Why if I bitch

Why if I bitch
Bab 11



George Pov.


Pagi ini aku terbangun Dengan perasaan tak bisa di ungkapkan, aku terbangun dengan wanita yang menjadi patner sex ku. Bagiku ini tak biasa karena dulu aku yang selalu meninggalkan mereka sebelum pagi, dan aku selalu tidur tidak dengan satu wanita.


Tapi dengan wanita ini membuatku ingin tidur dengannya setiap saat, dan memandang wajahnya, bahkan di depan wanita ini aku tak bisa menjaga harga diriku, Entah apa keistimewaan wanita ini . tapi melihat wajah polosnya ketika tertidur membuat ku tersenyum sendiri.


Saat Cintya mulai mengeliat dan perlahan-lahan membuka matanya, membuatku berpura-pura tertidur kembali.


Aku hanya ingin tahu apa yang akan wanita ini lakukan, aku tahu jika wanita ini memperhatikanku bahkan dia menyentuh wajah ku, dan tak mengerti kenapa aku menikmatinya.


"Selamat pagi, Sayang." sapaan membuatnya terkejut, aku merasa ingin tertawa melihat wajahnya yang merona merah, melihat itu hatiku pun berdebar tak karuan.


"Apa kau akan tetap seperti ini, jangan salahkan jika aku menginginkanmu lagi." sontak saja ucapan membuyarkan lamunan Cintya, aku sadar jika kami tak memakai selembar pakain pun hanya selimut yang menitupi tubuh kami. Bersentuhan dengan Cintya membuat milikku selalu menegang.


"Hm, tidak aku akan mandi dan sarapan." Cintya pun segera meninggalkan aku, dan menuju kamar mandi, aku sangat menikmati setiap bercinta dengannya, tapi rasannya badanku masih terasa linu karena permainan kami yang sampai larut.


"Shitt, bagaimana bisa pria itu meninggalkan Kiss mark sebanyak ini." aku mendengar Cintya menggerutu hanya bisa tersenyum, rasanya sudah lama aku tak memiliki perasaan seperti ini, dia begitu menggemaskan dan lucu.


Jika pagi ini aku tak ada jadwal rapat dengan pria menyebalkan itu, sudah pasti aku tak akan meninggalkan tempat tidur ini, karena aku hanya ingin berdua dengan Cintya.


Aku memang sengaja membawa Cintya pergi bersamaku, aku tak bisa jika tak di dekat wanita itu, sungguh menggelikan seorang George begitu menginginkan wanita ini.


"Sudah selesai?" tanya ku.


"Hm, aku lapar!" Cintya memasang wajah manyunnya tapi tak tahu bagiku itu sangat imut.


Wanita ini tak pernah malu jika masalah makanan, dia bahkan memakan banyak jenis makanan di saat kita sedang berdua, dan itu yang membuatku menyukainya karena dia tulus dan apa adanya.


"Baiklah kau turunlah dulu ke cafe, nanti aku menyusul, aku takut lemak di tubuhmu berkurang dan membuatnya tak seksi lagi." lagi-lagi ucapanku membuatnya merona karena menahan malu, "Akhh, sial dia benar-benar. Cute," bisikku lirih.


"Cih, hai Tuan kau memang menyebalkan."


Setelah mengatakan itu dia pergi menuju cafe, menyenangkan menghodanya seperti itu ekspresi di wajahnya benar-benar terkadang menghibur.


Pov end.


* * * *


Setelah selesai mandi aku pun segera pergi menyusul Cintya, Cintya pasti sangat kelaparan dan aku tak ingin dia menunggu lama, namun ketika aku sampai di depan pintu Cafe. justru aku di suguhkan dengan pemandangan yang membuatku sedikit emosi, iya ternyata Cintya sedang bersama dengan seorang pria, dan yang membuatku lebih heran lagi dia bersama dengan Jordy Klien yang sangat menyebalkan.


"Cintya apa yang kau lakukan?"


"Tuan. George," jawab Cintya dengan nada sedikit terkejut.


"Selamat pagi, Tuan. George,"


"Bukankah kamu ingin makan, kenapa kamu tidak memesannya. Huh?" aku mencoba untuk tak menghiraukan ucapan Jordy, Aku sangat marah pada Jordy karena dia cepat akrab dengan Cintya, bahkan dengan Jordy Cintya tersenyum lebar.


"Hm, maaf Tn. George. Saya yang menyapa Nona Cintya lebih dulu, karena saya melihat nya datang bersama anda." ucapan Jordy semakin membuatku marah.


"Duduklah, kita makan bersama." Dengan santainya Cintya menepuk-nepuk kursi tepat di sebelahnya, Cintya meminta salah satu pelayan cafe untuk memesan makanan.


George menuruti permintaan Cintya, dia memilih duduk di antara Cintya dan Jordy. "Kamu mau pesan makan apa, Tn. George?" tanya Cintya.


"Samakan saja denganmu," jawabnya ketus.


"Anda Tn. Jordy, mau pesan makanan apa?"Tanya Cintya dengan lembut dan senyum yang selalu terhias di bibirnya.


"Samakan juga denganmu, cantik."


Cintya yang di puji menjadi salah tingkah, pria yang ada di hadapannya ini pintar membuatnya grogi.


"Ok, kali ini aku ingin makan, 3 ayam taliwang dan 3 plecing kangkung. Oh iya mba, jangan lupa juga minumnya jus jeruk ya." Cintya memesannya dengan cepat.


"Baik Nona silahkan di tunggu."


Setelah pelayan cafe pergi, kini suasana mereka bertiga menjadi sedikit canggung, membuat Cintya menjadi serba salah.


"Ehm, Tn. George. Apakah Nona Cintya ini adalah sekertaris anda?" tanya Jordy.


"Jika Nona Cintya, hanya asisten anda saya ingin mengajaknya datang ke acara pesta besok malam." Jordy tahu jika sebenarnya ada sesuatu hubungan yang di sembunyikan di antara mereka, tapi dia sudah terlanjur menginginkan wanita itu.


"Bisa," jawab Cintya yang mencairkan ketegangan di antara dua pria itu, maksud hati membuat suasana lebih baik justru semakin ruwet.


"Tidak, besok kamu pergi denganku." George mengucapkan dengan tegas.


"Aku kecewa mendengarnya Tn. George, tapi lain kali kita bisa jalan berdua bukan Nn. Cintya?"


"Tentu saja, Tn. Jordy." Cintya tersenyum ke arahnya dan itu membuat George meradang.


Bagaimana tidak George meradang, karena dia berfikir Cintya terlalu berlebihan saat tersenyum dengan Jordy. Menyebalkan sekali membuat George menggertakan giginya berkali-kali, seandainya mereka di kamar George pasti akan menghukum wanita itu dengan caranya karena sudah berani tersenyum pada pria lain.


Tapi dengan fikirannya yang seperti itu justru membuatnya tersenyum kecil sendiri, karena dia merasa seperti seorang kekasih yang posesif pada kekasihnya, Padahal Cintya hanya di anggap sebagai wanita pemuas nafsunya saja.


Setelah percakapan terakhir mereka pun menyelesaikan sarapan dan pergi dengan aktivitasnya masing-masing.


* * *


"Hallo Ci," suara di seberang sana terdengar sangat keras.


"Iya, ada apa?" tanya Cintya dengan suara yang masih terdengar serak.


"Ci, apa kamu masih tidur?"


"Hm," jawab Cintya malas.


"Oh my God jangan bilang kau hanya tidur di hotel, come on bangun dan nikmati liburanmu. Bitch!"lanjut  Dian.


"Pelankan suaramu, nanti anakku mendengarnya."


"Tenang saja, Yuna sedang di sekolah. Kau tahu dia merindukanmu," ujar Dian.


Mendengar kata-kata Dian, Cintya diam sejenak. Dia juga rindu buah hatinya, air matanya jatuh karena baru kali ini dia meninggalkan putrinya berhari-hari.


"Ci, kenapa diam saja? Katakan sesuatu. Hm,"


"Aku juga merindukannya," Cintya memggigit bibir bawahnya, dia menahan tangisnya agar tak terdengar sahabatnya itu.


"Sudah aku tutup telp mu."


"Klik."


Cintya menutup telpnya, dia sejak pagi tadi memang sedang memikirkan putri kecilnya itu. Dia berpikir pasti akan menyenangkan jika suatu saat mereka berdua berlibur disini.


"Kenapa, kamu merindukan putrimu?"


Mendengar suara itu Cintya segera menghapus air matanya, "kau cepat kembali bahkan ini baru satu jam," ujar Cintya tanpa membalas pertanyaan George.


"Iya rapatnya sangat membosankan,  lagi pula ada hal yang lebih menyenangkan di sini." George mengedipkan sebelah matanya nakal.


"No, hari ini aku sedang malas."


"Ok, malam nanti aku akan membuatmu menginginkannya."


Ting.


From: 0823 XXXX XXXX


Nona Cici bisakah besok kita makan siang bersama, aku tunggu di cafe.


Jordy.


Maaaf banget lama ya, maaf juga kalo ceritanya gak jelas .


Jangan lupa vote and  coment