
Jeni terbangun lagi entah sudah berapa lama dia menangis, beberapa jam lalu dia sudah sepenuhnya sadar dan mengingat kembali siapa dirinya, Mark yang terus disamping wanita itu hanya bisa menenangkannya.
Mark masih saja tersenyum lembut sembari menggenggam erat tangan wanita itu, "Makan lah sedikit kau membutuhkan tenaga untuk memarahi kakakmu juga si **** seperti Tuan, Hardvas."
"Mark maafkan aku sepertinya pertunangan ini harus dibatalkan," Jeni merasa bersalah, "karena aku sudah menemukan pria yang ada di hatiku dan harus bertanggung jawab atas semua masalah ini." Lanjut Jeni lirih.
"Tenang saja aku akan menerima nya, bukan kah sudah aku katakan, kau memang cantik, seksi, tapi kau bukan tipeku." Mark mengacak pelan rambut Jeni, sebenarnya dia sudah memiliki sedikit perasaan pada Jeni, namun dia tak ingin membebani Jeni dengan perasaan miliknya, baginya kini kebahagiaan Jeni adalah segalanya.
"Aku sudah sadar siapa aku sebenarnya, Cintya, iya Cintya itu namaku." Jeni mulai ingat masa lalunya yang begitu kelam, dan tentu saja dia juga ingat dengan putri kecilnya yang lucu.
"Dengarkan aku walau kisah kita hanya ditulis dalam beberapa adegan, oleh sang penulis kehidupan. Ingat kata-kata ku kau adalah wanita hebat yang aku kenal." Mark menepuk tangan Jeni guna memberikan support.
"Bukankah penulis sangat kejam menulis Cerita tentang ku dengan sangat kejam, membuat ku lupa ingatan, dan kini harus merasakan sakit lagi." Jeni diam beberapa saat kedua matanya menatap sendu ke arah Mark
"Kenapa penulis tidak menjodohkan ku dengan kamu Mark, yang akan menjadi masa depanku? Justru aku harus terbangun kembali di masa lalu." Air matanya jatuh tak dapat dia bendung lagi, menyesakkan sekaligus menenangkan ketika dia mengetahui siapa dirinya, dan masa lalunya.
Kini dia ingin hidup sebagai diri nya sendiri, iya Cintya namanya, dan akan terus menjadi namanya.
"Cintya nama yang bagus, jika aku mengenal sejak dulu aku yang akan menjadi suami mu."
Jeni hanya tersenyum Mark ternyata Tak semenyebalkan itu, dia sangat hangat tapi tetap saja hatinya lebih memilih George.
"Thank you Mark sudah memanggil ku Cintya."
Tok...Tok...Tokk
"HM... Masuk!" Mark memberikan perintah agar si pengeruk pintu masuk.
Ckrekkk...
Mark membulatkan kedua matanya melihat siapa yang datang, "Ada perlu apa anda datang ke sini Mr. George?" Mark menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Jeni, uhm.. Cintya aku ingin berbicara dengan mu." George nampak terlihat sangat hati-hati ketika berbicara pada Cintya, dia hanya ingin berbicara secara dewasa.
"Bicaralah!" Perintah Jeni.
"Aku hanya ingin bicara berdua denganmu Cintya,"
Mendengar nama masa lalunya di panggil membuat hatinya merasakan sesuatu yang sejak lama dia rindukan.
"Mark bisakah kau tinggalkan kami?" Pinta Jeni.
"Baiklah...aku akan memberikan nya kesempatan, teriak jika dia menyakiti mu." Mark melirik tajam kearah George.
Mark meninggalkan mereka, "jangan pernah sakiti Jeni lagi."ancam Mark.
George berjalan mendekati tempat tidur Jeni, dia menatap lama wajah Jeni, George tersenyum bahagia bisa sedekat ini menatap Cintanya.
"Apa yang mau kau katakan?" Tanya nya sinis.
"Kau semakin cantik, aku sangat merindukanmu." George memeluk tubuh Jeni dengan erat, seakan sedang mencurahkan rasa rindu yang selama ini terpendam lama.
"Lepaskan aku, Geo."
George yang mendengar nama dipanggil terkejut, "ingatan mu sudah kembali, Cintya."
Pria itu meneteskan air matanya, dia sangat berterima kasih karena ingatan Jeni sudah kembali.
"Iya ingatan ku sudah kembali, apa maumu sekarang?"
"Menikah lah dengan ku," George memohon pada Jeni, dia berlutut di bawah ranjang Jeni.
"Apa kau tak punya Malu, sedangkan kau tahu Yuna meninggal karena mu." Jeni nampak berkaca-kaca dia ingin menangis sekencang-kencang nya, dan menyalahkan George agar pria itu tahu dan juga merasa bersalah selamanya.
"Jahat... jahat...kau jahat Geo."
"Aku akan selalu membencimu, dan aku ingin kau merasakan sakit di hati ini."
"Bagaimana cara ku meminta maaf padamu! Cintya."
Wanita itu diam sejenak, seakan sedang berfikir bagaimana cara membalas pria ini.
"Menikah lah dengan ku!" Ucap Jeni dengan lantang nya.
"Aku akan menikahi mu, karena itu memang mimpi ku Cintya."
Jeni menoleh dengan tatapan dingin ke arah George, bagaimana mungkin pria itu dengan mudah ingin menikahinya.
"Jika kau sudah menyetujui nya, kau tak akan bisa mundur lagi karena aku ingin kau merasakan semua kesedihan ku."
"Aku akan menerima semua asalkan kau memaafkan ku dan mau menikah denganku, aku ingin membahagiakan mu dan, membahagiakan Yuna di sana."
Jeni sebenarnya hanya ingin menggertak saja agar pria itu perlahan mundur, tapi prediksi Jeni salah pria itu justru menerima tawarannya tanpa penolakan.
"Siapkan pernikahan kita besok, dan harus tercatat di catatan sipil, karena aku tak mau kehilangan harta mu, balik semua surat-surat penting mu, perusahaan, rumah, tanah, dan kendaraan menjadi atas mamaku."
"Benarkah, baiklah aku akan mengurus semuanya, pernikahan kita, dan semua aset pribadi milikku yang akan jadi milikmu."
Entah siapa yang bodoh disini Kinanti kah yang tak mau mengakui perasaannya, ataukah George yang mencintai nya dengan buta. "Jangan pergi ke manapun tetap disini, aku akan mempersiapkan semuanya," lanjut George, dia pun pergi dengan senyum yang mengembang lebar.
"Rendi, panggil pengacara ku segera dan, siapkan semua dokumen lengkap Cintya dan saya, segera daftarkan ke catatan sipil. lakukan sekarang!" George memerintah kan Rendi tanpa henti, baginya sudah tak ada waktu untuk bersantai, dia ingin segera bersatu dengan Cintya.
"Baik Tuan, saya akan segera membereskan semuanya." Rendi pergi meninggalkan hotel tempat George menginap.
* * *
"Apa kau gila Jeni, aku mengganti identitas mu semua demi kebaikan mu." Jordan tampak marah.
"Kak sudah aku katakan biarkan aku dan George yang menyelesaikan, rasa sakitku juga rasa sakitnya kak. Dia memendam rasa bersalah bertahun-tahun, dan memang tak seharusnya aku menyalahkan nya atas kematian Yuna." Jeni mulai berkaca-kaca.
"Tapi jika **** itu tidak mementingkan nafsunya, mungkin Yuna masih hidup." Emosi Jordan meluap kembali.
Jessica yang melihat kakak beradik itu bertengkar pun hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, "Jeni sudah dewasa biarkan dia memilih jalannya sendiri dan kebahagiaan nya. Lagi pula kau juga harus segera menikahiku karena jika kau menunda lagi, aku yang akan pergi" Ucap Jessica dengan santai.
Dan ucapan Jessica berhasil menghentikan pertengkaran mereka, Jeni hanya bisa tersenyum mendengar itu, berbeda dengan Jordan yang langsung menghampiri Jessica.
"Aku pasti akan menikahi mu, jadi bersabar sebentar saja." Jordan menggenggam erat tangan Jessica dan menciumnya lembut.
"Maka izinkan saja Jeni menikahi pria ini, karena aku tak mau menjadi perawan tua."
Di masih saja terdiam, entah apa yang ada dalam pikirannya.
"Baiklah jika di serius, suruh George menemuiku malam ini di apartemen." Jordan menatap adiknya kembali.
"Baik kak,"
George masih saja sibuk mempersiapkan semua keperluan untuk acara pernikahan besok di kantor catatan sipil, George masih bersyukur karena Cintya mau menikah dengannya.
Rendi pun akhirnya bisa ikut tersenyum lega, dia bersyukur jika kisah cinta Tuannya Happy ending.
"Rendi bagaimana apa semua sudah siap berkas pernikahannya, dan gedungnya?"
"Sudah Tuan, tapi---,"
Sepertinya cerita ini akan tamat beberapa part lagi, maaf jika Cerita ku tak menarik happy ya😃😃😃