut pria ini sangat menyakitkan hatinya.
George berjalan mendekati Cintya yang hendak mengambil koper miliknya, dia terus berjalan hingga menghimpitnya ke dinding kamar menangkup kedua tangannya di wajah Cintya, dan mendekatkan bibirnya sangat kasar pada bibir Cintya. Menciuminya tanpa ampun tak perduli walau Cintya mencengkram bahu George meminta di lepaskan karena tak bisa bernafas, akan tetapi George tak perduli dia terus saja menciuminya seakan sedang melampiaskan hasrat nya.
"Brakk,"
George memukul dinding, hingga tangannya membiru. "Astaga Tuan, apa yang kau lakukan." ketika Cintya ingin melihat tangan George, George menepis nya hingga membuat Cintya merasa sedih.
"Ini tiketmu, pulang dan temui aku di apartemenku lusa. Siapkan tubuhmu untuk melayaniku!" perintah George.
"Karena aku tak mau istriku melihatmu bersamaku, wanita pemuas nafsuku." lanjut George.
Lagi, lagi, lagi ucapan pria itu menusuk hatinya, menghancurkan jiwanya sekotor itu kah dia di mata George. Bahkan pria itu meninggalkannya tanpa menoleh padanya, dan hanya meninggalkan sebuah tiket pesawat dan kredit card miliknya diatas nakas kamar Cintya.
* * *
Cintya membawa koper miliknya dengan pelan, dia merasa benar-benar terhina dengan kata-kata pria itu. Dia menyesal telah di beli pria itu rasanya tak tahu sampai kapan dia bisa menghadapi ucapan pedas dari George.
Cintya menaiki penerbangan class eksekutif, pengalaman yang baru di rasakan setelah bertemu pria itu.
Cintya duduk di kursi No. 1, Cintya lebih memilih memakai headseat di telinganya dan mendengarkan musik karena setidaknya sedikit mendengarkan musik bisa mengembalikkan suasana hatinya.
"Apa kau akan pergi sendiri tanpaku,"
Cintya yang baru saja memejamkan matanya, mulai terbangun kembali dan dia sangat terkejut melihat siapa pria yang ada di sampinnya itu.
Maaf jika selalu banyak kekurangan di ceritaku ini, karena ini semua murni dari isi kepalaku tanpa di edit lagi higigi