Why if I bitch

Why if I bitch
Bab 26



Dor..


Dor..


"Yunaaaa," mendengar suara pistol dia berlari masuk ke dalam gudang itu, dengan bantuan cahaya senter handphone dia mencoba mencari Yuna.


"Yuna, kamu di manaa sayang ini mama."


"Yuna, Yuna."


Bukk


Tubuh gempal Cintya terjatuh ketika kakinya tersandung sesuatu hingga--,


"Tidakkkk Yunaaaaa,"


Cintya merangkak mendekati tubuh kecil yang membuatnya terjatuh, kedua matanya membulat sempurna ketika melihat tubuh kecil putrinya bersimbah darah.


"Yuna, bangun Yuna mama si sini." Cintya  terus mencoba membangunkan Yuna, namun tak ada pergerakan sedikitpun dari Yuna.


"Tidak sayang, jangan seperti ini sayang, lihat mama di sini ayo bangun kita pulang."


Hiks..hiks..hiks..


"Yuna, Yuna, Yuna maafkan mama sayang. Bangun Yuna mama di sini," ucap Cintya, Cintya terus berusaha membangunkan Yuna, menamparnya hingga mengguncang-guncangkan tubuh Yuna hingga dia tersadar jika Yuna sudah meninggal dan tak akan pernah bangun lagi.


"Yuna maafkan mama karena terlambat menyelamatkanmu."


Hikss..hikss..hiks...


"Cintya, Yuna, Cintya." suara Jordy begitu menggema di seluruh ruangan.


"Jordy, cepat aku di sini." Cintya membalas panggilan Jordy,  Cintya masih saja duduk sembari memeluk tubuh kecil putrinya yang penuh dengan darah, dia tak sanggup berdiri karena tak punya tenaga.


"Cintya, Yuna." panggil Jordy yang sudah duduk di depan Cintya.


"Apa yang terjadi?"


"Jordy, tolong bawa Yuna ke rumah sakit, dia hanya tertidur. Cepat Jordy!" perintah Cintya dengan nada yang tinggi.


Bukannya menuruti perintah Cintya, Jordy lebih dulu memeriksa keadaan Yuna,


Dia memang curiga jika Yuna sudah tak ada.


"Hm, bagaimana Jordy tolong aku Bangunkan gadis kecil nakal ini dia sungguh menakutiku,"ucap Cintya.


"Hikss....hiks..hiks...anakku, kenapa harus pergi sayang mama di sini." tangis Cintya pecah.


Jordy tak mengatakan apapun, dia menggendong tubuh kecil itu dan membawanya masuk ke mobilnya, "Jangan cengeng Cintya, kuatlah untuk ketenangan jiwa anakmu."


Dengan sisa tenaga yang di milikinya Cintya mengikuti langkah Jordy, hingga ke mobil.


"Bersabarlah Cintya, kita harus segera memakamkan Yuna dengan segera." Cintya masuk ke dalam mobil, dia seperti patung yang tak bernyawa tatapannya menjadi kosong.


"Biarkan aku memangkunya Jo,"


Ucap Cintya datar.


Jojo pun mengikuti permintaan Cintya, dia sangat merasa iba dengan keadaan Cintya, dan yang di alami Yuna. Dia berjanji akan menghabisi orang yang membuat Cintya seperti itu.


* * *


Jojo membuka kedua matanya perlahan sinar mentari  begitu menyilaukan, Jojo memegangi kepalannya yang berputar2.


Dia mengambil ponsel miliknya untuk melihat jam di ponselnya, namun matanya membulat sempurna ketika melihat puluhan miscal dari Cintya, dan pesan singkat yang di terima.


Dia mengernyitkan dahinya, karena tak biasanya wanita itu menghubunginya sebanyak ini, dan dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali dia membaca pesan singkat itu.


From: Cintya.


Dimana kamu Jo? angkat telp mu.


From: Cintya.


Sial kau memang ayah yang tak bertanggung jawab, aku menyesal Yuna mengenalmu!!!!!


From: Cintya.


Bodoh angkat telp mu, di mana Yuna ? Apa dia denganmu ? Tolong angkat aku mencemaaskan Yuna.


Jojo masih tak mengerti dengan apa yang dia baca, dia masih saja mengumpulkan kesadarannya hingga dia membaca pesan yang terakhir.


Ftom : Cintya.


Datanglah ke gudang tua di belakang bukit Yuna diCulik...


Setelah membaca dia langsung bangun dan mencari keberadaan Yuna, tak perduli dengan keadaannya yang masih setengah sadar.


"Yuna, Yuna," teriak Jojo.


Tapi rumahnya terlihat sepi bahkan seperti tak ada tanda-tanda adanya kehidupan. Bahkan hari sudah mulai gelap karena dia mabuk sampai melupakan putrinya.


"Shitt..." Jojo segera menyambar kunci mobilnya dan pergi mencari Yuna, dia segera menuju ke gudang belakang bukit di maksud Cintya.


"Laurent, iya aku harus menghubunginya siapa tahu kak Laurent bersama Yuna."


Jojo menghubungi Laurent dengan perasaan yang gelisah karena dia berharap Yuna bersama Laurent, tapi sialnya kakaknya itu tak juga mengangkat telponnya.


Sudah dering ke sepuluh Laurent belun juga mengangkat telponnya, "Shitt...shitt...kenapa kakak tak mengangkat telponku." Jojo memukul stir berkali-kali.


Tanpa banyak kata JoJo mempercepat jalan nya menuju gudang tua belakang bukit, dan tak butuh waktu lama untuk Jojo sampai di sana.


Jojo berjalan cepat mencari keberadaan Yuna, yang dibantu dengan pencahayaan senter hp. Namun semua nihil tak ada siapa -siapa, apakah Cintya salah kira? Atau Cintya hanya berbohong padanya? Tapi hatinya tak bisa di bohongi dia memang merasa ada yang tak beres pada Yuna.


Jojo menelpon Cintya,


Tutt...


Tutt...


Tutt...


Namun seseorang yang berada di seberang sana tak menjawab nya, hanya terdengar isak tangis nya saja.


"Cintya...Cintya...ada apa? Apa yang terjadi? Apa kau sudah bertemu dengan Yuna?"


"Apa yang ingin kau tahu tentang Yuna? Apa hah," teriak Cintya.


Jojo yang ditanya seperti itu hanya bisa mengernyitkan dahinya, mencoba menebak-nebak apa yang terjadi padanya dan Yuna.


"Cintya katakan apa Yuna baik-baik saja," ucap Jojo.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


"Cintya," panggil Jojo.


"Kau ingin tahu keadaan Yuna? Kau memang pria brengsek, gara-gara kamu Yuna meninggal."


Klikk..


Entah ada apa tiba-tiba saja badannya terasa lemas bahkan ponselnya pun terjatuh, Jojo duduk di dalam kegelapan tak ada air mata yang keluar sedikitpun hanya tatapan kosong di matanya.


"Yunaaaaaaaaa..."


* * *


Di lain tempat seorang pria yang baru saja terbangun, dia melihat kearah samping kanannya tapi tak ada siapapun.


"Oh my good,"


Dia pun mencari dimana ponselnya di simpan, sialnya dia sudah memaksakan kehendaknya pada Cintya dengan paksa, iya dia adalah George yang lebih mementingkan kepuasannya dari pada telp si penculik.


George memukul kepalanya frustasi, dia yakin Cintya pasti akan marah padanya jika memang telpon itu benar Yuna di culik.


Cintya Caling's.


Tut...


Tut...


Tut...


"Halo,"


"Halo Cintya, dimana kau sekarang? Bagaimana keadaan Yuna? Beritahu aku akan kesana!" George bertanya tanpa sedikit jeda, karena dia takut jika Cintya  akan marah padanya.


"Ada apa Mr. George? Apa kau membutuhkan jasa layanan sex lagi." Cintya mengtakannya dengan sinis.


"Cintya apa yang kau katakan huh. Aku sangat memperdulikanmu, di mana kau sekarang aku akan menemuimu."  George mencoba berbicara lembut, karena dia lah yang salah dan terlalu egois tadi.


"Apa yang ingin kau lihat? Apa kau ingin melihat mayat anakku?" ucap Cintya dengan nada dingin dan datar.


"Sayang, apa maksudmu mayatnya? Oh tuhan maksudmu Yuna mening--"


Klik...


Belum sempat George menyelesaikan ucapannya, Cintya sudah menutup telponnya dengan kasar, "sial, sial, sial...tidak, tidak. Semua salahku jika saja aku bisa menahan nafsuku pasti Cintya tak akan marah."


George terus mengumpat merutuki kebodohannya sendiri, dia mencoba menghubungi Cintya berkali-kali namun nihil ponselnya justru di matikan.


"Sayang, dimana kau berada? Maafkan aku Cintya maafkan."


George merasa ini pasti pertanda buruk, iya pertanda tak baik bagi hubungannya dengan Cintya. Tidak dia harus bertemu dengan Cintya dan meyakinkannya agar tidak meninggalkannyaa.


"Hallo,"


"Cepat kau Cari keberadaan Cintya sekarang, di semua Rumah sakit!"


George sangat gelisah, tak tahu kenapa perasaannya sangat bingung, dan ketakutan.


* * *


"Kak, bisakah kau membawa aku pergi dari kota ini." wanita itu masih saja terisak pelan.


"Kemana kau ingin pergi, aku akan membawamu sayang."


Wanita itu masih saja terisak, menangisi kepergian putrinya iya Yuna putrinya, Untung saja bahu tempatnya bersandar cukup kuat menahan berat badannya.


"Kemanapun kak, kemanapun asal aku bisa menenangkan diriku kak."


"Pasti kakak akan membawamu pergi, maafkan kakak terlambat menemuimu. Semua karena ibu baru menceritakan tentang keluarga kita," ucap pria itu, benar pria itu adalah Jordy, pria yang selalu ada untuk nya Jordy adalah kakak kandung Cintya yang dipisahkan karena perceraian orang tuanya.


Flash back on.


"Yuna...Yuna...bangun Yuna maamah disini," Cintya kembali histeris dan mengguncang-guncangkan tubuh Yuna, "Diamlah, jangan jadi wanita cengeng Cintya dan biarkan dia istirahat, kau harus mengikhlaskannya."


"Ikhlas, kau bilang ikhlas itu tidak mungkin, kenapa anakku? Kenapa harus anakku kenapa?" tangisnya puntak bisa di bendung lagi.


"Sttt...stt...tenanglah kakak di sini," ucap Jordy sudah memeluk erat tubuh Cintya.


"Sekarang kita selesaikan pemakaman Yuna, dan kau ikutlah dengan kakak ke Inggris."


Cintya sempat mengernyitkan dahinya, menatap Jordy dengan banyak pertanyaan kakak, sedari tadi dia menyebut dirinya dengan kakak.


"Kenapa?apa yang akan kau tanyakan? Adikku."


"Iya aku kakakmu Jordy, kita di pisahka  saat kecil karena kedua orang tua kita bercerai." Jordy mencoba mengingatkan kembali, namun Cintya masih terlihat samar-samar dalam ingatann


"Ka-ka-kakak," ucap Cintya terbata-bata.


"Iya aku kakakmu Cintya, ayok kita tinggalkan semua luka mu di sini dan mulai dengan kehidupan barumu."


Flash back off.


"Yuna  maafkan mamah, lain kali mama akan menjengukmu. Kali ini mamah akan ikut dengan uncle mu, i love u sayang."